Ustadz Shomad dan Larangan Melucu bagi Da’i


Akhir-akhir ini saya membaca banyak sekali kritikan-kritikan pedas  yang ditujukan kepada penceramah kondang Ust. Abd. Shomad, Lc, MA yang  ceramahnya kerapkali viral di media sosial saat ini. Kritikan tersebut  mulai dengan surat terbuka untuk Ustadz Abd. Shomad sampai kasak kusuk  menteri Agama yang akan mencoba membuat himbauan (peraturan agar) isi  ceramah para dai tidak berisi banyak guyonan dan lawakan—terlepas wacana  ini benar adanya atau hanyalah isu Wallahu A’lam.

Bila saya amati ini bukan kali pertama beliau mendapatkan kritikan,  sejauh yang saya baca ada banyak kalangan yang secara terang-terangan  bahkan menyindir beliau ini sebagai “Sufi”. Namun, pelabelan sufi atas  beliau karena sepakat terhadap “Maulid Nabi” ini lebih bernada  merendahkan ketika dijelaskan kembali bahwa “sufi” merupakan golongan  yang sesat.

Banyak soal mesti ditimbang ulang, kritik adalah sesuatu yang wajar.  Pengucapan atas rasa benci atau suka akan sesuatu adalah hal yang sangat  manusiawi dan sangat mungkin disandang oleh semua orang. Kita tak perlu  terlalu cemas atau terlalu kalut ketika kecintaan dan kebenciaan  seseorang, tak sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Kita merupakan  hamba yang nisbi, yang musykil merengkuh segala pengetahuan atas segala  sesuatu.

Baca Juga:   Evolusi Dakwah: Era Rasulullah hingga Teknologi Informasi

Sebagai salah satu pemerhati dunia dakwah saya dapat memaklumi bahwa  kondisi semacam ini bisa melanda siapapun, terutama kepada mereka yang  memiliki lompatan popularitas luar biasa dibandingkan para  pendahulunya—terlebih dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Namun  semua itu dilatar belakangi juga oleh ilmu agama yg mumpuni dari Ustadz  Abd. Shomad, banyaknya literatur kitabnya, penampilannya yang sederhana,  bahasanya mudah dicerna semua kalangan dan kelebihan yang paling  kentara adalah beliau punya selera humor yang terbilang tinggi.

somad-3.jpg

Namun, terlepas dari kelebihan-kelebihan yang melekat pada beliau .  Menanggapi santernya kritikan terhadap beliau, sebagai suatu usul dan  saran kepada para pecinta sekaligus fans berat Ustadz Abd. Shomad, bila  ustadz atau da’i idolanya dikritik sebelum menggunakan emosi ada baiknya  mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

Baca Juga:   Pemimpin dan Keseimbangan: Meneladani Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA

Pertama, Tak ada gading yang tak retak.  Begitu pun manusia, tidak ada yg sempurna. Jangankan sekelas ustad atau  kiai, manusia paling mulia pun yakni Nabi Muhammad tak pernah luput dan  sepi dari kritikan. Kata Dorce Gamalama; “kesalahan milik kita dan kesempurnaa hanyalah milik Allah”.

Kritik boleh, namun semata juga mesti disertai dengan niatnya:

و تواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

Kedua,  Kita juga mesti menyadari bahwa  dapat menjadi cocok kepada selera semua orang itu tidak mungkin.  Kerelaan dan ridhanya manusia itu bagaikan puncak gunung yang tingginya  tak terukur.  Maka siapa saja ketika melakukan kebaikan tujuannya ingin  cocok untuk selera semua orang maka orang tersebut akan sia-sia usahanya  . Oleh sebab itu Imam Syafi’i memberi wejangan kepad Robi’:

رضا الناس غاية لا تدرك فعليك بما يصلحك فالزمه
فإنه لا سبيل إلى رضاهم

Kerelaan manusia punya yang tak akan terjangkau/maka lakukan apa  yang menurutmu baik –jangan  hiraukan kata-kata orang/karena tidak akan  ada jalan yang bisa mengantarkan kepada kerelaan semua manusia.

Ketiga, bisa jadi kritikan silih berganti  datang kepada beliau semata-mata kehendak Allah yang ingin mengantarkan  beliau menjadi sosok kiai yang akan lebih baik dan bijaksana. Dengan  adanya kritikan Ust Abd Shomad akan semakin berhati-hati dan semakin  rajin belajar dari semua sumber.

Baca Juga:   Revolusi Media (Sosial) dan Legitimasi Keulamaan

Keempat, kritikan ini saya berharap akan menjadikan karier dan derajat beliau  semakin berkilau dan saya yakin  para pengkritiknya berbuat seperti itu  karena sayang kepada agama dan kepada Ustadz tercinta Abd. Shomad.

أصلح نفسك يصلح لك الناس
Perbaiki dirimu maka manusia akan baik kepadamu

Kelima, saya mohon maaf yg sebesar besarnya karena saya sudah menjadi (seakan) terlalu banyak tahu…

 أستغفر الله من قول بلا عمل

Padepokan  Karanganyar, Pamekasan

BERIKAN KOMENTAR

M Musleh Adnan
Muballigh Madura yang kini menetap di Pamekasan. Disayang dan menyayangi masyarakatnya.

Ustadz Shomad dan Larangan Melucu bagi Da’i

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF