Tulisanmu Harimaumu

Maka, jagalah tulisan sebagaimana kamu menjaga mulut dari ghibah (ngerasani orang) dan lain-lain. Janganlah menulis sesuatu yang haram bila diucapkan mulut.


Kalau dulu kita akrab dengan ujaran “Mulutmu Harimaumu” yang awalnya muncul dari iklan penyedia layanan telekomunikasi, maka belakangan, ketika berbagai informasi bisa diakses hanya melalui lentik jari, bahasa lisan perlahan tereduksi dengan bahasa tulis. Keadaanpun berubah. Semula, yang harus benar-benar kita jaga adalah dua lubang sempit atas-bawah yakni mulut dan kemaluan, akan tetapi saat ini, jari jemari sudah ‘beralih’ fungsi menjadi mulut sehingga gara-gara tulisan, tak sedikit orang yang harus masuk bui. Karenanya, tak salah jika kita mulai beralih pada istilah baru, yakni “TULISANMU HARIMAUMU”.

Jawa Pos baru-baru ini mewartakan Rio Yoga Pratama yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres jember. Remaja putus sekolah asal Desa Suren, Kecamatan Ledokombo tersebut dinilai telah menebarkan ujaran kebencian di group WhatsApp dan diduga kuat mengadu domba dua perguruan silat (10/01/18). Undang-undang yang dipakai penegak hukum untuk menjerat para pelaku ujaran kebencian seperti Rio adalah UU nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE. Pasal tersebut mengancam pelakunya dengan hukuman kurungan paling lama 6 tahun atau denda paling banyak Rp. 1 Miliar.

Apa yang menimpa Rio ini mengingatkan penulis pada perkataan Imam Dzun Nun Al-Mishri berikut ini; 

قال الإمام ذو النون المصري رحمه الله :
وما من كاتب إلاسيبلى#
و يبقي الدهرما كتبت يداه
فلا تكتب بيمينك غيرشىء #
يسرك في القيامة أن تراه

Baca Juga:   Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak

Dengan arti kira-kira demikian; Penulis pasti mati, tapi tulisannya tak akan pernah lenyap ditelan masa. Maka janganlah kamu menulis sesuatu kecuali tulisan yang akan membahagiakanmu pada hari kiamat nanti.

Dijelaskan dalam dictionary.com bahwa yang dimaksud ujaran kebencian adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.

Sementara itu, dalam pandangan agama, ujaran kebencian ternyata tak luput dari perhatian. Ini misalnya tampak dalam hadis yang diriwayatkan Jabir—semoga Allah meridhainya—berikut; 

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِالثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaknya. Adapun orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak adalah yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?” Beliau menjawab: ”Orang yang sombong.” 

Baca Juga:   Mendidik Berlandaskan Tauhid: Meneladani Luqman Sang Pendidik Sejati

[HR at Tirmidzi, ia berkata: “Hadits ini hasan”. Hadits ini dishahihkan oleh al Albani dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2018]

Tsartsarun (الثَّرْثَارُونَ) adalah mereka yang suka mengucapkan omongan yang menyimpang dari kebenaran, sedang mutasyaddiqun (الْمُتَشَدِّقُونَ) adalah golongan yang suka meremehkan orang lain dan berbicara penuh lagak untuk menunjukkan kefasihannya serta bangga dengan perkataannya sendiri. Sementara itu, الْمُتَفَيْهِقُونَ (mutafaihiqun) berasal dari kata al fahq yang berarti penuh. Maksudnya adalah  seseorang yang berbicara keras, panjang-lebar, disertai perasaan sombong dan pongah, serta menggunakan kata-kata asing untuk menunjukkan seolah dirinya lebih hebat dibanding yang lainnya.

Dalam konteks ini, ketiga kategori yang disebut hadis di atas berarti mereka yang suka menulis kata-kata kasar, pongah, meremehkan, menyimpang, sombong dan kriteria lain sebagaimana tersebut ketika bersosial media atau berselancar di dunia maya. Selain itu, ada juga ungkapan yang cukup mengena pada pokok persoalan berikut; 

– ومنهاكتابة ما يحرم النطق به قال في البدايةلأن القلم أحد اللسانين فاحفظه عما يجب حفظاللسان منه اي  من غيبة وغيرها فلا يكتب ما يحرم النطق به من جميع ما مرمن جرم –إسعاد الرفيق 2/105

“Termasuk maksiat yang dilakukan oleh tangan adalah menulis apa yang diharamkan (untuk) diucapkan, karena tulisan termasuk salah satu dari dua lisan. Maka, jagalah tulisan sebagaimana kamu menjaga mulut dari ghibah (ngerasani orang) dan lain-lain. Janganlah menulis sesuatu yang haram bila diucapkan mulut”. (Is’ad al-Rafiiq Juz 2 hal 105).

Baca Juga:   KH. Hasyim Zaini: Meneladani Kasih Sayang Nabi

***

Jika diamati, seringkali pelaku ujaran kebencian atau yang juga populer dengan istilah hate speech ini adalah kaum muda. Selain Rio, ada juga Pandu Wijaya yang ‘sempat’ menghina Gus Mus di akun Twitter-nya. Ada pula, dalam kasus terbaru, pemilik akun Facebook atas nama Eno Wijaya yang diringkus Polres Situbondo karena dianggap menghina Pengasuh PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo, KH. R. Azaim Ibrahimi. Kita semua tentu mengelus dada dan bertanya- tanya, apa dengan pemuda saat ini? Siapapun yang pernah muda tentu memahami bagaimana karakteristik seorang pemuda yang gemar tampil beda dengan yang lain, berpenampilan slenge’an (cuek), hidung dan telinganya ditindik, rambut warna warni dan lain sebagainya.

Kurang lebih, itu pulalah yang tergambar dalam ungkapan Arab berikut;

الشباب شعبة من الجنون

“Pemuda itu memiliki cabang sifat kegilaan”.

Tapi, apakah kita akan membiarkan mereka begitu saja?

Tentu saja tidak demikian. Kita sebagai orang yang yang lebih dulu hidup dan lebih lama merasakan manis dan getirnya kehidupan harus berusaha berbaur dengan mereka sembari perlahan-lahan mengarahkan mereka pada kegiatan yang lebih positif.

BERIKAN KOMENTAR

M Musleh Adnan
Muballigh Madura yang kini menetap di Pamekasan. Disayang dan menyayangi masyarakatnya.

Tulisanmu Harimaumu

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF