Tragedi Politik, Tragedi Spiritual

“Aku tidak berminat membebaskan India hanya dari belenggu Inggris. Aku ingin membebaskan India dari belenggu apapun."


Ketika India dilanda perpecahan dan konflik yang tak terbendung antara penduduk Hindu-Muslim, Ghandi, justru menyebut persitiwa ini sebagai “Tragedi Spiritual”. Bukan hanya karena konflik itu terjadi antara penganut Hindu dan Muslim, bagi Ghandi, ini juga berkenaan dengan “penyucian diri” (Swaraj) yang berkait erat dengan “pemerintahan diri” pada setiap masyarakat India.

“Aku tidak berminat membebaskan India hanya dari belenggu Inggris. Aku ingin membebaskan India dari belenggu apapun. Aku tidak berkeinginan menggantikan harimau dengan singa!” Kata Ghandi.

Semenjak awal Ghandi menyadari, melepas India dari jajahan Inggris hanyalah pintu gerbang awal menuju pembebasan India yang sejati. Lebih dari itu, bagi Ghandi, terciptanya suatu tatanan masyarakat yang damai dan merdeka, terlebih dahulu dan mendasar adalah soal “pengendalian diri” setiap warga negaranya untuk menghargai perbedaan, tak memaksakan kehendak dan pencapaian tujuan tanpa kekerasan ataupun pemaksaan kehendak (Ahimsa).

Banyak dari kita mungkin mengira salah satu cara penghentian konflik yang dilakukan Ghandi dengan cara berpuasa adalah hal yang tak berhubungan langsung dengan sistem sosial yang sedang diwarnai konflik dan ketegangan. Tapi bagi Ghandi, hal ini justru hal yang sangat terkait langsung. India justru baru saja lepas dari cengkraman Inggris ketika konflik Hindu-Muslim mulai berkobar. Pukulan besar bagi Ghandi yang ingin mempersatukan India dan membangun mentalitas warganya.

Ghandi menyadari, walau konflik terjadi antara dua penganut agama, pada dasarnya kekuasaan duniawiyah yang disengketakan. Konflik sosial yang terjadi dimulai dari suatu upaya pemaksaan kehendak atas apa yang dianggap benar, yang diliputi ego komunal dan kebencian. Dengan menyebutnya sebagai “Tragedi Spiritual” Ghandi seakan melihat lebih dalam ke batin masyarakat India, seakan ia ingin mengatakan, dalam tafsir saya:

“Hentikanlah nafsumu! Puasakanlah Egomu! Kita baru saja lepas dari jajahan Inggris kau justru membuat perseteruan baru, menumpahkan darah sesamamu untuk apa yang menurutmu untuk agamamu. Jangan kau ganti Harimau dengan singa dalam dirimu!”

Namun Ghandi tetaplah Ghandi. Ia tak berbicara sebelum ia sendiri melakukannya. Baginya, “mengetahui adalah melaksanakan”, ia tak bicara banyak untuk melakukan pemurnian diri ketika konflik politik telah menyeret konflik agama, untuk melakukan pemurnian diri, ia pun hanya berungkali berpuasa dan berpuasa.

Sampai suatu pagi, ia mati ditembak oleh seorang penganut Hindu fanatik. Sebelum kematiannya apa yang terucap dari mulutnya yang tersenyum adalah “O Rama” (Tuhan). Ghandi mungkin bukan tak menyadari, bahwa terkadang dunia bukanlah tempat yang baik bagi yang murni.

Dua hari sebelum wafatnya ia berkata kepada Rajkumari “Apabila aku harus mati akibat peluru seorang gila, aku harus menjalaninya dengan tersenyum. Tidak boleh ada kemarahan dalam diriku. Tuhanlah yang mesti bersemayam dalam hatiku dan pada bibirku. Anda harus berjanji untuk tidak menitikkan airmata setetes pun”.

Sampai di sini kita belajar bahwa kemenangan akan menjadi bencana, apabila darinya kita tumbuhkan kesombongan, keangkuhan dan kerakusan. Fanatisme komunal, peledakan ego dan kepenntingan golongan akan menggeser sifat toleransi di sudut yang paling tak terjangkau.

Pada mulanya kita merasa tak ada hubungannya kesombongan kecil dalam diri dengan pusaran sosial di sekitar kita, namun perlahan dan pasti kesombongan layaknya api yang pelan-pelan membakar habis pohonan!

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Pegiat budaya. Menulis esai dan catatan lepas serta semacam puisi. Sesekali juga melukis. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Tragedi Politik, Tragedi Spiritual

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF