Tragedi Lapindo Peringatan Atas Keserakahan Manusia

Bagaimanapun suara-suara perlawanan tidak akan berhenti, sampai kapan pun hingga keadilan ditegakkan.


01-05-38-p_20170526-023443-7154-11.tahun_.lumpur.lapindo-1.jpeg

11 tahun telah berlalu, kini tempat tinggal warga Porong tidak lagi berupa rumah, namun berupa hamparan lautan lumpur yang luas. Tragedi yang diklaim oleh pemerintah sebagai akibat bencana alam ini, menghabisi ruang hidup warga 3 kecamatan dan 16 desa di Kabupaten Sidoarjo. Bencana tersebut meninggalkan duka yang mendalam, akibat keserakahan manusia tanah kelahiran terampas, tercerabut, tergenang oleh lautan lumpur.

Kejadian melubernya lumpur bercampur minyak dan gas tersebut menjadi bukti, bagaimana perampasan ruang hidup yang telah dilakukan oleh korporasi tambang telah menyakiti ratusan hati manusia. Pemerintah tak berdaya, kebingungan menyelesaikannya. Kredibilitas dipertaruhkan akibat tidak melihatnya faktor resiko, terutama ketika memberikan Izin Usaha Pertambangan. Sehingga mengorbankan banyak hak kehidupan warga sekitar lumpur Lapindo.

Pada Senin 29 Mei 2017 (beberapa bulan yang lalu) warga secara kolektif mengadakan peringatan atas tragedi kelam tersebut. Secara monumental warga mengadakan peringatan  “11 tahun lumpur Lapindo: Hentikan industri tambang, pulihkan kehidupan warga” di taman Dwarakarta Porong, Sidorajo.  Peringatan ini dihadiri oleh beberapa elemen termasuk akademisi, warga daerah yang bersolidaritas dan perwakilan pemerintah daerah.

Mereka semua mendiskusikan kembali perihal tragedi ini, bagaimana hak warga yang telah terampas bisa kembali. Jikalau pemerintah membayar ganti rugi, mereka menuntut hak atas lingkungan yang sehat dan menagih pemerintah serta korporasi untuk memulihkan hidup mereka. 

Bukan perkara materi, atau menuntut hal yang mustahil dikembalikan seutuhnya. Namun ini bentuk pertanggung jawaban pemerintah dan korporasi, atas tindakannya yang menciptakan bencana. Mencerabut secara bernas hak hidup warga, seperti kebahagiaan dan kenangan atas tanah leluhur mereka.

Hisyam salah seorang pemuda korban lumpur, terlihat sangat antusias mengikuti peringatan. Dalam benaknya hanya ingin lingkungannya kembali seperti semula, kenangan lapangan kampung yang kerap dipakai untuk bermain bola, atau sekedar bersenda gurau yang kini rata oleh luberan lumpur. Berbeda dengan Eko teman Hisyam, dia tampak mondar-mandir untuk mempersiapkan acara peringatan bersama warga yang lainnya. Mereka secara gotong royong mengadakan acara ini, saling membagi tugas satu sama lainnya.

“Ya warga membagi tugas, ada yang ikut acara dan juga mempersiapkan buat konsumsi. Semuanya mendapatkan tugasnya masing-masing. Ini merupakan peringatan penting, untuk menunjukan kepada mereka. Kami ini korban atas keserakahan manusia, mereka yang mau menang sendiri.” kata Eko salah satu warga korban lumpur.

Baca Juga:   Ashtiname, Prasasti Perdamaian Rasulullah (Bagian 1)

Dalam peringatan tersebut, diskusi antara warga dan hadirin baik dari akademisi hingga elemen pemerintah daerah, membahas terkait persoalan lumpur Lapindo yang berlarut-larut, tidak hanya sekedar persoalan ganti rugi yang hingga hari masih menyisakan polemik. Namun juga mengungkapkan terkait dampak sosial ekologis. Selain itu ada masalah kesehatan warga, baik fisik maupun psikis, menjadi bukti bahwasanya lingkungan telah mengalami kerusakan yang cukup serius.

Monumen Lapindo Saksi Bisu Kepedihan

cindymutiaannur_Bb3jeKTD93S.jpg

Pasca pendiskusian yang berlangsung sejak sore hari hingga menjelang malam, para warga kemudian melakukan aksi long march dari taman Dwarakarta menuju tanggul lumpur. Dengan membawa obor mereka berjalan kira-kira satu kilometer dari tempat pendiskusian kasus. Kurang lebih puluhan warga berjalan beriringan, disertai sholawat dan teriakan kekecewaan cukup membuat riuh selama perjalanan.

“Allahuma Sholli Ala Muhammad, 11 tahun kami terusir oleh Lapindo, kehilangan kehidupan kami,” teriak salah seorang warga korban terdampak lumpur panas.

Perjalanan berlangsung tertib dan hikmat, terasa sangat sakral dan penuh emosi atas apa yang mereka rasakan selama ini. Sesampainya di tanggul pada pukul 20.00 WIB, para warga bergotong royong menyiapkan acara selanjutnya. Tampak beberapa warga ada yang menyiapkan proyektor, pengeras suara dan konsumsi. Kolektivitas mereka tetap terjaga, diselingi canda tawa sesama warga ditengah musibah yang mereka alami, selama bertahun-tahun. Sepintas tak tampak raut muka kesedihan, namun sejatinya secara psikis mereka mengalami duka yang mendalam.

Film yang diputar berisi tentang dokumentasi selama lumpur menerjang desa-desa terdampak, menjadi saksi bisu kekejaman perampasan ruang hidup yang dilakukan oleh korporasi tambang. Mereka dengan khidmat menonton film yang diputarkan, sembari diantara mereka ada yang berbincang-bincang mengenang tragedi yang memilukan tersebut.

Baca Juga:   Adakah Seni Preeet? Karena Preeet adalah Preeet itu sendiri!

“Kami tidak akan pernah lupa, bagaimana tanah kelahiran harus terendam lumpur. Di sana kami dibesarkan, tempat leluhur dan mencari nafkah. Bagaimana dengan masa depan mereka kelak, semua impian hilang begitu saja dengan keegoisan Lapindo,” Kata Pak Rokhim salah satu warga terdampak lumpur panas.

Pelanggaran HAM Atas Kasus Lumpur Lapindo

01-06-46-lumpur-lapindo-di-kabupaten-sidoarjo-jawa-timur_20161018_221102.jpg

Laporan khusus Kompas pada 15 Juni 2016, dalam tajuk berjudul “10 tahun Lapindo, Bencana dan Keberuntungan,” yang mengungkapkan jika secara statistik total korban lumpur di dalam peta  dan di luar peta sebanyak 90.000 jiwa, harus rela terusir dari rumahnya.

Tidak hanya soal tanah, namun lingkungan yang sehat juga terampas. Hal ini didukung oleh hasil kajian dari Walhi Jatim tahun 2016, yang mengungkapkan jika kondisi lingkungan sekitar area Lapindo berada di level yang cukup memprihatinkan.

Kandungan logam berat berupa timbal dan kadmium ditemukan, berada di atas level yang diperbolehkan di dalam lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat di dalam air dan tubuh ikan, pada area sepanjang sungai Porong yang berhilir di laut selat Madura. Kondisi tersebut terjadi akibat buangan lumpur Lapindo, yang dialirkan ke sungai menuju laut, dengan tujuan untuk mengurangi beban di dalam kolam penampungan lumpur.

Persoalan banyaknya warga yang kehilangan rumah dan lingkungan yang sehat, menjadi bukti jika lumpur Lapindo tidak hanya merusak lingkungan, namun juga melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Di mana semua fakta yang terungkap sangat bertentangan dengan UUD tahun 1945 pasal 28, terutama secara spesifik dalam poin 28A dan 28H.

Baca Juga:   Jalan Ini, Jalan Puisi Seorang Kiai

Pasal 28 A, tertulis jika, setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Kemudian dipertegas dalam pasal 28H, yang tertulis jika:

(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.

(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.

(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.

Secara konstitusi hak warga dijamin oleh Negara sebagai representasi dari rakyat, namun hal tersebut diingkari oleh pemangku dan pelaksana konstitusi itu sendiri, dalam hal ini pemerintah yang berkuasa. Sejalan dengan hak warga yang terampas, beberapa kawan-kawan seniman juga turut bersolidaritas. Mereka memainkan lagu-lagu dengan lirik kritis, seperti darah juang, buruh tani yang dipopulerkan oleh Marjinal, serta beberapa lagu yang menyuarakan keadilan atas tragedi lumpur Lapindo.

11 tahun berlalu dengan cepat, sementara hak-hak mereka masih terampas. Peringatan luapan lumpur Lapindo yang melahap berhektar-hektar lahan, serta menimbulkan permasalahan seperti ekonomi, sosial, kesehatan dan lingkungan, tidak akan berhenti sampai di sini. Bagaimanapun suara-suara perlawanan tidak akan berhenti, sampai kapanpun hingga keadilan ditegakkan.

Tragedi lumpur Lapindo menjadi sebuah peristiwa yang kontemplatif, menyerukan bagi kita semua untuk tetap berjuang menyuarakan keadilan. Sudah seharusnya kita sadar, bahwa industri ekstraktif hanya akan membawa petaka bagi umat manusia, karena apa yang diambil dari alam tak sebanding dengan mahalnya kehidupan.

BERIKAN KOMENTAR

Wahyu Eka Setiyawan
Nahdliyin garis lucu, Gus Dur-ian garis imut, marhaenis ganteng. Anak pantai asal Tuban

Tragedi Lapindo Peringatan Atas Keserakahan Manusia

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF