Tiada Kata “Terlalu Dini” dalam Mendidik Anak: Meneladani Kisah Hannah dan Keluarga Imron


Sebagai orang tua sering muncul pertanyaan di benak kita, kapan  seharusnya mendidik anak dimulai? Saat anak berumur 2 tahun, 3 tahun  atau lebih awal lagi saat anak kita masih sangat balita?

Pertanyaan di  atas muncul tak lain karena kita masih meyakini mendidik anak hanya bagaimana menyampaikan maklumat, memerintah dan melarang melakukan sesuatu serta seterusnya. Kita belum lagi yakin bahwa mendidik anak  sejatinya mendidik diri sendiri.

Buktinya, selama ini terlalu  awal mendidik anak hanyalah kata yang disematkan bagi orang tua yang menerapkan pendidik anak sedini mungkin. Mereka mendidik dengan penerapan berbagai disiplin untuk dirinya atau untuk anaknya. Orang tua  dengan tipe tersebut mungkin akan dicap  terlalu awal mendidik anak  karena anak-anak adalah masa dimana mereka bermain.

Benarkah  terlalu dini? Bagaimana Islam mengajarkan kita kapan seharusnya mendidik  anak dimulai? Mungkinkah mendidik anak adalah sebuah proses yang  tidak ada kata terlalu awal. Bahkan lebih awal justru lebih baik lagi?

Meneladani Hannah Istri Imron dalam Mendidik Maryam

Sebuah keluarga yang sangat mulia dikisahkan dalam Al-Quran. Keluarga mulia yang menghasilkan keturunan mulia. Tidak saja anak yang mulia tapi  hingga ke cucu yang mulia. Pesan utama yang ingin disampaikan Al-Quran dalam kisah ini  adalah bagaimana pembentukan keluarga merupakan sebuah proses yang panjang hingga akhirnya menerima dan dianugerahi kemuliaan.

Kisah tersebut adalah kisah keluarga Imron dengan kisah perempuan luar biasa yang tak lain adalah Hannah, Istri Imron. Dikisahkan bagaimana perjuangan Hannah untuk  mendapatkan keturunan. Lebih dari itu, Al-Quran menceritakan proses  mendidik anak adalah proses yang tak mengenal kata terlalu cepat atau terlalu dini.

Baca Juga:   Istiqamah Mendidik dalam Segala Situasi

Dalam surah Ali Imron ayat 35-37, Al-Quran menceritakan  bagaimana Hannah memulai proses mendidik anak dilakukan sedari awal mulai berkeinginan  agar dikaruniai seorang anak. Hannah dan sang suami selalu berusaha memperbaiki  diri dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beribadah dengan rajin dan berdoa dengan tekun itulah gambaran usaha Hannah untuk  memiliki keturuan yang baik dan mulia kelak di kemudian hari.

Hannah menyadari bahwa  mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri sendiri. Artinya, mendidik anak adalah mendidik diri kita sendiri sebagai orang tua untuk menjadi teladan bagi anak kita  serta menempa kesabaran diri dalam mengajarkan kebaikan.

Setelah  mendekatkan diri kepada Allah SWT, Hannah mendapatkan hasilnya. Hannah  mengandung seorang bayi suci. Hannah kembali lebih dekat lagi dengan Allah SWT, bahkan sebagai bentuk syukurnya Hannah memiliki cita-cita  suci dengan bernadzar, anaknya kelak akan dihantarkan ke Baitul Maqdis  untuk beribadah kepada Allah dengan mengabdikan diri di Masjid Aqsha.

Saat masa melahirkan tiba, Hannah melahirkan sang anak dengan sehat dan selamat. Hannah dan Imron menyambut kelahiran anak dengan penuh gembira, meski Hannah melahirkan anak perempuan, tidak seperti harapannya yang menginginkan anak laki-laki untuk mengabdi di Masjid Aqsha

Namun demikian,  Hannah dan sang suami Imron tetap menerima kehadiran sang putri dengan rasa syukur yang tak terkira.  Hannah memberi nama sang putri “Maryam” yang memiliki arti “yang mengabdi  kepada Tuhan”.  Kemudian Hannah mendoakan Maryam dan keturunannya dengan  memohon perlindungan Allah SWT untuk Maryam dan keturunannya dari  godaan syaitan.

Baca Juga:   Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an (1)

Hannah tetap dengan pendirian dan nazarnya agar anak yang dilahirkan mengabdi sepenuhnya di Masjid Aqsha. Maryam pun diserahkan kepada Nabi Zakaria sang penjaga Masjid Aqsha, untuk dididik dan dibesarkan di Masjid Aqsha.

Usaha dan doa  Hannah dalam mendidik anak yang dimulai saat berkeinginan memiliki anak,  hingga saat mengandung dan melahirkan membuahkan hasil. Maryam di bawah didikan Nabi Zakaria tumbuh sebagai anak yang taat beribadah. Hingga  Maryam yang suci dikaruniai putera “Nabi Isa” tanpa harus melalui  pernikahan dan hubungan suami istri.

Benar bahwa semua merupakan ketetapan Allah SWT. Namun, kisah Hannah ibunda Maryam adalah teladan dengan pelajaran yang begitu mulia bahwa mendidik anak adalah  proses yang begitu luar biasa hingga harus menyiapkan diri sebagai orang  tua sedini mungkin.

Kisah di atas juga adalah kisah teladan bagaimana memiliki azam yang kuat untuk memiliki anak yang hebat dunia akhirat. Kisah tersebut seakan mengajarkan kita bagaimana seharusnya melalui setiap tahapan dalam mendidik anak. Dimulai saat sebelum hamil  atau berkeinginan memiliki anak dengan selalu rajin beribadah dan tak  henti berdoa, bernadzar dan bercita-cita yang baik-baik untuk sang anak,  memberi nama yang baik, mendoakan yang baik-baik untuk sang anak dan  memberikan pendidikan terbaik untuk sang anak.

Mendidik adalah Tentang Proses Bukan Hasil

Dengan penjelasan di atas kita boleh berkata bahwa dalam mendidik tidak  ada kata terlalu dini, terlalu cepat atau terlalu awal. Bahkan sebelum  anak pun terlahir ke dunia, telah ada kesempatan bagi kita untuk memulai  proses mendidik anak.

Baca Juga:   Tulisanmu Harimaumu

Semua itu karena mendidik anak bukanlah  soal hasil bagaimana anak kita kelak menjadi anak yang sukses, baik, bermanfaat bagi orang lain dan seterusnya. Lebih daripada itu, tentang proses yang harus kita lalui sebagai orang tua.

Proses menyiapkan mereka  untuk menjadi generasi handal: diawali dari saat keinginan  memiliki anak telah terbersit di hati kita, saat telah mengetahui bahwa  kita akan menjadi orang tua, saat anak kita baru terlahir ke dunia  hingga saat terakhir kita sebagai orang tua kala waktu untuk berjumpa denganNya tiba.

Ingat! Sehebat apapun proses mendidik anak  yang kita lalui tidak menjamin sedikit pun bahwa di masa depan anak kita  pasti akan selamat atau tidak, sukses atau tidak dan seterusnya. Namun, bagaimanapun hasil didikan kita, selama kita telah melalui setiap  proses dengan baik maka itulah yang terbaik bagi kita.

Jelaslah  bahwa mendidik anak sejatinya mendidik diri sendiri untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Kita yang memberi mereka yang menerima, kita  yang menyontohkan mereka yang meneladani, kita yang mengajak dan mereka yang melaksanakan dan mengambil teladan.

Maka tak ada kata “terlalu  dini” dalam mendidik anak. Bahkan persiapan sedini mungkin untuk menjadi  pendidik sebagai bagian proses mendidik anak harus kita lakukan.

Dan kita boleh membayangkan negeri yang damai dan tenteram tatkala  setiap penduduk menyadari dan mempersipkan diri untuk menjadi orang tua  yang baik. Penduduk dengan kesadaran penuh bahwa generasi yang baik  harus disiapkan dengan proses yang baik pula. Amin.

BERIKAN KOMENTAR

Muwafik Maulana
Alumni Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Pendidikan lainnya di tempuhnya di Universitas Al-Azhar, Mesir dan INCEIF, The Global University of Islamic Finance. Kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Economic and Muamalat di Universiti Sains Islam Malaysia - USIM.

Tiada Kata “Terlalu Dini” dalam Mendidik Anak: Meneladani Kisah Hannah dan Keluarga Imron

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF