Tasawuf ala Nabi Muhammad SAW

Hidup yang ideal itu adalah hidup ala Nabi dan bertasawuf yang baik adalah tasawuf ala Nabi.


Imam Malik RA mengatakan:

مَن تَفَقَّهَ ولم يتصوف فقد تفسق، ومن تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ومن جمع بينهما فقد تحقق.

Siapa yang mendalami ilmu agama tapi tidak bertasawuf, maka sungguh ia telah fasik. Siapa yang bertasawuf namun tidak paham ilmu agama, maka sungguh ia tergolong kafir zindiq. Dan siapa yang menggabungkan keduanya, maka sungguh ia telah berada di jalan yang benar.

Imam Syafi’i RA mengatakan:

حبب إلي من دنياكم ثلاث: ترك التكلف وعشرة الخلق بالتلطف والإقتداء بطريق أهل التصوف.

Aku jadikan senang dari duniamu (dalam) tiga perkara: Tidak memaksakan kehendak, bergaul dengan orang lain dengan lemah lembut, dan mengikuti jalan para sufi.

Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata kepada anaknya:

عليك بمجالسة هؤلاء القوم –يعني الصوفية- فإنهم زادوا علينا بكثرة العلم والمراقبة والخشية والزهد وعلو الهمة

Hendaknya Engkau duduk dengan mereka-yaitu para sufi-karena mereka menambahkan kita ilmu dan rasa dekat dengan Allah, takut kepada Allah, zuhud, dan semangat yang tinggi.

Tiga pernyataan dari mujtahid mutlak di atas mengisyaratkan kepada kita betapa pentingnya belajar dan melakoni tasawuf dalam kehidupan sehari-hari. Tasawuf sendiri, menurut Imam Abu Hanifah, merupakan salah satu cabang ilmu berdasarkan kategorisasinya berikut;

Pertama, Ilmu Kalam yang membahas tentang keyakinan (ilmu tauhid). Kedua, Ilmu Tasawuf dan akhlaq dengan pembahasan berkisar di wilayah hati dan etika, misalnya zuhud (tidak tertarik kepada harta duniawi), sabar, ridha dan hadirnya hati bersama Allah di waktu sholat. Dalam bahasa sufi, tasawuf bertugas mengupas tuntas tentang “wijdaaniy” (rasa). Ketiga, Ilmu Fiqh membahas apa saja yang harus dilakukan oleh hamba Allah dan apa saja yang tidak pantas serta tidak boleh dilakukan olehnya (Mausu’ah al fiqh al Islaamiy karya DR. Wahbah Zuhaili).

Hemat penulis, Ilmu Tasawuf sebenarnya merupakan pengetahuan tentang sebuah usaha manusia untuk menyucikan diri (tazkiyatun nafs) baik dhahir maupun bathin dari sifat-sifat yang tidak terpuji. Untuk melakoninya, sedikitnya ada tiga hal yang dapat dilakukan: Pertama, membuang semua sifat buruk yang ada dalam jiwa (sifat hewan dan syetan). Kedua, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji (Al Akhlaq al Karimah). Ketiga, menampakkan penghambaan diri kepada Allah.

Baca Juga:   Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak

Keabsahan Ilmu Tasawwuf sampai saat ini masih menimbulkan silang pendapat. karena ada beberapa orang yang konon mengaku shufi (pelaku tasawwuf) tapi amaliyahnya sangat melenceng jauh dengan syari’at Islam. Oleh karenanya alangkah lebih eloknya bila berbicara tentang aspek ketuhanan seharusnya merujuk kepada Nabi Muhammad Saw, sebab yang paling paham syari’at Islam adalah beliau.

Al-qur’an memberikan rambu-rambu yang sangat jelas sekali mengenai sosok hamba ideal dan idaman bagi Allah yaitu hamba yang bisa menjaga keseimbangan antara hubungannya dengan Allah (hablun min allah) dan hubungannya dengan sesama manusia (hablun min al-naas).
Bani Israil sampai saat ini selalu hina karena tak bisa menjaga keseimbangan tersebut.

” Mereka (bani israil) diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas “. (Qs. Ali Imran 112).

Hidup seseorang akan bermakna bila memiliki kepulian sosial sehingga dalam kaidah fiqh secara eksplisit menjelaskan bahwa membina hubungan sosial lebih utama dari sekedar memperhatikan perbuatan yang manfaatnya hanya dirasakan secara individu.

(الْمُتَعَدِّي أَفْضَلُ مِنَ الْقَاصِرِ (الأشباه والنظائر ٩٩

Amal yang dirasakan manfaatnya oleh orang lain lebih utama nilainya dari amal yang manfaatnya hanya dirasakan oleh diri sendiri.

Lebih jauh Imam Al-Ghazali dalam Bidayah al-Hidayah membagi manusia ada tiga golongan: Pertama, manusia yang diibaratkan  makanan pokok yang selalu dibutuhkan oleh orang lain. Kedua, manusia yang diibaratkan obat yang dibutuhkan pada saat tertentu saja. Ketiga, manusia yang diibaratkan penyakit (tidak dibutuhkan sama sekali dan menjadi musuh semua orang).

Nabi Muhammad Saw walaupun tidak pernah melakukan dosa selama hidupnya (ma’shum) dan telah mendapat jaminan pengapusan dosa mulut beliau tak pernah sepi dari dzikir misalnya Nabi bersabda:

إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ رواه مسلم

Baca Juga:   Togog dan Wayangan Politik Era Jokowi

Saya dalam sehari meminta ampun kepada Allah 100 kali (HR. Muslim)

Bahkan beliau dari saking rajinnya sholat kakinya bengkak. Semua itu Nabi lakukan semata-mata menampakkan rasa syukur kepada Allah (عبدا شكورا). Namun Beliau dalam kesahariannya sangat santun dan tak pernah lelah membantu orang lain. Kedermawanan beliau melebihi angin yang berhembus. Logikanya angin itu dermawan tanpa ada yang mengundangnya istiqomah menghampiri hidup manusia.

Sayyidina Umar bin Khattab bercerita, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya. Hari berikutnya, lelaki itu datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya.

Pada keesokannya, lelaki itu datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, “Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya.” Sahabat Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah janganlah memberi di luar batas kemampuanmu.”

Namun, Rasulullah tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah SAW tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Tirmidzi).

Jubair bin Muth’im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba orang-orang mencegat dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri. Kemudian salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah SAW berhenti sejenak dan berseru, ”Berikan mantelku itu! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian.” (HR Bukhari).

Nabi tidak pernah meninggalkan berniaga walaupun ibadahnya sangat rajin di mana pada usia 12 tahun untuk kali pertama  dia belajar berwirausaha. Dia turut serta dalam perjalanan dagang pamannya Abu Thalib ke Syam (sekarang Suriah). Pada perjalanan inilah terjadi sebuah pertemuan dengan rahib Nasrani yang mengenali  Muhammad sebagai bakal utusan Allah terakhir. Kisah pertemuan ini sangat terkenal, mengingat inilah kali pertama orang lain melihat sisi kenabian Muhammad meski ia baru diutus hampir 30 tahun setelahnya.

Baca Juga:   Inklusivisme Intelektual: Belajar dari Gus Dur

Ippho Santosa menjelaskan bahwa Nabi Muhammad berprofesi sebagai Pedagang, pada usia 25 tahun, beliau sudah menjadi entrepreneur yang kaya raya dan berdagang ke luar negeri tidak kurang dari 18 kali. “Bayangkan saja, jangkauan perdagangan Muhammad muda mencapai Yaman, Syria, Busra, Irak, Yordania, Bahrain, dan simpul perdagangan lainnya di Jazirah Arab,” ujarnya.

Pernyataan Nabi berikut ini berbanding lurus dengan aktifitas kesehariannya: Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, ”Siapa mencari dunia secara halal, membanting tulang demi keluarga dan cinta tetangga, maka pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya dengan wajah berbinar layak rembulan bulan purnama.” (Kitab al-Ittihaf, 5/414).

Nabi tidak suka orang hanya senang beribadah tapi melupakan tugasnya dalam keluarga dan mahluk sosial. Suatu ketika ada tiga rombongan datang bertamu ke salah satu istri Rasulullah SAW menanyakan perihal tentang ibadah sunah yang dikerjakan oleh beliau. Setelah rombongan tersebut merasa cukup jawaban dari istri Nabi tersebut.

Kemudian mereka yang tergabung dalam rombongan tersebut saling memandang. Salah satu diantara mereka melempar pertanyaan, “Manakah Ibadah sunah Nabi Muhammad SAW  yang telah kita kerjakan, yang ibadah tersebut dapat mengampuni dosa-dosa kita baik yang sudah lampau maupun dosa yang akan datang”.

Salah seorang yang tergabung dalam rombongan pertama menjawab,

“Aku telah sholat sepanjang malam”.

“Aku telah berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah berbuka” sahut orang yang tergabung dalam rombongan kedua.

Salah seorang yang tergabung dalam rombongan yang ketiga pun tidak mau ketinggalan perihal ibadahnya. “Aku telah menjauhi wanita, dan aku tidak mau menikah selamanya,” jelasnya.

Tiba-tiba Rasulullah SAW mendatangi kerumunan tiga rombongan dan berkata, “Kalian telah berkata begini dan begitu, tapi demi Allah aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah. Tapi aku berpuasa dan masih berbuka, rajin sholat tapi tetap tidur, dan saya menikah. Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku (nikah), maka bukan golonganku”.

Maka kesimpulannya hidup yang ideal itu adalah hidup ala Nabi dan bertasawuf yang baik adalah tasawuf ala Nabi.

BERIKAN KOMENTAR

M Musleh Adnan
Muballigh Madura yang kini menetap di Pamekasan. Disayang dan menyayangi masyarakatnya.

Tasawuf ala Nabi Muhammad SAW

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF