Takdir Sunyi Sebuah Tulisan

Ketika seorang penulis telah menghasilkan sebuah karya, maka ia (sebenarnya) telah mati”


Ada satu adagium dalam jagad kepenulisan yang begitu tersohor dan memunculkan polemik hingga sekarang, yaitu “ketika seorang penulis telah menghasilkan sebuah karya, maka ia (sebenarnya) telah mati”. Pembacalah yang memiliki otoritas terhadap hasil bacaannya, sementara tanggung jawab penulis telah berhenti ketika karya sudah sampai di tangan publik. Pembaca, dalam hal ini, memiliki otonomitas sendiri dalam menafsirkan karya si penulis.

Tentu saja, setiap pembaca memiliki beragam pengalaman dan pengetahun tersendiri ketika membaca karya seorang penulis. Beragam pengetahuan dan pengalaman inilah yang kemudian memperkaya perspektif terhadap karya si penulis yang sambung-menyambung menjadi kritik dikemudian hari.

Pada titik ini satu pertanyaan muncul, lalu bagaimana dengan takdir dari tulisan itu sendiri? Bagi penulis besar dan terkenal tentu tidak susah merencanakan dan memperkirakan akan diperuntukan apa tulisan yang akan dibuat tersebut. Ini karena jejaring kepenulisan yang dibangun sudah sedemikian kuat, baik antara penerbit, editor, redaktur media massa, ataupun pembaca itu sendiri. Begitu juga dengan kepercayaan dari hasil tulisan dari si pengarang tersebut. Alhasil, ketika seorang penulis terkenal ingin menerbitkan karyanya ataupun mengirimkan artikelnya, sudah bisa ditebak kemana takdir tulisan itu berakhir.

Sebaliknya, ini menjadi persoalan besar bagi penulis pemula, termasuk saya, ketika membuat tulisan dan berniat untuk apa tulisan itu dibuat. Saya tidak bisa menentukan dengan jelas kemana tulisan saya ini diperuntukkan. Saya hanya bisa menerka sambil berdoa dengan harapan yang kuat bahwa tulisan yang saya buat dengan susah payah ini akan dimuat oleh redaktur media massa.

Baca Juga:   Al-Muhibbun Al-Buasa': Jalan Seni ataukah Jalan Sufi?

Begitulah selalu yang ada dalam benak saya setiap kali menulis. “Kalaupun tidak dimuat setidaknya saya sudah merekamkan gagasan saya dalam bentuk tulisan yang satu waktu akan bermanfaat”, dalam hati saya selalu menguatkan. Tapi, bukan berarti sebagai penulis pemula berhenti asa melihat situasi seperti ini. Karena, setiap tulisan apapun itu bentuknya, dan seburuk apapun menurut orang pasti memiliki takdirnya sendiri.

Sebagaimana dialami oleh Andrea Hirata. Awalnya, ia hanya meniatkan tulisan memoarnya untuk kenang-kenangan terhadap Ibu Guru tercinta yang telah mendidiknya hingga ia bisa bersekolah di Paris. Selain itu, tulisan itu dibuat untuk membunuh waktu malam ketika imsonia selalu datang menghantuinya. Setelah memoar setebal lebih dari 500 halaman itu jadi dengan memakan waktu tiga minggu. Hasil ketikan itu pun ia fotokopi 12 kali dan ia beri kepada ibu Muslimah dan 11 rekannya semasa kecil, yang dikenalnya sebagai Laskar Pelangi. Diam-diam dan penuh keisingan, teman sekantornya mengirimkan memoar itu ke penerbit Bentang.

Lewat “tangan-tangan dingin” editor Penerbit Bentang dan juga kelihaian distributornya membuat karya tersebut sampai ke tangan para pembaca. Dalam beberapa minggu, buku itu pada tahun 2005 laris manis dan langsung dipajang di deretan buku-buku yang tergolong “best seller”. Buku itu menjadi bertambah semakin banyak penggemarnya setelah pada tahun 2007, Kick Andy menayangkan profil Andrea Hirata dan karyanya Laskar Pelangi.

Baca Juga:   Benang Merah Politik dan Agama (Islam)

Takdir tulisan ini juga pernah saya alami. Setelah menulis artikel mengenai kota Yogyakarta dan iklan yang bertebaran di setiap pinggir jalan dan sudut kota tersebut, saya berniat mengirimkannya ke Kompas Yogya. Sayang, setelah dua minggu menunggu jawaban Redaktur, dengan sangat sukses artikel saya ditolak dengan alasan yang sangat halus; dari mulai tidak ada ruang untuk menempatkan artikel tersebut, tidak sesuai dengan isu kekinian, dan ataupun karena memang benar-benar tidak layak dimuat.

Saya lalu menampilkan artikel tersebut dalam blog, ternyata ada salah seorang teman yang bekerja di Majalah Jendela membacanya, dan ia meminta ijin untuk memuat artikel tersebut di media budaya yang dikelolanya. Hasil dari dimuatnya artikel tersebut, saya diganjar uang sebesar Rp. 300 ribu. Jumlah uang yang relatif agak lebih sedikit dibandingkan bila dimuat di Kompas Yogya yang sebesar Rp 450 ribu.

Begitu juga dengan proposal riset yang saya ajukan untuk mendapatkan grant riset di Impulse (Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies), Yogyakarta. Setelah dinyatakan tak layak untuk menerima grant riset, saya lalu mendiamkan begitu saja riset proposal tersebut dalam folder laptop yang bertuliskan “cari duit”.

Baca Juga:   Pamor Pesantren Jombang (Bagian 1 dan 2)

Dua tahun kemudian, proposal itu saya edit menjadi sebuah artikel. Dengan sangat pasrah bahwa artikel itu akan ditolak, saya lalu kirimkan ke Kompas Yogya. Tak disangka, baru saja seminggu dikirim, saya dikabarkan oleh seorang teman di Yogyakarta bahwa artikel saya yang berjudul “Melihat Yogyakarta dari Kampung Nitiprayan” telah dimuat.

Paper yang saya berjudul “Blasteran Di Mata Pribumi Dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-nya HAMKA” yang diperuntukkan tugas etnisitas ketika saya menempuh Magister Kajian Budaya di Sanata Dharma Yogyakarta juga menemukan takdirnya ketika dinyatakan layak sebagai pemenang Lomba Mengulas Karya Sastra di Diknas pada tahun 2007.

Dari sekelumit cerita tersebut, saya cuma ingin menegaskan kepada diri saya bahwa menuliskan sesuatu apapun itu genre tulisannya, dan apapun itu isinya akan memiliki jalan takdir sendiri. Satu takdir yang tidak pernah kita sangka kemana ia akan berakhir. Jadi, jangan berhenti menulis, karena menulis adalah proses keabadian mendokumentasikan pengalaman yang kita lihat, amati dan geluti. Semangat!

 

BERIKAN KOMENTAR

Wahyudi Akmaliah
Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta.

Takdir Sunyi Sebuah Tulisan

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF