Surga dan Neraka, Siapa yang Paling Berhak ?

"Dalam mengajak kebaikan, bersikap keraslah pada diri sendiri dan lemah lembut kepada orang lain. Jangan sebaliknya." KH. Mustofa Bisri


Kita  masih disibukkan oleh persoalan-persoalan duniawi, bahkan rentan  perdebatan, hingga berakhir pada hilangnya kawan, pacar dan perceraian. Naudzubillah,  semoga kita tidak termasuk pada golongan tersebut. Memang menakutkan  jika hal demikian terjadi pada kita. Mungkin kita tiba-tiba nangis  di pojokan, berenang ke tepian, lebih-lebih hingga pingsan. 

Semua  karena perpisahan pastilah akibat dan bermula dari perdebatan. Seperti mempersoalkan perkara siapa sesungguhnya Squirdward, mengapa Tuan Krab bisa punya anak  Paus bernama Puff. Hingga yang paling tak habis pikir, benarkah Gaj  Ahmada Islam atau Borobudur sebagai monumennya Nabiyullah Sulaiman. Tentu semua tahu, itu hanya gurauan yang mengada-ada yang menimbulkan lelucon tak  ada habisnya, hingga friksi tersendiri. 

Sebagai seorang manusia yang  punya akal, minimal kita mau membuka pikiran, seperti Kanjeng Nabi Muhammad selalu mengajarkan kita untuk senantiasa belajar dan  bertabayun. Semangatnya sungguh mencerminkan Rahmatan Lil Alamin, bukan  mengedepankan prasangka namun fakta. 

Menganggap  mereka hanya kafir Akatsuki, yang tak layak dimaafkan. Apakah semua itu  warisan, hingga hari ini kita tidak tahu, siapa orang tua Rock Lee.  Mengapa Guru Guy mau mewariskan gaya rock and rollnya  pada Rock Lee. Bukan lagi persoalan ghaib, namun sudah menjadi realitas.  Jika sebuah perpecahan adalah akibat sikap semena-mena, tanpa mau  belajar terlebih dahulu. 

Kita  mudah terjebak dalam kebaperan, ketika Hamish Daud dapat meluluhkan  hati Raisa, seolah-olah Hamish tak berhak atas Raisa. Hingga kita tidak  rela jika Raisa telah menikah dengan pilihannya, itu hak individunya.  Mau warisan atau bukan, pilihan individu muncul akibat proses  kontemplasi panjang. Toh nyatanya Didit Prabowo juga tak mewarisi ambisi  Prabowo, atau keinginan menjadi politisi hebat. Bahkan dia menjadi  seorang desainer, jauh dari sosok Prabowo maupun trah keluarganya  yang super-menangan.

Masih  saja ribut, memperdebatkan keyakinan seseorang. Surga dan Neraka, itu  hak Allah. Semua agama tidak sama, namun punya ritual unik tersendiri.  Tidak mungkin juga kita memaksa seorang Hitler atau Stalin mengakui  superioritas masing-masing, atau memaksa Fahri Hamzah menjadi seorang  Marxist. Semua hal tersebut telah melegitimasi agama kita harus  berkuasa, kadang bias “secara kekuasaan atau keyakinan”. Sehingga tak  jarang klaim duniawi dapat menentukan ukhrowi, lancang sekali.

Baca Juga:   Mewujudkan Islam Ramah Bukan Marah-Marah

Itu  semua hal yang duniawi, namun sudah biasa terjadi. Tetapi sekarang kita  tahu, bahwa persoalan sosial yang terjadi, kita akan selalu  menghubungkan dengan keyakinan dalam beragama. Persoalan mendasar  tentang suatu krisis sosial tak lagi menarik, namun ranah keyakinan  dalam beragama selalu menarik apalagi dicocokologikan dengan suatu krisis  sosial.

                                                                                              ***

Sudah  menjadi umum jika kita melakukan ghibah pada kehidupan artis, namun trend  kekinian ialah lebih asyik mempersoalkan keyakinan seseorang. Bahkan  dihubung-hubungkan dengan bencana hingga krisis sosial. Misal Sun Go  Kong masuk neraka atau surga, apa benar Tong Sam Cong adalah kafir.  Karena mereka kafir dan digandrungi banyak anak 90an, maka sekarang  China mengekspansi perekonomian Indonesia atau bahkan mereka aktor  deislamisasi di Nusantara? Mbelgedes!

Tentu  kita tidak tahu, bisa jadi suatu saat kedua mahkluk tersebut tobat,  mengucapkan syahadat. Merubah namanya menjadi Sulaiman Gofur Kong, dan  Taubah Syamsul Cong. Lalu tiba-tiba stigmatisasi kita sebelumnya runtuh,  malah berubah arah menjadi jamaah mereka layaknya Felix Siauw yang  digandrungi kids alumni 212. Apapun bisa terjadi, karena  material waktu selalu berubah, dinamis mengikuti perkembangan yang kita  ciptakan. Namun kita sendiri akhirnya terjebak dalam sebuah prasangka,  namun tidak ada upaya belajar atau memperbaiki diri.

Surga  dan Neraka adalah hak preogratif Tuhan, namun kini manusia mulai  mengintervensi kekuasaanya. Menganggap mereka punya wewenang  untuk menghakimi orang lain. Menyakiti mereka yang berbeda keyakinan,  seolah-olah tidak ada yang pantas hidup kecuali golongan mereka. Bisa  jadi dahulu Nabi Muhammad SAW menyuruh para sahabat dan kaum muslimin,  mengusir mereka kaum Yahudi Madinah karena berbeda. Menganggap mereka  syaiton yang nyata, menjerumuskan muslimin masuk neraka. Toh tidak, kaum  Yahudi Yatsrib dibiarkan hidup dengan damai bersama muslimin. Berbeda  belum tentu jahat, karena yang sesama muslim pun bisa jadi lebih jahat.

Baca Juga:   Revolusi Media (Sosial) dan Legitimasi Keulamaan

Misalkan  blokade Saudi kepada negara Qatar tempo hari, padahal sesama muslim toh.  Aneh saja, hanya karena berhubungan dengan Iran yang notabene syiah,  Qatar dihajar habis-habisan. Mana waktu itu bulan Ramadhan yang katanya  suci, mereka tak mau memaafkan, bahkan membahayakan nyawa sesama muslim.   Sekarang Saudi masih memusuhi Yaman, bahkan terjadi serangan fisik,  yang melukai banyak muslim yang tak berdosa. Sudah di kehidupan  sehari-hari secara kebutuhan dasar kurang, ditambah situasi perang,  lengkap sudah penderitaan mereka.

Perdebatan  klasik Saudi dan Iran, hampir sama duet klasik Manchester United dan  Perguruan Liverpool. Bedanya United dan Liverpool tak pernah sampai  membunuh, karena mereka hanya memperebutkan trofi. Lah, ini Saudi  memperebutkan pengaruh, sebagai adidaya. Begitu juga Iran, saling  mengklaim paling benar dan kaffah. Manusialah yang jadi korban, agama  mulai dipermainkan. Padahal Islam mengajarkan kasih sayang, sebagaimana  yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Saya  sebenarnya tak berhak berkata demikian, karena siapa saya? puasa saja  masih suka mokel. Tarawih jarang-jarang, baca Al-Quran masih belepotan  tajwidnya. Tapi ketika Sasuke mulai melunak berkongsi dengan Naruto,  untuk melawan kebiadaban Madara dan sekutunya. Mengapa semangat tersebut  tak diterapkan, malahan mengklaim paling benar!

***

Kini  kemanusiaan sedang kritis, ketika Umbrella Corp mulai mengkapitalisasi  semua sektor. Menciptakan zombie-zombie penghisap, tak peduli sepupu,  pacar atau mantan semua dihisap. Bagaimana Shrek masih dianggap kaum  jelata oleh mertuanya, tak mengikhlaskan Fiona kedalam pelukan Shrek.  Karena menganggap Prince Charming lebih berhak, menjadi bukti  kesenjangan yang nyata. Walau ini hanya pengandaian yang kurang pas,  tapi ini kenyataan. Toh masih banyak budaya seperti ini, yang menandakan  masih ada ketimpangan sosial, ditinjau dari perspektif kelas. Hal ini menandakan bahwa distribusi ekonomi masih terpusat, bukan menyebar  kepada seluruh umat.

Baca Juga:   Sayangi yang Pesek, Agar Kiamat Tak Mendekat

Apa  guna jungkir balik sampai jidat hitam, jika Bang Jarwo dan Sopo masih  dipandang sebelah mata. Dianggap sampah tak berguna, selalu ditindas  oleh Pak Haji dan Adit. Melupakan permasalahan yang cukup esensial,  mementingkan siapa yang lebih berhak hidup dan masuk surga. Daripada memikirkan nasib kaum-kaum terpinggirkan, yang gunung dan hutannya  dibabat habis, tanahnya dirampas, hingga berpotensi menjadi  lumpen-proletariat. Lalu nasib buruh macam Spongebob dan Squidward yang  selalu dihisap oleh Tuan Krab, kerja melebihi batas bahkan tidak  mendapatkan hak-haknya. 

Kesejahteraan  masih timpang, menganggap mereka yang tak bekerja adalah takdir. Tidak memikirkan bagaimana proses Patrick bisa jadi pengangguran, atau mengapa  Bang Jarwo bisa jadi preman. Minimal kita belajar jadi Spogebob dan  Patrick meskipun terbatas, tetapi masih mau menolong orang. Jangan jadi  Tuan Krab yang mementingkan harta, semua dapat dikomodifikasi demi  nilai lebih. Merasa yang paling hebat dan benar tidak pernah salah kayak  Pak Haji.

Alangkah  baiknya semua berimbang, ukhrowi iya, duniawi juga iya. Sehingga  perdebatan yang cukup menguras tenaga itu bisa dikanalisasikan ke  langkah konkrit yaitu pembebasan. Layaknya Naruto sang Hokage, setia mendedikasikan hidupnya untuk menyejahterahkan Konoha. Membantu  sesama yang membutuhkan dan ikut andil dalam membebaskan kaum kromo  (Mustadh’afin) seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Mencoba menjadi  lebih baik dengan melihat diri kita sendiri, sambil belajar serta  menjalankan amalan baik untuk Allah dan mahkluknya. 

Percuma saja  memperdebatkan Gaj Ahmada Islam atau Hindu, Bumi datar atau bulat. Jika  masih ada saudara kita yang tertindas, seperti mereka  yang masih  melajang, selalu saja didzalimi dengan pertanyaan; kapan nikah?

BERIKAN KOMENTAR

Wahyu Eka Setiyawan
Nahdliyin garis lucu, Gus Dur-ian garis imut, marhaenis ganteng. Anak pantai asal Tuban

Surga dan Neraka, Siapa yang Paling Berhak ?

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF