Surat Terbuka untuk Alissa Wahid, Ketua Gusdurian Nasional

Tujuan toleransi dari kegiatan lintas-iman di gereja di Jombang justru menimbulkan keretakan dengan yang seiman, dengan sesama Muslim.


Baru saja, tepatnya 8 Januari 2018, beredar surat terbuka yang ditujukan kepada Alissa Wahid, putri Almarhum Gus Dur yang sekaligus Ketua Gusdurian Nasional. Surat tersebut ditulis penyair dan pegiat budaya Binhad Nurrohmat melalui status akun Facebook-nya (Binhad Nurrohmat). 

Di dalamnya, Binhad ‘mengadukan’ hal yang menurutnya sangat meresahkan berkaitan dengan aktifitas Gusdurian di Jombang. Menurutnya, setidaknya mulai tahun 2014 hingga 2017, aktifitas gerakan lintas-iman Gusdurian Jombang banyak meresahkan kalangan awam bahkan komunitas santri. Dalam status Facebook lain tertanggal 7 Januari 2018, ia menulis:

GUSDURIAN JOMBANG NGAWUR

Setelah sepekan menggelar show status ihwal aksi lintas-iman Gusdurian Jombang akhirnya datang informasi terpercaya hari ini bahwa bukan kewajiban Gusdurian di mana pun ikut Perayaan Natal dan Misa di gereja. Bertamu ke gereja boleh dan ini pun di luar kegiatan ibadat atau doa. Ihwal sahur bersama di gereja belum ada informasi sebagai kewajiban Gusdurian atau bukan.

Artinya ada aksi-aksi lintas-iman Gusdurian Jombang selama ini telah melabrak batas-batas yang ditetapkan oleh otoritas Presidium Gusdurian Jawa Timur atau yang di pusat.

Semestinya pihak Gusdurian yang berwenang segera mengklarifikasi aksi-aksi lintas-iman Gusdurian Jombang yang indisipliner itu secara terbuka agar tak ada fitnah terhadap kalangan Gusdurian yang lainnya.

Status ini, tampaknya, merupakan suatu catatan otokritik dalam kalangan Gusdurian Jombang yang menurut Binhad telah mencederai arti dan pemahaman toleransi. Ia juga memberik penekanan dalam status Facebook lain tertanggal 8 Januari 2018, kurang lebih 6 jam sebelum surat terbuka tersebut ditulis, seperti berikut: 

Minoritas dan mayoritas harus dibela haknya. Membela minoritas tapi membuatnya kian terdiskriminasi ini justru merugikan semua.

 Adapun isi dari Surat Terbuka tersebut adalah sebagai berikut:

Baca Juga:   Jalan Ini, Jalan Puisi Seorang Kiai

SURAT TERBUKA UNTUK ALISSA WAHID
KETUA GUSDURIAN NASIONAL

Salam,

Jombang mendung belakangan hari ini. Dan hujan datang bertubi. Kadang deras. Kadang gerimis. Ini bukan puisi dari kota kecil di bagian timur pulau Jawa. Ini hanya laporan cuaca sehari-hari — dan bisa terjadi di mana pun.

Entah bagaimana memulai bersurat untuk Mbak Alissa yang pernah saya bertemu satu kali dengan Anda di suatu acara di lantai 5 gedung PBNU di Jakarta. Entah tahun berapa. Saya tepatnya lupa. Pun di acara apa persisnya samar sudah dalam memori saya.

Itulah pertemuan kali pertama dan belum terjadi lagi sesudahnya.

Beberapa postingan saya terkait kegiatan lintas-iman di gereja di Jombang yang bagi pengetahuan masyarakat Jombang semua ini digiatkan oleh aktivis Gusdurian Jombang semoga sudah Anda ketahui melalui media sosial atau lewat getuk-tular dari aktivis Gusdurian. Beberapa aktivis Gusdurian sudah saya hubungi dan mengatakan kepada saya bahwa Anda sudah mengetahuinya.

Baca Juga:   Melodrama Kemiskinan Sebagai Komoditas

Saya menerima pertanyaan dan keluhan dari kalangan pesantren dan masyarakat umum di Jombang ihwal acara lintas-iman di Jombang yang digiatkan aktivis Gusdurian. Ikut Perayaan Natal di gereja misalnya. Intinya, tak sedikit yang gelisah setiap akhir tahun tiba sepanjang tiga tahunan belakangan ini sekurangnya di Jombang.

Tanggapan dari aktivis Gusdurian tak ada yang memberikan jawaban tegas. Apakah ikut Perayaan Natal di gereja adalah agenda Gusdurian? Apakah kegelisahan Muslim Jombang atas kegiatan itu layak diabaikan oleh Gusdurian? Juga pertanyaan lainnya yang mungkin pernah tersimak oleh Anda.

Tujuan toleransi dari kegiatan lintas-iman di gereja di Jombang justru menimbulkan keretakan dengan yang seiman, dengan sesama Muslim. Antara Gusdurian dan yang bukan Gusdurian. Di Jombang, Gusdurian seperti sekte toleransi sesat.

Baca Juga:   Konser Puisi Musik Sumenep 2017: Abhântal Ombâ' Asapo' Angèn

Saya percaya Anda tak akan mengabaikan kegelisahan banyak orang ini lantaran Anda bukan orang intoleran. Dan apakah Anda membiarkan Gusdurian dipandang sebagai sekte toleransi sesat?

Tak jarang remaja Muslim di Jombang yang gamang ketika diajak oleh aktivis Gusdurian untuk merayakan Natal di gereja. Sebab yang diajak tak tahu bahwa membiarkan kaum Nasrani merayakan Natal itu sudah toleransi. Dan Muslim tak punya kewajiban bertoleransi dengan menghadiri Perayaan Natal di gereja.

Anda yang bukan orang yang intoleran pasti bisa memahami lebih jauh dari sekadar yang sudah saya kabarkan melalui surat ini. Juga tahu yang semestinya sikap, jawaban atau klarifikasi Anda kepada khalayak tentang semua hal yang sudah saya ceritakan itu, khususnya di Jombang.

Terima kasih.

Wassalam,
Binhad Nurrohmat

Sebelum menerbitkan surat tersebut, Binhad beberapa kali mengulas perihal (aktivitas lintas-iman) Gusdurian Jombang serta isu-isu terkait semisal toleransi, minoritas-mayoritas dan lain sebagainya melalui status di akun Facebook pribadinya. 

[Redaksi]

Foto: wartaislami.com

BERIKAN KOMENTAR

Redaksi Interidea
Interidea merupakan portal review dan gagasan terkini tentang budaya, agama sosial dan politik.

Surat Terbuka untuk Alissa Wahid, Ketua Gusdurian Nasional

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF