Sayangi yang Pesek, Agar Kiamat Tak Mendekat

Mudahnya kita dalam sekejap menghakimi dan menilai seseorang layaknya “sampah”, hanya akan membuat kita berpotensi menjadi kumpulan dari “tong sampah” itu sendiri.


Apalah daya, tak kuat iman rasanya melihat rentetan kehebohan soal hidung “pesek” yang berhasil menenggelamkan kehebohan sebelumnya soal “tiang listrik. Hidung pesek dan gempitanya menelorkan banyak respon yang saya kira “tak berkehidungan”. Goyahlah saya, dan memilih menuliskan catatan bimsalabim ini.

Ustadz Shomad maupun Rina Nose adalah idola saya. Keduanya memiliki kemiripan yang sangat dekat sekaligus (di sisi lain ) perbedaan yang sangat menjorok. Keduanya merupakan public figure walau dari dunia yang berbeda, satu adalah Ustadz dan lainnya merupakan artis. Kedua-duanya jagoan melucu, Raja dan Ratu panggung dalam hal menciptakan suasana cair dan penuh gelak tawa. Kedua-duanya sama-sama (mohon maaf) kurang mancung alias pesek, itu sebabnya kurang ganteng dan kurang cantik. Namun sekali lagi, ini soal selera. 

Dilema bagi saya untuk berpihak salah satunya, dalam hal (seandainya bisa) menghakimi, apakah Ustadz Shomad yang jahat? Atau Rina Nose yang tak tahu diri? Karena perbincangan yang semakin mengerucut dan berfokus pada soal hidung dan bukannya wacana yang seringkali kita temukan, yakni fenomena berjilbab.

Daripada tertuju pada keduanya, baik Ustadz Abdul Shomad dan Rina Nose, saya justru terusik dengan isi pertanyaan dari audiens Ustadz Abdul Shomad dalam pengajian tanya jawabnya yang menjadi awal kegaduhan, penanya yang sempat-sempatnya bertanya sekaligus mengaitkan fenomena membuka kerudung dengan keputusan pribadi seorang Rina Nose? Pertanyaan ini mengandung judgement dari sananya.

Sayangnya, Ustadz Abdul Shomad terpancing, barangkali terbawa suasana, atau sebagaimana biasanya; sekedar berniat menghibur. Sementara tak kurang dari itu, Rina Nose yang saya kenal melalui layar kaca dengan kebanggaannya sebagai perempuan “gagah” dengan kepesekannya, Rina yang selalu memiliki jurus untuk tetap “cantik” dengan caranya, mendadak menjadi melodramatis.

Persoalannya sebenarnya tak hanya terletak pada siapakah yang benar dan siapakah yang mesti dibela dari keduanya? Kita semua memiliki cukup alasan dan dorongan jikalau hanya untuk seenak-udel menghakimi siapa di antaranya yang benar-benar mutiara dan siapa pula yang sekedar biji-bijian. 

Ustadz Abdus Shomad sendiri, walau banyak penilaian miring yang dilemparkan padanya mulai dari NU Garis Lurus sampai ke HTI, nyatanya, di kampung saya, tak ada yang tak mengenal beliau; dai Youtube Ustadz Abdul Shomad. Ceramahnya menjadi konsumsi bahkan anak-anak muda yang lagi demam Youtube. Fansnya bejibun dan tentu saja mereka adalah Nahdliyyin nglotok, sudah NU dari mbah-mbahnya.

Baca Juga:   Surga dan Neraka, Siapa yang Paling Berhak ?

Sebelumnya di Interidea, Penceramah kondang KH. M Musleh Adnan menulis: bahwa atas apa yang terjadi hendaknya kita arif dan lebih bijak menyikapi. Sebagai sesama penceramah, beliau menjelaskan bahwa “Taloccor Debu”  (baca: keceplosan) pada seseorang adalah hal manusiawi, apalagi bagi seorang penceramah dengan jam terbang tinggi, yang setiap saat mesti menjaga seluruh energinya berdakwah di depan banyak orang. 

Mengukur suatu fenomena atau tindak laku seseorang dengan membandingkan mana yang lebih pintar itu tak menyelesaikan masalah. Adalah logika perbandingan yang tidak ngonteks, misalnya, ketika Zuhairi Misrawi dengan nada mengecilkan menulis status Facebook yang bagi banyak kalangan terkesan mendiskreditkan Ustadz Abdul Shomad  dan memperbandingkannya dengan intelektual lain. Kejumawaan semacam ini yang acapkali bak kecap di kuah Mie Ayam, membuat sedap apa yang sebenarnya sudah kelebihan micin. 

Somad itu adik kelas saya di al-Azhar, ilmunya biasa-biasa saja. Tidak Istimewa. Kelebihannya Cuma bisa melucu. Kalau soal keilmuan, masih banyak alumni al-Azhar yang pinter, arif dan tidak ngelunjak. Demikian potongan tulisan statusnya. Drama pun berlanjut, bermunculan kecaman dan ultimatum yang bernada meragukan keilmuan Zuhairi Misrawi balik.

Tak cukup itu, sejak jagad maya dihebohkan dengan hidung pesek ini, saya menerima banyak sekali pesan WA yang saya kira, justru makin menggelembungkan persoalan kepesekan. Salah satunya adalah sebuah gambar yang mengutip hadist ramalan Rasulullah Saw, berikut ini:

23899141_10210552583996261_1064948263_n.jpg

Dalam Shahih Bukhori hadist ini berbunyi demikian :

 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي  عَنْ صَالِحٍ عَنْ الْأَعْرَجِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ  اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ الْأَعْيُنِ  حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ الْأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ  الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا  نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ

Baca Juga:   Pertanyaan (Teror) Ibu-Ibu Sebelum dan Sesudah Menikah

“Tidak akan datang hari kiamat,  kecuali sampai kalian berperang dengan orang Turk yang sipit matanya,  merah wajahnya, pesek hidungnya. Wajah mereka seperti meja bundar. Dan  tidak akan datang kiamat, sampai kalian memerangi orang-orang yang  bersandal dengan rambut”

Gambar kutipan hadist tersebut terasa begitu tendensius karna ditujukan pada satu ras tertentu yang tidak hanya banyak tersebar ketika atmosfer politik pilgub di Jakarta sedang panas-panasnya beberapa bulan yang lalu. Namun, juga tersebar ulang setelah kasus “hidung pesek” menjadi sorotan di beranda linimasa. 

Hadist ini akan sangat mudah tereduksi dan kehilangan makna universalnya sebagai suatu hadist Rasulullah yang eskatologik dan mengandung ramalan masa depan; sebagai salah satu penanda dari keistimewaan beliau. Hadist ini termaktub dalam banyak kitab seperti Ibnu Majah, Abu Daud serta banyak kitab hadist dan tarikh lainnya,termasuk syarah Hadist Shahih Bukhori, Fathul Bari karya Imam Ibnu Hajar, di dalamnya beliau mengkategorikan hadist ini ke dalam bab tentang perang Turki.

Ini baru salah satu, hal yang tak kurang mencemaskan dan miris adalah adanya gambar iklan dari Rabbani yang jelas-jelas memajang foto Rina Nose dengan kutipan “Teruntuk, saudariku Nurlina Permata Putri Ada KERUDUNG GRATIS buat kamu dari Rabbani”, lengkap dengan logo diskon 50% ALL ITEM. Ketika nilai-nilai agama diselewengkan bersama libido kapitalistik, ini menjadi sesuatu yang (bagi saya) teramat kejam. Lebih-lebih menggunakan ketersudutan personal untuk mencari keuntungan.

23897723_10210553071928459_518758710_n.jpg

Ustadz Shomad, dengan caranya barangkali mencoba untuk memberi penerangan tentang bagaimana seorang muslimah menata diri dan menyempurnakan keberimanannya. Begitu pun Rina Nose, memilik banyak latar yang tak juga banyak kita ketahui tentangnya. Tak ada permakluman bagi nilai-nilai yang misalnya dicerabut, namun bukan hak kita pula menghakimi siapa pun. 

Karena agama, seberdosa apapun seseorang, ia masih menyediakan tempat bagi seorang pelacur yang dengan tulus memberikan minum pada seekor anjing yang dahaga. 

Bukankah dalam kisah terdahulu, bagaimana Musa terbelalak setelah mengerti bahwa Wali Allah yang dimaksud tuhan adalah seseorang yang pernah diusirnya dari negerinya karena dosa dan kesalahannya yang teramat besar, yang di akhir keputus-asaannya pemuda itu berdoa: “Ya Allah, jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Sungguh  Engkau sangat berkuasa atas segala-galanya.” Maka Allah Swt pun memerintahkan nabi Musa untuk memandikannya, mengkafaninya dan menshalatinya.

Baca Juga:   Mewujudkan Islam Ramah Bukan Marah-Marah

Bahkan Rasulullah pernah bersaksi di depan Jibril, setelah Rasulullah mengusir seorang pemuda yang datang padanya mengadukan kefasikan dan dosanya karena menyutubuhi mayat yang telah dikubur. Jibril berkata; “Wahai Rasulullah, Allah telah berkirim salam kepada-Mu!” Beliau pun menjawab salam. Jibril kembali berkata, “Allah bertanya kepadamu , apakah kamu yang telah menciptakan para makhluk? ” Beliau menjawab , “Tentu saja tidak, Allah yang telah menciptakan semuanya! Jibril melanjutkan, “Allah juga bertanya kepadamu, Apakah kamu yang telah memberi rezeki kepada makhluk-makhluk Allah?”  Rasulullah menjawab, “Tentu saja Allahlah yang telah memberi rezeki kepada mereka , bahkan juga kepadaku!” 

Apakah kamu yang berhak menerima taubat seseorang?” kembali malaikat jibril bertanya. “Allah lah yang berhak menerima dan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya!’ jawab beliau. Mendengar jawaban-jawaban Rasulullah , malaikat jibril pun berkata , “Allah telah berfirman kepadamu:

Telah aku kirimkan seorang hamba-Ku yang menerangkan satu dosanya kepadamu, tapi mengapa engkau berpaling daripadanya dan sangat marah kepadanya? Lalu bagaimana keadaan orang-orang mukmin kelak, jika mereka datang padamu dengan dosa yang lebih besar seperti gunung? Kamu adalah Utusan-Ku yang aku utus sebagai rahmat untuk seluruh alam, maka jadilah engkau orang yang berkasih sayang kepada orang-orang beriman dan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa. Maafkanlah kesalahan hamba-Ku, karena aku telah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya!

Betapa luas rahmatNya yang tentu saja tak dapat kita ukur dan bandingkan dengan rasa welas asih kita yang tak lebih besar dari upil. 

Semua bergantung dari cara kita menyikapi persoalan. Mudahnya kita dalam sekejap menghakimi dan menilai seseorang layaknya “sampah”, hanya akan membuat kita berpotensi menjadi kumpulan dari “tong sampah” itu sendiri. 

 

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Selain melukis, menulis puisi dan esai. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Sayangi yang Pesek, Agar Kiamat Tak Mendekat

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF