Pertanyaan (Teror) Ibu-Ibu Sebelum dan Sesudah Menikah

Hidup itu kan bukan cuma urusan nikah dan beranak saja. Buktinya Tan Malaka, Leonardo Da Vinci, Ludwig Van Bethooven, bahkan ratu Elizabeth I memilih menjomblo...


Hampir semua sinetron di Indonesia pernah menampilkan scene ibu-ibu tengah ngerumpi saat berbelanja pada tukang sayur. Tayangan seperti itu mengesankan kalau ibu-ibu saat bertemu dan berkumpul selalu memiliki arisan gosip yang tak pernah basi.

Apa yang terancam adalah eksistensi tukang sayur, setiap kali tayang suaranya tak pernah diperhitungkan. Ceritanya jadi mirip otong yang pengen beken dengan cara jadi bintang iklan lalu terkabul, tapi karena bintang iklan jam tangan, lengannya doang yang masuk koran!

Di dunia ini sosok ibu lebih agung dari tukang sayur. Hanya Popeye yang paling paham tentang ini. Bayangkan saja, surga yang diimpikan semua orang berada di telapak kakinya. Bukan di siku atau lututnya, apalagi sandalnya. Hidup ini sudah realistis. Jika surga berada di bawah sandal ibu, maka kejadian hilangnya sandal bukan hanya akan terjadi di Muster area saat terjadi kekacauan (gantinya masjid agar tidak kaku dan itu-itu saja) pada hari Jumat. Setiap hari semua orang akan menjadi maling surganya ibu.

Namun begitu, sinetron Indonesia telah berhasil mendedah kenyataan tentang adanya ibu-ibu yang menyimpan semburan las karbit di mulutnya. Apinya berkobar melahap setiap insan dengan pertanyaan-pertanyaan sebelum dan selepas pernikahan.

Mereka yang selamat dari kaum ibu-ibu panitia social pressure (tekanan sosial) ini, hidupnya beruntung banget. Tetapi dapat dipastikan sebelas dari sepuluh pemuda pernah melawan ganasnya pertanyaan ibu-ibu rasa boncabe; pedes gilaaaaa! Ucapannya bukan saja bikin merah telinga, tapi juga bikin perut mules-mules. Siapa mereka?

  1. 1 Bujang Lapuk


    Anda yang mengikuti tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata pasti kenal dengan sosok Ikal. Pemuda yang sering diomeli ibunya dengan sebutan bujang lapuk hanya karena tidak mau menikah selain dengan Aling. Perbedaan agama membuat keduanya tak mendapatkan restu orang tua.

    Ikal menjadi bulan-bulanan di masyarakat karena dia tidak bisa menyamai teman sebayanya yang sudah beranak selusin dengan istri yang juga selusin dan waktu hamil bersamaan pula (out of the srory, hehe). Itu kayak foto orang India yang viral di medsos. Tampak sang suami berdiri diapit enam wanita di sebelah kiri dan tujuh wanita di sebelah kanan yang tengah hamil bersamaan.

    Foto itu sebenarnya mungkin hoax, tapi pria dengan jumlah istri dan anak terbanyak itu beneran ada dan gelar itu diraih oleh Ziona Chana asal Mizoram, India. Ia memiliki 39 istri, 94 anak, 14 menantu dan 33 cucu. Jika ditotal jumlahnya 180. Apa itu ukuran pria sukses agar tidak dibully masyarakat? Jika iya, silakan Anda tiru! tapi Anda harus pindah kenegaraan menjadi warga India (Hahaha).

    Ikal dan semua bujangan di dunia hanyalah menjalani takdir yang Maha Kuasa (cieee). Mereka tak dapat menerka kapan akan bertemu jodoh. Kecuali Anda pergi ke mbah dukun yang kesohor punya indra ketujuh dan dapat menerawang jodoh. Kalau tidak bisa diterawang minimal dikasih jimat enteng jodoh. Berminat? Hubungi mbah dukun terdekat!

    Pria dengan usia lewat dari batas dewasa tidak akan selamat dari pertanyaan ‘kapan nikah?’. Pertanyaan itu seperti teror, dan terorisnya bisa dipastikan adalah ibu-ibu panitia social pressuretadi.

  2. 2 Perawan Lawas


    Perempuan itu tumbuh lebih cepat dibanding laki-laki karena pelajaran mengerjakan tugas rumah tangga sudah diajarkan sejak kecil, seperti memasak, menyapu dan mencuci. Laki-laki yang bisa masak di usia segitu paling-paling cuma “merebus” mie instant lalu dengan pede-nya hal itu dibilang “memasak”.

    Makanya, besar sedikit orang tua merasa cemas jika tidak ada Rama yang melirik. Sepeti tak percaya jodoh, para orang tua sangat terburu-buru mempertemukan Shinta mereka dengan pasangan hidupnya, apa mereka tidak takut kalau bertemu Rahwana?

    Bukan tanpa alasan, orang tua yang ingin segera menjodohkan anaknya justru karena tidak siap mendapat pertanyaan dan cercaan ibu-ibu nyinyir. Masih untung jika yang ditanya hanya orang tua. Jika yang bersangkutan, maka rasa sakitnya akan nempel lebih kuat daripada lintah, membekas tujuh turunan, diriwayatkan dari mulut ke mulut seperti Tutur Tinular.

  3. 3 Pasutri Infertil


    Jangan bayangkan selepas pernikahan kehidupan akan aman damai dari serbuan ibu-ibu social pressure. Mereka tidak akan berhenti mengintimidasi. Mereka terus bermunculan seperti kutu atau jelatang. Gatal sekali.

    Ada lebih banyak timbunan draf pertanyaan yang akan mereka lontarkan sehingga mirip kuisioner untuk pendataan calon Bupati, ribet sekali. Keterlambatan memiliki keturunan adalah salah-satunya. Dikira membuat anak semudah memanggang donat apa? Hingga tanpa mereka sadari kata-kata yang terlontar (bahkan kadang-kadang di depan umum) bukan hanya melukai, tapi menikam dan memusnahkan semangat hidup seseorang. Gitu emang kalau doyan ngomong tapi ogah mikir.

    Sebelum bertanya macam-macam bayangkanlah ini:

    Bujangan, perawan lawas, dan pasutri infertil memiliki tantangan masing-masing dalam hidupnya. Mungkin saja jodoh dan buah hati belum dikirimkan Tuhan karena berbagai alasan yang hanya Tuhan saja yang tahu. Lah, setelah dapat keturunan seperti Firaun atau Setnov yang bikin rusuh media di mana-mana (ini cuma contoh tapi mohon jangan dipakai) malah begidik ngeri dan gengsi. Gimana nggak ngeri? Fortuner aja dibenturin ke tiang listrik kayak mobil-mobilan lima ribu dapat tiga. Amit-amit, jabang baby.

    Setiap malam mereka berdoa dengan sepenuh jiwa untuk diberi kesempatan menjalani hidup normal seperti pasangan yang mampu menikmati kehidupan rumah tangga dan memiliki keturunan. Jadi jangan pernah menghakimi dengan dalih seolah peduli.

    Hidup itu kan bukan cuma urusan nikah dan beranak saja. Buktinya Tan Malaka, Leonardo Da Vinci, Ludwig Van Bethooven, bahkan ratu Elizabeth I memilih menjomblo sepanjang hayat. Mereka tetap dikenang sejarah karena jasa dan karyanya. Bukan kayak situ yang tiap hari kerjaannya cuma ngerat jari ngepoin rumput tetangga.

    Kita dan termasuk ibu-ibu panitia social pressure harusnya sadar kalau jodoh dan anak itu murni urusan Tuhan. Yang masih maksa ngurus dengan nanya kapan nikah dan kapan punya anak lebih baik magang jadi wartawan atau reporter aja biar bakatnya tersalurkan dengan baik. Kecuali negara bikin undang-undang baru; ngurusin hidup orang lain dapet honor setara PNS guru golongan 8A.

BERIKAN KOMENTAR

Pertanyaan (Teror) Ibu-Ibu Sebelum dan Sesudah Menikah

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF