Perahu Spiritual dan Perjalanan Seorang Hamba

Manusia sangat mungkin menciptakan kebebasan di antara hubungannya dengan alam dan manusia lainnya, namun ia tak pernah bebas dari tangan takdir dan skenarioNya.


Setelah Allah SWT menyusun dan menyempurnakan penciptaan manusia dengan susunan dan perangkat jasmaniah (jism), jiwa (nafs), akal (aql) dan hati (qalb), maka Dia lantas meniupkan ruhNya: Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29). Penyempurnaan susunan manusia ini yang memungkinkan penyandangan manusia sebagai khalifah (fi al-ardl). Sementara tugas kekhalifahan tak lain adalah untuk memancarkan sifat dan asma-Nya yang memancar melalui ruh-Nya. 

Maka ketika di alam ruh Allah SWT menegaskan; alasTu biRabbikum? Kemudian ruh-Nya sendiri (yang telah ditiupkan kepada manusia) menjawab: bala syahidna! Maka segala apa yang ada dalam diri manusia baik al-jism al-jasad, nafs, aql dan qalb dimaksudkan sebagai suatu struktur “bahtera” yang dilengkapi dengan hardware dan software untuk mengantarkan sang Ruh kembali pada-Nya. 

Seluruh potensi fitrah yang dimiliki manusia ini pada dasarnya untuk mengantarkan manusia mengucap “amin” terhadap perjalanan panjang “bala syahidna”. Itu sebabnya Dia adalah sumber utama “iman” yang merupakan hak preogratif-Nya, sebagaimana hidayah adalah berasal dari kehendakNya semata. Sementara peng-amin-an adalah wilayah ciptaan, yakni hak dari ruh-Nya yang termanifestasi dalam diri manusia. Dia pemilik sejati seluruh hak, kitalah yang berkewajiban meng-amin-kanNya. 

Dialah yang disembah, manusia hanya memiliki hak (tujuan) untuk menyembah (wa ma khalaqtu al-Jinna wa al-Insa illa li ya’buduun) karena kita berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya (Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun). Seluruh bentuk penyembahan atasnya adalah penempuhan perjalanan pulang ataupun kembali pada-Nya.   

Kebanyakan kaum sufi berpandangan bahwa manusia merupakan suatu mazhar (penampakan atau perwujudan) dari sifat dan asma-Nya. Manusia merupakan suatu bangunan mikrokosmos (al-Kawn as-Shagir) seumpama jagad raya kecil. Kedirian manusia sendiri secara jasmani maupun ruhani merupakan suatu totalitas mikro dari bangunan jagad ciptaan.  

Jasad, akal, hati dan jiwa dengan demikian memiliki peranan yang sangatlah penting untuk manifestasikanNya—selain hal itu tiada. Seluruh proses jagad raya sekaligus manusia itu sendiri adalah untuk menyebutNya, melakukan kesaksian terhadap keberadaan-Nya. Dalam suatu hadist qudsi dalam diri manusia terdapat suatu mahligai yang terdiri dari tujuh lapis tingkatan (sebagaimana langit yang terdiri dari tujuh lapisan): 

“Telah kami (Allah) bina/bangun dalam diri bani adam sebuah bangunan. Di dalam bangunan itu terdapat dada (1), di dalam dada terdapat qalbu (2), di dalam qalbu terdapat fuad (mata hati) (3), di dalam fuad terdapat syagaf (hati nurani) (4), di dalam syagaf terdapat lubb (lubuk hati) (5), di dalam lubuk hati terdapat sirr (6), di dalam rasa (sirr) terdapat Aku (7)”.   

“Allah bersemayam dalam hati seorang mukmin,” demikian dalam hadist qudsi yang lain Allah menegaskan bahwa rahasia kemahaluasannya hanyalah dapat ditampung di dalam hati seorang mukmin. Ruh yang ditiup dalam diri manusia ini selalu berada dalam keadaan suci dan terjaga. Manusia dijadikan khalifah-Nya karena mengemban misi mewujudkan sifat dan asmanya dalam seluruh tindak-tanduk pergerakan-Nya, untuk memelihara dan memakmurkan bumi. 

Manusia dibekali oleh suatu kemerdekaan (al-Hurriyyah) namun bukan kebebasan; manusia mungkin menciptakan kebebasan di antara hubungannya dengan alam dan manusia lainnya, namun ia tak pernah bebas dari tangan takdir dan skenarioNya. Kemerdekaan inilah yang mengantarkan  Ruh untuk senantiasa ber-musyahadah (melakukan kesaksian) atas-Nya. Sementara syariat dan ketentuan yang telah diturunkan-Nya melalui para rasul merupakan kitab bimbingan agar Diri manusia dapat mengamini kehidupan. 

Apa yang melekat dalam jasad kita merupakan “bahtera” mengarungi diri manusia sebagai hamba—mengantarkan ruh-Nya (sebagai sumber moral dan kemuliaan) kembali pada-Nya. Manusia juga dibekali jiwa (nafs),  sumber akhlak potensial pada manusia. Jiwa sangat mungkin untuk menjadi tercela; “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela.” (QS. 75:2) dan sebaliknya; “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. 89:27-30).  

Al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa, jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa insani inilah yang memiliki kecondongan dari segi daya berfikir (an-nafs an-nathiqah). Inilah menurut para pakar tasawuf falsafi merupakan bagian dari manusia yang hakiki, untuk melakukan pembeda, menakar realitas umum dan khusus. Melakukan peperangan secara terus menerus untuk memanifestasikan dirinya “Bala Syahidna”

Jiwa pada dasarnya memiliki sifat yang ambivalen; “Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan.” (QS.91:7-8). Hanya jiwa yang mencapai ketenangan dan kedamaian (an-Nafs al-Mutmainnah) setelah melalui peperangan melepas seluruh belunggu dan tabir realitas yang mampu terhubung secara langsung dengan ruh yang azali, yang bersemayam dalam setiap diri manusia.

Keparipurnaan manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91:8-9).

al-Ghazali berpendapat; bahwa Allah melimpahkan nur-Nya pada seseorang bukanlah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis, sepenuhnya bergantung dan melepas diri pada selain-Nya, memerdekakan nurani dari berbagai pesona dunia, dan menerima Allah segenap hati sebagai Rabb. Barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.

Itu sebabnya, perjalanan kesaksian untuk mengamini-Nya sebagai raja seluruh jagad penciptaan bukan perkara pemahaman semata. Tetapi melalui laku kongkrit, keluar dari akhlak tercela menuju akhlak terpuji, memanifestasikan asma-Nya dalam tindak laku sehari-hari. 

Dibutuhkan suatu totalitas kesadaran bahwa betapa urgennya jasad dan ruhani manusia untuk bersama-sama mengamini keberimanan atas-Nya. Bahwa setiap realitas merupakan al-Qur’an yang qadim, melihatNya dalam seluruh realitas sosial dan budaya sehari-hari. Melalui jasad dan rohani, melalui Islam, Iman dan Ihsan kesemuanya merupakan sarana paripurna untuk mengucap Amin terhadap Iman. 

Di sinilah letak kesempurnaan manusia di atas ciptaan (al-Khalaiq), dan kesemuanya itu hanya mungkin dibatasi oleh suatu tabir yang sangat halus dan tipis yakni “pengingkaran” atas realitas jagad semesta maupun jagad manusia kepada selain-Nya. 

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Pegiat budaya. Menulis esai dan catatan lepas serta semacam puisi. Sesekali juga melukis. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Perahu Spiritual dan Perjalanan Seorang Hamba

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF