Pengetahuan sebagai Minuman Ruhani

Belajar dari Ayat Epistemologis "قد علم كل اناس مشربهم"


Warisan kanjeng Nabi tak sekadar agama yang bersumber dari wahyu belaka. Secara metafor, wahyu pada dirinya memang datang dari Langit sebagai respon terhadap Bumi. Maka, antara Langit dan Bumi sebenarnya ada penghubung. Dengan penghubung itulah, Langit bisa membumi dan Bumi mampu melangit. 

Tentu ungkapan di atas bukan dalam artian spasial karena tulisan ini tak bicara soal astronomi, tetapi dalam pengertian maknawi. Untuk mengawali pembicaraan kita tentang proses saling-mengukuhkan antara Wahyu dan realitas manusia, kita memerlukan “batu pijakan” asumtif bahwa Wahyu dan Akal manusia sebenarnya tidak bisa diceraikan. 

Wahyu turun karena manusia berakal. Sebaliknya, manusia dengan akal-budinya menata wahyu menjadi sesuatu yang riil, yang membumi, dan bisa dihidupkan seiring dengan hembus nafas kebudayaan. Maka demikian, agama yang merupakan “jalan dan sarana” menuju Kebenaran akan melibatkan wahyu dan akal sekaligus dengan karakternya masing-masing. Melalui akal, wahyu bisa membumi menjadi pengetahuan. 

Namun, keterhubungan antara dunia manusia dan wahyu bukan tanpa persoalan. Selalu saja, di setiap kelokan dan persilangan sejarah, terjadi bias dan pembelokan yang tak semestinya. Ada kalanya, memang, keduanya bersitegang sehingga saling menggeser skala prioritas satu dengan lainnya. Mirip dengan hubungan asmara yang labil; kadang nyambung, lalu putus, nyambung lagi. Demikian seterusnya. Hal ini, sedikit banyak mendorong kita untuk melirik-kembali persoalan tentang “pengetahuan” (baca: ilmu dan/atau ma’rifah), yang dalam filsafat dilokalisir di dalam bidang “epistemologi”.

***

Epistemologi merupakan suatu cabang dari filsafat yang secara runtut membahas teori pengetahuan. Segala hal yang berkenaan dengan pengetahuan, seperti cara mengetahui, sarana mengetahui, sifat pengetahuan, watak manusia dalam tindak-mengetahui, dibahas demikian njelimet di dalam epistemologi.

Baca Juga:   Akar Rumput

Islam, sebagai warisan kanjeng Nabi Muhammad, termasuk agama yang menaruh perhatian lebih terhadap epistemologi. Di antara banyak ayat epistemologis, terdapat satu ayat yang inspiratif dan menjadi pusat-edar pembahasan tulisan ini. Ayat tersebut ialah:
“قد علِمَ كلُّ أناسٍ مشرَبـــَهم” 

Ayat yang berada di dalam Surat Al-Baqarah ini menceritakan kaum Nabi Musa yang ketika kehausan, dianugerahi minuman oleh Tuhan melalui tongkat Nabinya. Ketika tongkat tersebut dipukulkan pada batu, keluarlah 12 mata air sehingga 12 kelompok Kaum Israel mendapat sumber air minumnya masing-masing dan selamat dari dahaga. Barangkali ada hubungannya dengan latar belakang tersebut, ayat ini, sependek yang saya tahu, memiliki khasiat tertentu saat diwiridkan. Ia menjadi semacam mantra atau doa khusus yang mujarab. 

Selain itu, secara metaforik, ada hal lain di seberang literal-lahiriah ayat yang saya sebut epistemologi. Dengan menafsirkannya secara hermeneutik, seperti yang akan kita lihat kemudian, didapati panorama epistemologis yang indah dan inspiratif. Ayat tersebut, memang, sekilas menceritakan “legenda atau dongeng”, akan tetapi, bukan Al-Qur’an namanya jika tak bisa digeret ke perspektif yang lebih abstrak dan universal. Ini misalnya tampak ketika kita ‘menggunakannya’ untuk menyentuh topik utama epistemologi: “apa itu pengetahuan dan bagaimana sifat-sifatnya?”.el

Hal pertama yang dapat kita lihat adalah bahwa pengetahuan tak ubahnya “minuman ruhani”. Seperti halnya air, ia adalah penawar dari “rasa haus” kejahilan. Ruh kita, di saat kehausan dilanda terik kejahilan, memerlukan minuman untuk menjaga stabilitas demi terus bergerak dan hidup. Selain makanan, ia juga membutuhkan minuman yang segar dan menyegarkan. Nah, “minuman” pengetahuan itulah yang menyegarkan ruh. 

Baca Juga:   Balada Chairil dan Empat Kesepiannya

Dari sini, tampak pula bahwa salah satu sifat pengetahuan adalah “segar dan menyegarkan”. Artinya, ia menjadi sebab bagi bergairahnya ruh. Tetapi, tidak semua pengetahuan bersifat demikian, sebagaimana tak semua air segar dan menyegarkan. Dalam kiasan lain, yakni fiqh thoharoh (bersuci), kita mengenal konsep tak semua air suci mensucikan. 

Ada jenis air-air tertentu yang hanya segar di mulut, tapi tidak baik untuk kesehatan. Ada juga air yang tak segar, bahkan pahit, tetapi justeru menyehatkan. Ada pula air yang dasarnya segar, akan tetapi menjadi keruh ketika ditempatkan dalam wadah yang kotor. Ini kurang lebih sama dengan pengetahuan yang kita peroleh dari sumbernya dalam keadaan segar akan tetapi mendadak berubah keruh ketika meruang dalam diri kita. Gara-gara apa? Tak lain gara-gara keadaan ruhaniah kita sendiri yang blepotan dosa.

***

Banyak yang mungkin akan mengelak dan mengingkari adanya kaitan antara pengetahuan dan moralitas. Dengan dalih objektifitas dan kebebas-nilai-an pengetahuan, orang modern meyakini secara dogmatis bahwa ilmuwan tetaplah ilmuwan sekalipun ia penjahat. Memang benar. Persoalannya, pengetahuan kerapkali justru tidak menggerakkan aspek ruhaniah kita kepada tindakan yang lebih baik atau ke arah perbaikan-diri. Alih-alih menghidupkan ruhani, pengetahuan justeru mendorong pemiliknya ke arah negatif, semisal arogansi intelektual. 

Dari sini kita bisa melihat bahwa sekafir apapun seseorang, selama tidak sombong, ia masih bisa “diharapkan”. Sebaliknya, sebaik apapun seseorang, jika sudah dirasuki sombong, habis sudah! Artinya, salah satu prinsip yang perlu dipertimbangkan ialah bahwa arogansi merupakan tembok tebal pemisah antara manusia sebagai pemilik pengetahuan dan proses pencerahan eksistensial. Sebab, bisa jadi, kebudayaan post-truth jaman now membenamkan manusia ke dalam ambiguitas saintifik, di mana strukur pengetahuan yang menjulang justeru berbanding lurus dengan krisis eksistensial.

Baca Juga:   Togog dan Wayangan Politik Era Jokowi

Oke. Kita kembali kepada ayat tadi. Arti harfiyahnya kira-kira demikian: “Setiap golongan mengetahui tempat [sumber] minumnya masing-masing“. Tempat minum apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Untuk menjawabnya, kita bisa menghubungkan dengan konsep bahwa setiap golongan manusia-penahu (knower) memahami pengetahuan mana yang dikhususkan bagi mereka dan di “masyrab” (tempat minum) mana mereka mengambil ‘jatah’ masing-masing. 

Selain itu, kita bisa juga melihatnya dalam konteks tasawuf, sesuatu yang mirip filsafat tapi beda jalan. Tasawuf mengajarkan bahwa suatu “pengetahuan spesifik” tertentu diberikan kepada seseorang sesuai kesiapan ruhaniah (ahwal) orang yang bersangkutan. Mereka yang memiliki kesiapan lalu menerima pengetahuan makrifat biasanya kita sebut ahli makrifat. 

Di dunia sufisme, makrifat merupakan salah satu tanda spiritual seseorang yang dikarunia kewalian. Dengan berbedanya “kesiapan” ahli makrifat antara satu dengan lainnya, berbeda pula ‘kewalian’ seorang wali dengan wali lain sesuai “masyrab” tempat ia menimba dan mereguk air tadi. 

Bagi kita orang awam, sifat pengetahuan begitu menentukan karakter seseorang, seperti halnya kesiapan akal-budi yang menentukan jenis pengetahuan apa yang menjadi jatah masing-masing. Inilah hikmah bagi kita kaum awam, betapa keragaman pengetahuan sebenarnya beriringan dengan pluralitas latar belakang masing-masing individu dan keragaman ‘sumber air’ pengetahuannya. Hanya melalui dialektika sejarahlah, kebudayaan manusia mengalami dinamika positif ke arah yang lebih baik. 

Semoga!

BERIKAN KOMENTAR

Pengetahuan sebagai Minuman Ruhani

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF