Pemimpin dan Keseimbangan: Meneladani Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA


Apakah yang terlintas dalam benak kita, apabila menyaksikan sebagai  misal, seseorang yang memiliki kecakapan berjalan di atas tali dengan  ketinggian yang menakutkan? Tentu banyak kata yang muncul sebagai  jawaban, seperti berani, percaya diri, latihan yang terus menerus atau  bahkan gila.

Namun, satu kata yang barangkali luput dari kesadaran kita adalah  mengenai keseimbangan. Melalui latihan yang terus menerus dan istiqamah,  keseimbangan tubuh telah merubah seutas tali layaknya jalan yang begitu  lempang.

Begitu juga seorang pemimpin, amanah yang diemban tak ubahnya tali  yang memanjang di atas ketinggian untuk dilalui hingga sampai pada  tujuan. Keseimbangan adalah kunci menjadi berani, tenang dan tidak takut  menghadapi segala resiko yang mungkin saja berlaku.

Selanjutnya, bagaimana pemimpin dikatakan memiliki keseimbangan? Dan  benarkah keseimbangan membuat manusia menjadi berani? Dua pertanyaan  tersebut dijawab oleh catatan sejarah tentang dua sahabat terbaik  Rasulullah SAW, Sayyiduna Abu Bakar dan Sayyiduna Umar bin Khattab. Dua  insan mulia tersebut adalah contoh dimana saat mereka mengamalkan  keseimbangan bahkan memperjuangkan keseimbangan hidup orang ramai, rasa  takut tak pernah menghinggapi keduanya.

Sayyiduna Abu Bakar yang Lembut Tapi Tegas

Di awal kepemimpinannya, Sayyiduna Abu Bakar dihadapkan dengan banyak  kelompok yang menentang pembayaran zakat, mereka enggan membayar zakat  karena menganggap kewafatan Rasulullah SAW sebagai akhir dari kewajiban  menunaikan zakat. Dengan lantang dan tegas, Sayyiduna Abu Bakar  mengangkat pedang dan menyatakan perang atas mereka seraya berkata  “Pasti dan sungguh saya akan memerangı sıapa saja yang memısahkan  kewajıban shalat dengan kewajıban membayar zakat”.

Dalam kasus di atas, bagaimana sahabat terbaik Rasulullah SAW yang  terkenal akan kelemahlembutan dan kemuliaan akhlaknya bersikap begitu  keras? Lebih dari itu, walau ditentang banyak sahabat lainnya, Sayyiduna  Abu Bakar tetap melaksanakan kebenaran yang ia yakini; yakni memerangi  mereka yang enggan membayar zakat.

Baca Juga:   Tuhan, Agama dan Tragedi: Bagian I

Sayyiduna Abu Bakar adalah keteladanan dalam kelembutan dan keramahan  dalam bersikap. Tapi tidak dengan kemungkaran yang merusak keseimbangan  hidup orang ramai. Ketegasan yang ia tunjukkan adalah penyeimbang sifat  lemah lembut. Karena hidup selalu diwarinai dua sisi kehidupan.

Tegas dengan kejahatan adalah dari keseimbangan dalam memimpin. Bukan  karena benci, tapi maslahat lebih besar adalah tolak ukurnya. Tegas di  sini tetap dengan cara yang baik, karena membasmi kebatilan dengan cara  yang batil tidak mendatangkan sesuatu melainkan mudharat baru akan  timbul.

Jika pembuat kerusakan satu orang, rakyat lain yang terkena dampak  kerusakan akan berlipat-lipat jumlahnya. Begitu juga kerusakan hasil  dari keengganan membayar zakat, golongan penerima zakat yang dekat  dengan kesusahan ekonomi akan sangat cepat dan dekat dengan kehancuran.

Sadar atau tidak, uang zakat juga mampu mencegah tindakan kriminal.  Kesmiskinan banyak membuat orang tidak mampu berpikir sehat karena  himpitan ekonomi yang menjepit. Lebih dari itu, Zakat adalah kewajiban  dalam harta sebagai bukti nyata Islam peduli dengan mereka yang lemah  dan fakir demi selalu mengedepankan keseimbangan dalam hidup.

Sikap proporsional dan seimbang inilah yang kemudian menjadi jembatan  hubungan kita dengan Allah Swt melalui ibadah amalih dan di sisi lain  mengatur pola-pola hubungan horisontal sebagai kesalehan sosial dengan  sesama manusia.

Sayyiduna Umar bin Khattab, Keras Tapi Lembut

Contoh lain dari keseimbangan sikap seorang pemimpin adalah sayyiduna  Umar bin Khatthab, terkenal dengan tegas bahkan terkesan keras. Ketika  diangkat menjadi khalifah, ummat islam saat itu dibuat ketar-ketir  dengan pengangkatannya.

Baca Juga:   Empat Jurus Mencoblos dan Dicoblos

Hal ini dikarenakan di saat Baginda Muhammad Rasulullah SAW dan  Sayyiduna Abu Bakar masih hidup, Sayyiduna Umar bin Khattab begitu  ditakuti dengan sikap tegasnya. Di benak umat islam kala itu, Sayyiduna  Umar bin Khattab akan lebih tegas dan keras lagi sepeninggal nabi. Hal  itu karena Rasulullah dan Sayyiduna Abu Bakar telah wafat, keduanya  merupakan sosok yang palingdipercaya dapat meredam Sayyiduna Umar bin  Khattab saat bersikap keras.

Kenyataannya, di saat pidato pelantikan sebagai Khalifah, Sayyiduna  Umar bin Khatthab menampik ketakutan ummat islam saat itu. Dengan tegas  beliau menyatakan bahwa sifat tegas dan kerasnya hanya untuk mereka yang  berbuat kebathilan. Sedangkan untuk rakyat dan kebaikan, Sayyiduna Umar  bin Khatthab meyakinkan bahwa rakyat akan menjumpau dirinya sebagai  paling lembut diantara lainnya. Dus, sejarah telah mencatat kelembutan  yang tidak ditemukan dalam diri pemimpin setelahnya.

Allah SWT sendiri telah menggambarkan sifat-sifat dua insan mulia di  atas dan juga para sahabat lainnya dalam QS. Al-Hajj ayat 41, “Yaitu  orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi  niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat  ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah  kembali segala urusan”.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan;  setelah Allah SWT memberikan kemanangan kepada Rasulullah dan para  sahabatnya dan menjadikan mereka berkuasa, maka mereka selalu menegakkan  shalat, membayar zakat, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kepada  kemungkaran (Daaru Ibnu Hazm /1998).

Sayyiduna Abu Bakar dan Sayyiduna Umar bin Khattab, dua sahabat terbaik  Rasulullah dan pemimpim setelah Rasulullah, sikap keduanya selalu  dihiasi keseimbangan. Tidak hanya rajin menjaga shalat berjemaah, mereka  juga peduli dengan rakyatnya. Mengeluarkan harta, tenaga dan pikiran  untuk kepentingan ummat Islam tanpa mengharap balasan kecuali ridhaNya.

Baca Juga:   Ustadz Shomad dan Larangan Melucu bagi Da’i

Pemimpin yang begitu ramah dan menyambut hangat setiap kebaikan.  namun terhadap kemungkaran mereka menentang dengan lantang. Bahkan jika  kita membaca lebih dalam lagi, Surah Al-Hajj ayat 41 sendiri telah  menggambarkan bagaimana kehidupan seorang muslim seharusnya. Ayat  tersebut, tidak hanya untuk pemimpim atau mereka yang berkuasa, kita  semua tak luput dari kewajiban untuk bersikap seperti sifat-sifat mulia  sebagaimana tertera dalam ayat tersebut.

Kepemimpinan dengan keseimbangan yang dicontohkan oleh Sayyiduna Abu  Bakar dan Sayyiduna Umar menjadi warisan penting untuk kita lestarikan  dan lanjutkan. Demi kesejahteraan dan ketentraman hidup bermasyarakat.  Menjadi pemimpin harus memiliki keseimbangan dan keadilan yang tinggi.  Pemimpin tak ubahnya seseorang yang berjalan di atas tali dengan  ketinggian yang menakutkan. Sedikit saja keseimbangan hilang, celaka  akan datang. Artinya, pemimpin harus mampu menjaga

keseimbangan memposisikan diri sebagai tauladan dan penyeru kepadapa  kebaikan dan juga tampil gagah berani sebagai pencegah kebatilan.  Menyeru dan melakukan kebaikan saja tidak cukup untuk melahirkan  ketenteraman, kejahatan yang selalu mengintai juga harus dicegah.  Sebagaimana keshalehan sebagai hamba Allah dengan shalat, puasa, haji,  baca Al-Quran dan semacamnya tidak cukup untuk gelar “takwa”, takwa bagi  mereka yang juga mendatangkan kebaikan untuk yang dipimpin, mulai dari  keluarga, agama, bangsa dan seluruh manusia.

BERIKAN KOMENTAR

Muwafik Maulana
Alumni Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Pendidikan lainnya di tempuhnya di Universitas Al-Azhar, Mesir dan INCEIF, The Global University of Islamic Finance. Kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Economic and Muamalat di Universiti Sains Islam Malaysia - USIM.

Pemimpin dan Keseimbangan: Meneladani Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF