Pamor Pesantren Jombang (Bagian 1 dan 2)

Daya tahan fundamental pesantren bertumpu kepada kekuatan tradisi dan orientasi religius sejak dulu hingga saat ini.


Sejarah pesantren di negeri kepulauan ini tak bermula di Jombang.  Kenapa pamor pesantren di kota ini dipandang lebih bersinar? Jombang  laksana “Mekkah”-nya jagad pesantren sejak abad kemarin hingga sekarang.

Tercatat sejak paruh pertama 1800 terbenihkan rintisan awal  pesantren di Jombang. Wilayah ini dahulu menjadi tempat bermukim  pelarian politik Empu Sindok dari kerajaan Hindu Medang pada abad ke-9  dan menjadi bawahan imperium Hindu-Budha Majapahit pada abad ke-13  hingga abad ke-15. Semenjak abad ke-20 wilayah ini dikenal sebagai “Kota  Santri”. Evolusi geografis-religius di wilayah ini dijejaki pula oleh  misi Kristen awal di bagian selatan kota ini, Ngoro dan Mojowarno, pada paruh pertama abad ke-19. Dan klenteng di Jombang kehadirannya lebih  awal dari dua “agama langit” itu.

Perang Jawa (1825-1830) telah  berlalu kala itu. Setelah lima tahun berperang melawan pemerintah kolonial, sang pemimpin perang ini, Pangeran Diponegoro, ditangkap lewat  muslihat Jenderal de Kock, lalu dibuang ke luar pulau Jawa hingga  wafatnya di Makassar.

Pada dekade pertama pasca Perang Jawa,  seorang eksponen laskar Perang Jawa bernama Abdus Salam yang berasal  dari Demak merintis pesantren kecil dan sederhana di bagian utara  wilayah Jombang yang kini dikenal sebagai Tambakberas. Menantu dan  keturunannya mendirikan pesantren di Watugaluh,  Keras dan Cukir di  wilayah Jombang bagian selatan.

Pesantren asuhan Kiai Abdus Salam  berjuluk “pondok selawe” (pondok duapuluh lima) karena pada mulanya  santrinya berjumlah 25 dan ada pula yang menyebutnya “pondok telu” (pondok tiga) sebab yang diajarkan kepada para santrinya meliputi tiga  bidang pengetahuan — syariat, tarekat dan kanuragan.

Kiai Abdus  Salam lebih kondang dengan julukan Kiai Shoihah (Kiai Bentakan). Ada  tentara kolonial mengawasi gerak-gerik eksponen Perang Jawa itu. Dengan  berkuda tentara kolonial itu berpatroli ke pesantren Kiai Abdus Salam.  Dari atas pelana kudanya, tentara kolonial itu berbicara kepada Kiai Abdus Salam. Tak berkenan atas perlakuan tak sopan, Kiai Shoihah  membentak tentara itu dan membuatnya terjatuh dan tewas. Inilah  asal-usul julukan itu.

Mengabarkan sejarah pesantren di Jombang  bisa panjang kisahnya. Tulisan ini terus terang tak hendak mengemban  urusan kaum sejarawan itu.

Kiai Wahab Hasbullah dari Tambakberas  dan Kiai Hasyim dari Tebuireng bersama para kiai yang lainnya menggagas  Nahdlatul Ulama (NU) untuk merespons deru keislaman yang kaku di  jazirah Arabia dan mulai merambahi negeri kepulauan ini.

Baca Juga:   Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak

Lahirnya NU merupakan respons global atas arus besar Islam internasional  pada paruh pertama abad ke-20 — pasca keruntuhan kekhalifan Islam  terakhir, Turki-Usmani, serta mulai bertumbuhnya pusat paham Wahabi di  jantung jazirah Arab, Mekkah.

Sebelum NU berdiri, Kiai Wahab  Hasbullah telah membentuk dan menggiatkan organisasi Muslim tradisionalis dalam kancah pemikiran Islam, perekonomian, patriotisme  dan kepemudaan di wilayah Jawa Timur pada masa kolonial.

Kiai  Wahab pada masa kekuasaan Soekarno aktif berpolitik dan mendirikan  Partai NU yang menjadi salah satu dari 4 besar partai papan atas pada  masa revolusioner itu.

Kiai Hasyim adalah ulama terkemuka yang  kharismatik di bidang hadis pada khususnya dan menulis kitab-kitab yang  beragam disiplin ilmunya — kini terhimpun dalam kitab Irasyadus Sari.

Kiai Hasyim adalah pemimpin utama dan pertama NU. Gurunya para kiai  besar sesudahnya. Beliau ulama yang sohor sebagai figur besar dan  berpengaruh dalam pergerakan nasional pada masa Jepang dan perang  kemerdekaan.

Adik ipar Kiai Wahab, Kiai Bisyri Syansuri pendiri  pesantren Denanyar, dikenal sebagai ahli fikih yang sangat ketat dan  wibawa. Pemikirannya yang mendukung program Keluarga Berencana pada masa kekuasaan Soeharto dipandang kontroversial pada masanya.

Besan  Kiai Wahab, Kiai Romli Tamim dari pesantren Rejoso, pada masa kekuasaan Soekarno mengembangkan jamaah tarekat dan menjadi mursyidnya yang sangat  berpengaruh hingga sekarang.

Seorang putra Kiai Romli dan  sekaligus menantu Kiai Wahab, Kiai Mustain Romli, meneruskan dan membesarkan jamaah tarekat yang semula dipimpin ayahnya.

Kiai  Mustain menjadi kontroversi sengit di kalangan pesantren dan NU lantaran  beralih komitmen politiknya dari PPP ke partai pemerintah kala itu,  Golkar. Kiai Mustain “menerima” azas tunggal Pancasila satu dekade  sebelum Muktamar NU di Situbondo pada 1984.

Para kiai di Jombang  tersebut merupakan sebagian ikon yang berkiprah melampaui “batas  formal” pesantren. Suatu “nasionalisasi peran” yang signifikan dan  fundamental.

Ikon lainnya semisal Kiai Wahid Hasyim (ayahnya Gus  Dur) dari Tebuireng, salah seorang founding fathers NKRI. Juga Kiai  Maksum bin Ali dari Seblak, pengarang kitab yang kreatif dan orisinil sekurangnya dalam bidang astronomi dan linguistik yang diajarkan di  pesantren sampai saat ini.

Baca Juga:   Akar Rumput

Lantaran tonggak-tonggak kiprah  istimewa para kiai di Jombang itulah yang kemudian membuat pesantren di  Jombang berpamor besar hingga kini. Benarkah? Tentu ada faktor-faktor  lainnya yang bisa dijangkau daya pengetahuan.

Barangkali  penjangkauan itu bisa berangkat dari realitas empiris saat ini maupun  silam di Jombang untuk dapat melihat faktor-faktor tersebut.

Geografi Jombang sekitar 15 kilometer dari pusat Imperium Majapahit yang  eksis sekurangnya dua abad yaitu Trowulan. Majapahit adalah imperium  religius Hindu-Budha yang hegemonik dan ekspansif.

Pengaruh  imperium Majapahit amat mendalam. Setelah imperium ini mengalami  kemerosotan, tumbuhlah kekuatan kekuasaan baru dari pesisir Jawa bagian  utara: Kesultanan Demak. Kemudian di pedalaman Jawa bagian tengah  berdiri Kesultanan Mataram yang dirintis oleh Sultan Agung.

Misi  Islam yang terlembagakan di Jombang diperanutamakan oleh kiai. Pesantren  merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang paling utama di  negeri ini. Juga di Jombang. Sebelum ada sekolahan, pesantren menjadi  tempat utama masyarakat menimba pengetahuan.

Para kiai di Jombang  menerima deraan fisik dan non-fisik yang kadang amat berat dari luar lingkungan pesantrennya pada masa-masa awal kiprahnya. Para bandit tak  segan mengganggu para santri dan bahkan menantang duel para kiai di  Jombang kala itu.

Pada masa penjajahan, para kiai di Jombang dan  keluarganya mengalami tak sedikit kepedihan. Kiai Hasyim Asyari ditahan  oleh tentara Jepang dan menerima siksaan dalam penjara lantaran menolak ritual seikere — membungkuk ke arah matahari terbit setiap hari. Dan  tentara kolonial Belanda menembak mati Ishomuddin, putra sulung Kiai  Romli Tamim.

Pada masa kemerdekaan dan hingga sekarang, lembaga  pendidikan pesantren di Jombang masih informal — tanpa ijazah yang  diakui oleh pemerintah. Tak seperti lembaga pendidikan sekolah dan madrasah. Namun pesantren bertahan sampai hari ini.

Keterlibatan  para kiai Jombang dalam politik nasional tak jarang melahirkan risiko  besar bagi mereka. Kiai Wahab diejek sebagai “kiai nasakom” lantaran  mendukung kebijakan politik Soekarno. Kiai Mustain Romli “dikafirkan”  oleh kalangannya sendiri dan kalangan lain sejak ia berafiliasi ke  Golkar — partai pemerintah pada masa kekuasaan Soeharto.

Dalam  kebudayaan dan tradisi, pesantren di Jombang berdampingan dengan naluri  dan kebiasaan lama kolektif yang berakar kuat sekurangnya sejak era  Majapahit — umum disebut abangan. Kontestasi keduanya bagaimana pun tak  bisa dielak.

Baca Juga:   Ekspresi Musikal, Spiritualitas dan Anasir Keindahan

Pesantren saat ini di Jombang berhadapan dengan situasi zaman yang sungguh berbeda dengan masa sebelumnya.

Fanatisme terhadap partai politik telah luntur. Kesadaran ideologis  menjadi kian tipis. Kepentingan pribadi dan material menjadi orientasi  utama pada zaman ini.

Globalisasi di segala lini kehidupan  menumbangkan batas-batas yang dulu tebal menjulang. Kemajuan teknologi  informasi dan komunikasi membuat setiap orang bisa menerima pengaruh  dari mana dan siapa pun atau memberi pengaruh ke mana dan kepada siapa  pun.

Apa pemain utama pada era ini secara global? Liberalisme  yang disusupi agenda kapitalisme. Dalam dunia yang global ini, jika  hanya sibuk menghadapi Wahabi, ISIS, Ikhwanul Muslimin dan yang sejenisnya, berarti telah terkecoh oleh keadaan, dan hanya akan menjadi  dagelan dan omong kosong jika memusuhi semua itu sembari menerima dana  dari negeri liberalis-kapitalistik untuk program-program sekularisasi,  liberalisasi, pluralisasi, anti-diskriminasi dan yang sejenisnya.

Daya tahan fundamental pesantren bertumpu kepada kekuatan tradisi dan  orientasi religius sejak dulu hingga saat ini. Liberalisme dan  kapitalisme yang berorientasi serba-duniawi, individualistik dan hedonistik tak bisa tidak akan berhadapan dengan spirit religiusitas  yang berseberangan dengan semua orientasi itu. Demikian juga corak  radikal dan ekstrem dalam agama dan beragama akan berseberangan dengan  pesantren.

Pesantren sampai saat ini secara umum belum tergilas  arus besar liberalisme dan kapitalisme global. Bukan berarti tak ada  hempasan dari arus besar liberalisme-kapitalisme melalui kaki-tangannya  yang menadahi dana program untuk  melancarkan kepentingan arus besar itu  yang biasanya mengklaim diri berpandangan “Islam moderat”. Selain itu,  pesantren pun menerima desakan dan tantangan dari wawasan dan gerakan  Islam bercorak radikal dan ekstrem.

Singkatnya, pesantren  terhimpit di antara kepentingan kelompok Islam “garis keras” yang  berdalih melakukan penyelamatan ajaran Islam dari kerusakan dan  kepentingan kelompok kaki-tangan liberalisme-kapitalisme yang kerap  mengaku sebagai kelompok “Islam moderat” yang berdalih membela Islam  dari pengaruh dan rongrongan Islam “garis keras”.

Pamor  pesantren di Jombang akan menjadi rebutan kepentingan kelompok Islam  “garis keras” dan Islam “moderat” itu. Sebagai eksistensi dan simbol,  pesantren di Jombang sangat strategis dan bergengsi bagi kepentingan dua  kelompok itu.

BERIKAN KOMENTAR

Pamor Pesantren Jombang (Bagian 1 dan 2)

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF