Ngasango: Nganggit Jiwa, Ngolah Pikir

Lahir generasi bijak bestari yang tak bertuhan kepada kemuliaan serta generasi yang merdeka dan memerdekakan namun tak pernah bertuhan pada kebebasan.


Hingga terakhir kali diselenggarakan (Selasa, 17/4/2018) Ngasango  (Ngaji sambil Ngopi: Nganggit Jiwa, Ngolah Pikir) di pelataran Fakultas  Hukum Universitas Madura (UNIRA) dengan menghadirkan pemateri Kiai M.  Faizi, masih banyak saya temui hadirin yang bertanya tentang apa dari  Ngasango itu sendiri. Hal ini terasa wajar, karena umur perjalanannya  yang bahkan belum genap usia kandungan janin (sekitar 4 bulan).

Tak ada rumusan yang paling tepat barangkali untuk menjelaskan apa  dan bagaimana itu Ngasango, karena proses dialektikanya terus berjalan  seiring perjalanan Ngasango itu sendiri. Tak ada format yang benar-benar  baku untuk menggambarkan bentuknya, Ngasango didesain untuk selaras  dengan bagaimana dan di mana ia bertemu masyarakatnya—dengan demikian  diharap lebih pejal, cair dan memiliki kemampuan adaptif.

Bila pun ada kesalahpahaman yang kerap terjadi, biasanya hal itu  muncul karena banyak masyarakat atau pun hadirin menganggap Ngasango  layaknya pengajian (ceramah agama) pada umumnya. Kekurang-tepatan  persepsi itu dimungkinkan terjadi karena tradisi di Pamekasan khususnya,  forum keilmuan, ta’lim atau pengajian umum yang dihadiri oleh para Kiai  dan masyarakat umum katakanlah (di luar institusi perguruan tinggi)  bersifat monolog (non dialog), sementara Ngasango hadir sebaliknya.

Ini sama sekali bukan soal untuk menjadi nyentrik, hal ini berkenaan  dengan corak keragaman sosok-sosok di dalamnya yang dapat dikatakan dari  lintas disiplin yang beragam. Ini kemudian yang menentukan corak dan  pola Ngasango. Lain daripada itu Ngasango adalah media pembelajaran dan  pembudayaan. Mengapa pembelajaran, karena ia bukan suatu upaya transfer  nilai satu arah. Hadirin dan para anggotanya bahkan terlebih dahulu  dapat melemparkan soal-soal dan paradigmanya perihal suatu tema yang diangkat.

Pemantik, hanya merespon berupaya memberikan penguatan melalui  nash-nash dan pemahaman lain dari sisi agama, sosial dan kebudayaan.  Jawaban tak selalu ditemui melalui pemateri yang kebetulan dihadirkan,  akan tetapi bisa datang darimana saja. Dialog juga dibiarkan mengalir  dan pelahan merambah wilayah lain, terkadang mengerucut terkadang  melebar.

Pembudayaan, karena Ngasango sebagai suatu ruang bertemu (Rendezvous)  suatu kesadaran “Belajar sampai Bodoh”, guna menginsyafi kemutlakan  kebenaran adalah milikNya semata. Bila pun ada pengetahuan di tangan  manusia, ia cumalah secuil layaknya celupan jari kelingking di luasnya  samudera makrifatNya.

Kiai Abdul Hamid Rabah misalnya, memberikan suatu gambaran: Ngasango sebagai bentuk upaya problem solving bersama (keummatan), persuasif dan lebih dekat, saling menjabat  emosional dan merangkul persoalan keummatan dimulai dari persepsi  masyarakat akar rumput (Grass Root). Suatu metode dakwah bernuansa kultural untuk mensiasati kompleksitas masyarakat zaman now.

Ngasango tentu bukanlah satu-satunya jawaban atas seluruh  problematika yang ada, bahkan ia tak pernah sama sekali memposisikan  dirinya sebagai suatu jawaban yang akan mengentas banyaknya  persoalan—hal yang juga selalu ditekankan oleh Kiai Mulqi. Sementara  Kiai Achmad Fauzan Badruddin, selaku motor penggerak lokomotif Ngasango,  ia berharap bahwa Ngasango juga menjadi wadah pemberdayaan  pribadi-pribadi yang dapat berdampingan dengan masyarakt secara  langsung.

Ngasango setidaknya merupakan suatu upaya membentuk  lingkaran-lingkaran munajat, lingkaran harapan, medan dialektis ataupun  pusaran untuk menyambung optimisme akan tali rahmatNya: La taqnatuu min  rahmatillah. Kala kita sama-sama menginsyafi bahwa bila akal dan budi  manusia terbentur kebuntuan, ketika realitas kehidupan tak selalu mudah,  syafaat Nabi dan kuasaNya sudi mengentas dan menganggit jiwa kita ke  jalan tol: Shirat al-Mustaqiem.

Karena sejak awal dan akhir dari itikad kebudayaan manusia, ujung  dari perjalanan jiwa manusia semata untuk bermusyahadah atas pertanyaan  azali alasTu biRabbikum? Upaya bermusyahadah kepadaNya sebagai Rabb yang  maha memelihara dan bermusyahadah atas diri sebagai abdi, terus menerus  berlangsung dalam sejarah kosmologi kebudayaan kita.

Gema dari pertanyaan azali itu telah menciptakan tatanan budaya,  melalui perumusan ilmu agama dan pengetahuan, konseptualisasi jiwa  manusia, pelayaran menemukan dunia-dunia baru, penaklukan-penaklukan,  bangun dan runtuhnya peradaban, hingga melalui eksplorasi-eksplorasi  bintang dan kosmos. Hingga tiap perjalanan adab manusia akan tiba pada  suatu titik nadir penyaksian, suatu tapal batas untuk meraih keyakinan  mengucap: Bala Syahidna!

Saya sangat bersyukur, karena di balik seluruh laku dan perjalanan  Ngasango kita didukung oleh sosok yang berkompeten di bidangnya. KH. M  Musleh Adnan, muballigh kondang Madura yang secara tidak langsung  berpartisipasi aktif dalam menjadi penasehat kultural Ngasango, Lora  Muhammad Abbas Katandur (kiai muda dengan wawasan tinggi dan berwawasan  budaya) yang baru saja berangkat menimba ilmu ke Yaman di bawah asuhan  Habib Umar bin Hafidz yang didapuk sebagai pembina. Juga KH. Basri Hasan  yang penuh telaten membuka diri untuk menjadi tempat konsultasi, serta  kini kian dilengkapi oleh Kiai M Faizi Guluk-guluk (tokoh pesantren dan  pelaku budaya) berperan serta menyepuhi itikad ini.

Penuh kerendah-hatian kita sama-sama berharap dari seluruh proses  kemanusiaan ini—bersama dan melalui media dakwah apapun yang ada dengan  coraknya masing-masing—lahir sebuah generasi berakal yang tak bertuhan  pada ilmu. Lahir era kepemimpinan yang tak bertuhan pada kekuasaan.  Lahir generasi bijak bestari yang tak bertuhan kepada kemuliaan serta  generasi yang merdeka dan memerdekakan namun tak pernah bertuhan pada  kebebasan.

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Pegiat budaya. Menulis esai dan catatan lepas serta semacam puisi. Sesekali juga melukis. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Ngasango: Nganggit Jiwa, Ngolah Pikir

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF