Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak


Anak-anak kerap lebih senang meniru yang dilihat dan disaksikannya  dibanding terlebih dahulu mencerna perintah dengan kata-kata. Karena  meneladani bagi mereka lebih terasa mudah dan menyenangkan daripada  diminta untuk memahami dan melakukan apa yang kita inginkan. Dunia anak,  merupakan dunia yang sangat rentan terbawa emosi saat berinteraksi  dengan kita dan orang-orang di sekitarnya; mudah bahagia, menangis,  tertawa atau seketika mudah kesal dan tentu saja kerapkali kecewa.

Sebagai orang tua kita dituntut untuk memahami dan menyadari bahwa  anak-anak kita tak selamanya mudah memahami perintah kita. Banyak kata  yang membuat mereka rumit dan membingungkan hingga sukar mengerti  bagaimana mewujudkan kata-kata tersebut dalam suatu tindakan yang tepat.  Emosi yang tak menentu, mereka membutuhkan waktu untuk mencerna hingga  tak jarang lambat melaksanakan apa yang kita maksudkan.

Tak ayal saat kita meminta anak melaksanakan suatu hal, terkadang  mereka lambat mematuhi, merasa terpaksa, melaksanakan dengan muka masam  dan bahkan enggan melakukannya. Keadaan yang berbeda akan kita jumpai  bila anak-anak kita berbuat sesuatu atas dasar mengikuti, meniru atau  meneladani kita sebagai orang tua. Sang anak melakukan tanpa diminta  apalagi dipaksa. Anak begitu cepat menyontoh dengan melakukan apa yang  kita lakukan.

Pertanyaannya adalah,  berapa banyak kata-kata perintah dan teguran  yang kita gunakan terhadap anak kita? Dan berapa banyak teladan yang  telah kita contohkan kepada anak kita?

Syekh Allaamah Muhammad AzZarqaa` Mendidik Dengan Teladan

Perkataan tidak saja kerap susah dipahami oleh anak-anak, bahkan  orang dewasa sekalipun terkadang susah atau memerlukan waktu untuk  mencerna. Untuk memahami perkataan tidak saja memerlukan keceradasan  tapi juga perasaan dan emosi yang stabil dan pikiran yang tenang.

Bila orang dewasa saja terkadang tak mampu memahami perkataan dengan  baik, bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak yang begitu aktif, di mana  rasa takjubnya begitu besar terhadap hal-hal yang baru ia temui,  anak-anak yang hanya boleh fokus dalam sesaat saja dan anak-anak yang  masih mudah menangis.

Baca Juga:   Tasawuf ala Nabi Muhammad SAW

Hal ini menuntut kita untuk belajar dan memahami kondisi (kejiwaan  dan emosi) anak saat menjadi teman bicara atau meminta mereka berbuat  sesuatu. Di saat mereka lamban atau enggan melakukan yang kita perintah,  mungkin saat itu mereka lelah, kecewa, mengantuk atau mereka  benar-benar belum mengerti apa kata kita.

Rasulullah SAW pernah mengalami hal serupa tatkala usai Perjanjian  Hudaibiyah. Di saat sahabat diminta untuk menyembelih kurban, para  sahabat begitu lamban melaksanakan perintah Rasulullah SAW. Bukan tidak  faham, tapi emosi para sahabat saat itu tak tentu arah. Perjanjian  hudaibiyah membuat para sahabat begitu kecewa karena tak mampu  melaksanakan ibadah haji. Hasilnya, para sahabat dilimuti perasaan yang  tak menentu. Mulai dari kecewa, kesal, marah dan sebagainya.

Solusinya adalah tindakan nyata, Rasulullah SAW pun mengawali  menyembelih kurban sebagai bentuk teladan kepada para sahabat. Setelah  para sahabat melihat Rasulullah SAW menyembelih kurban, dengan cepat  para sahabat pun melakukan apa yang Rasulullah SAW lakukan.

Hal di atas karena teladan merupakan ajakan dan pendidikan terbaik  untuk melakukan sesuatu, ajakan terbaik untuk beribadah adalah dengan  teladan yang baik bagaimana beribadah dengan benar. Begitu juga ajakan  terbaik untuk belajar adalah teladan yang baik bagaimana belajar dengan  semangat dan penuh cinta.

Demikianlah yang dilakukan oleh Syekh Allaamah Muhammad AzZarqaa`  seorang faqih terbesar dalam madzhab Hanafi di zamannya dalam mendidik  anak. Menjadi teladan yang baik bagi sang anak adalah jalan yang beliau  pilih dalam mendidik puteranya (Syekh Musthafa Ahmad) dengan selalu  memberi contoh kepada anaknya bagaimana menyintai ilmu. Mulai dari  membaca, menulis, mengajar dan berdiskusi.

Baca Juga:   Istiqamah Mendidik dalam Segala Situasi

Hasilnya, Syekh Musthafa Ahmad yang dikenal dengan Syekh Ahmad menjadi ulama besar dan mendapat gelar“Faqiihus Syaam”.  Hal tersebut karena Syekh Ahmad selalu mendapati teladan yang baik,  tidak saja di rumah tapi juga di majlis-majlis ilmu selalu menjumpai  bagaimana sang ayah belajar dan menyintai ilmu.

Sangat masyhur bahwa majlis ilmu Syekh Allamah Muhammad Az-Zarqaa`  tidak saja dihadiri oleh santri para penuntut ilmu, para ulama di  zamannya juga begitu banyak yang turut duduk mendengarkan dan mengambil  pelajaran dari beliau. Dan diantara santri yang selalu hadir adalah  putera beliau yang selalu dibawa oleh beliau untuk meneladani beliau  dalam hal kecintaan keapada ilmu. Akhirnya, Syekh Allamah Muhammad  Az-Zarqaa` pun mampu mendudukkan puteranya untuk duduk bersama para  ulama yang hadir di majlis ilmu guna mengambil pelajaran darinya.

Syekh Ahmad bercerita dalam kitabnya Syarhul Qawaid al-Fiqhiyyah bahwa  dirinya telah membaca, memahami, mendiskusikan dan menganalisa berbagai  kitab baik fiqih, hadits, tafsir bersama sang ayah Syekh Allamah  Muhammad Az-Zarqaa`. Diantaranya adalah kitab “Tabyiinul Haqaaiq ala Kanzid Daqaaiq” kitab  fiqih Hanafi yang memuat seluruh permasalahan fiqih Hanafi karangan  Syekh Imam Al-Faqih Fakhruddin Ali bin Utsman AzZaylaii. Begitu juga  Kitab fiqih Hanafi lainnya seperti Bada’ius Shana’i fi Tartiibis Syara’I karya Imam AlKasani dan kitab Al-Asybaah wa an-Nadzair karya Syekh Allaamah Zainuddin ibnu Najiim. (Darul Qalam/2001)

Kisah di atas, sungguh memukul kesadaran kita kita untuk memutar  kembali bagaimana kita mendidik anak selama ini. Kita yang lebih banyak  memerintah dan sedikit memberi teladan. Kita yang terlalu sering  memposisikan anak layaknya orang dewasa. Meminta mereka mengangguk tanda  memahami perkataan kita dan bahkan terkadang memaksa mereka melakukan  apa yang kita kehendaki—tanpa terlebih dahulu memberikan pemahaman—walau  mereka tidak mengerti.

Baca Juga:   Surga dan Neraka, Siapa yang Paling Berhak ?

Lebih buruk lagi, kita memposisikan diri kita sebagai raja dan anak  kita adalah hamba sahaya. Alasanya, kita yang memberi makan, kita yang  memenuhi keperluan mereka dan juga karena kita mereka ada. Maka apapun  perintah yang diucapkan, anak harus segera melaksankan tanpa  mempertimbangkan karakter anak yang lebih memerlukan teladan daripada  ucapan.

Ingatlah bahwa anak bukan sekedar warisan biologis, anak adalah  amanah, dan amanah harus dilaksanakan dengan baik. Amanah yang kelak  akan dimintai pertanggung jawaban. Demikianlah landasan berfikir yang  benar, cara pikir yang mampu menuntut dan mendorong kita untuk mendidik  anak dengan usaha dan cara terbaik.

Sementara tak ada cara terbaik mendidik anak selain teladan, maka berkatalah kepada anak “bacalah  nak seperti kamu melihat ayah dan ibumu rajin membaca, mengajilah nak  seperti ayah dan ibu selalu mengaji, semangatlah nak seperti ayah dan  ibu semangat menafkahimu, mendidikmu, memasak untukmu dan meyiapkan  seluruh keperluanmu” dan begitu seterusnya.

Sungguh memberi teladan kepada anak adalah sikap profesionalisme  dalam mendidik. Professional karena mendidik dengan proporsional,  menempatkan orang tua sebagai orang tua dan anak sebagai anak. Kisah  Syekh Allaamah Muhammad AzZarqaa` dengan memberikan teladan yang baik  kepada puteranya Syekh Musthafa Ahmad seperti diceritakan di atas,  merupakan gambaran bagaimana memposisikan orang tua sebagai orang tua  dan anak sebagai anak. Kisah tersebut seakan menuntut kita berkata, “cintailah ilmu seperti ayah mencintai ilmu”.

Demikian diajarkan oleh Rasululllah, mendidik dengan teladan.  Rasulullah SAW pun memerintah ummatnya melaksanakan shalat dengan  sabdanya “shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat”.

BERIKAN KOMENTAR

Muwafik Maulana
Alumni Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Pendidikan lainnya di tempuhnya di Universitas Al-Azhar, Mesir dan INCEIF, The Global University of Islamic Finance. Kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Economic and Muamalat di Universiti Sains Islam Malaysia - USIM.

Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF