Mengenang Guru Kita: KH. Abd. Mannan Fadholi (PP. Miftahul Qulub, Galis, Pamekasan)

ولدتك أمك يا ابن آدم باكياً .. والناس حولك يضحكون سرورا فاعمل لنفسك كي تكون إذا بكوا .. في يوم موتك ضاحكاً مسرورا


Tak salah apa yang kiranya pernah kita dengar dari sesepuh terdahulu bahwa keberadaan manusia itu dapat terbagi menjadi empat macam golongan: Pertama, mereka yang hidup dan (dianggap) hidup oleh orang lain. Kedua, mereka yang mati karena ruh telah terpisah dari wadag atau tubuhnya. Ketiga, mereka yang hidup tapi (orang lain menganggapnya) mati, bahkan keberadaannya diharap dan didoakan oleh orang lain segera mati, karena tak diharapkan karena orang lain merasa tertangganggu atas perbuatan zalim dan jahatnya. Keempat, mereka yang telah wafat, tapi (dianggap) hidup dalam kesadaran dan hati masyarakat dikarenakan jasa dan kebaikannya bagi orang lain.

Hari Guru Nasioanal baru saja berlalu, namun rasanya pengabdian dan usaha untuk selalu mengenang jasa seorang guru setiap saat mesti dilakukan. Oleh karena itu, teringatlah saya kepada sosok Kiai karismatik, murah senyum, tawadhu (low profile) dan jauh dari tindak-tanduk yang jaim (baca: jaga image). Beliau adalah Pengasuh PP. Miftahul Qulub, Polagan, Galis, Pamekasan, yakni: almarhum KH. Abdul Mannan Fadholi.

Pada tanggal 27 Maret 2016, beliau terpilih menjadi Rais Syuriah PCNU Pamekasan dan bersama itu pula KH. Taufik Hasyim sebagai ketua Tanfidziyah NU Pamekasan pada tanggal yang sama. Sangatlah besar harapan warga NU Pamekasan agar dengan terpilihnya dua Kiai ini, NU di Pamekasan secara khususnya tumbuh kembang semakin baik; meluas, merata dan terlaksananya dengan baik amanah Muassis NU KH. Hasyim Asy’ari yang tertuang dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama senantiasa menjadi ruh ajaran Ahl as-Sunnah Wa al-Jama’ah di bumi gerbang salam (Pamekasan) ini.

Baca Juga:   Istiqamah Mendidik dalam Segala Situasi

Namun, Allah berkehendak lain. Belum tunai masa jabatan KH. Abdul Mannan , pada 15 juli 2017 KH. Abdul Mannan Fadholi mangkat dipanggil ke Hadrotillah. Pagi itu semua orang yang mendengar kabar wafatnya beliau seakan tak percaya, kepergiannya terasa begitu mendadak bagi segenap warga Nahdliyyin yang memiliki harapan besar atas peranan beliau sebagai seorang guru sekaligus Rais Syuriah, terbersit rasa tak rela ditinggal beliau dalam waktu sesingkat ini.

Tak lama saya mengenal beliau secara pribadi. Selain, saya sendiri memiliki rasa sungkan pada beliau, hal ini dikarenakan saya tergolong warga baru di Pamekasan. Namun dalam waktu yang singkat ini pula, tak menghalangi sosok beliau hadir sebagai seseorang yang memberikan banyak ilmu kepada saya, baik secara langsung maupun apa yang saya khidmati dari gerak-gerik beliau yang diliputi akhlak al-karimah.

Beliau adalah seorang putra Kiai terkenal di masanya: KH. Fadholi Siraj, perintis PP. Miftahul Qulub yang beralamat di JL. Masaran Dusun Polagan Utara RT/RW 01/02 Desa Polagan Galis Pamekasan. Beliau juga merupakan putra mantu Kiai besar KH. Abdul Hamid Mu’in, pengasuh PP. Miftahul Ulum Bettet, salah satu pondok pesantren ternama di Pamekasan. Pondok pesantren yang didirikan sejak 33 tahun sebelum kemerdekaan RI, tepatnya pada tahun 1912 oleh KH. Sirojuddin.

Baca Juga:   Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak

Namun kebesaran nama beliau bukan hanya karena beliau merupakan keturunan atau pun putra Kiai ternama dan sekaligus putra mantu Kiai yang dihormati dan disegani, tapi juga karena beliau secara pribadi merupakan pribadi yang ikhlas, telaten mengurus santri dan masyarakat, juga karena dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar memakai cara yang ma’ruf pula.

Pernah pada suatu malam, saya berkesempatan berada dalam satu panggung bersama beliau dalam acara rutin Majlis Maulid wat Ta’lim Riyadul Jannah korda Madura di salah satu desa di kecamatan yang ada di Pamekasan. Beliau sendiri kala itu sebagai Rais Syuriah MWC NU di kecamatan tersebut. Ketika tiba giliran saya memberikan ceramah, beliau sempat berbisik kepada saya sebelum saya naik ke panggung, “tolong jangan terlalu keras menyinggung kelompok tertentu yg berbuat maksiat walaupun santer kabar di tempat ini ada tempat maksiat, berilah ceramah tentang ajaran Islam yang kaffah saja tapi dalam hati marilah kita doakan semoga dengan penjelasan islam kaffah tersebut mereka mendapat hidayah.

24093870_10210563376506067_560519284_o.jpg(Keterangan Foto: KH. Abd. Mannan Fadholi (Kanan) bersama seorang Alumni Bettet A. Busiri,Terrak, foto diambil 15 hari sebelum beliau wafat).

Petuah yang indah dan santun dari beliau ini masih sangat melekat dan berbekas dalam hati saya. Dawuh tersebut mencerminkan bahwa beliau tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain walaupun ahli maksiat—karena bisa saja bila pelaku maksiat suatu saat diberi hidayah oleh Allah akan menjadi pribadi yang baik dan husnul khotimah.

Pada bulan Ramadhan 1438 H, saya diundang oleh pihak kampus UIM (Universitas Islam Madura) yang ada di PP. Miftahul Ulum Bettet. Guna menyampaikan kajian Ramadhan pada acara bukabersama yang diikuti Majlis Keluarga pengasuh, rektorat, dosen, karyawan dan sebagian mahasiswa. Pada acara tersebut saya bertemu kembali dengan Kiai yang murah senyum ini.

Baca Juga:   Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an (1)

Setelah tugas saya selesai sampailah pada waktu yang ditunggu-tunggu “adzan maghrib. Saya dipersilahkan masuk ke ruang rektor untuk menikmati hidangan buka puasa bersama para masyaikh Bettet, kurang lebih 20 menit di ruangan tersebut saya asyik berbincang dengan Almarhum dengan tema macam-macam mulai tema ke-Nu an, kepesantrenan, Travel Umroh dan akhirnya beliau berpesan kepada saya: “jangan pernah bosan melayani umat!

Siapa menyana, pesan singkat dan mendalam itu menjadi pesan yang terakhir sekaligus pamungkas dari perjumpaan kami. Sungguh, walau pun tidak pernah mondok di pesantren beliau dan tidak pernah mengaji secara langsung kepada beliau, saya akui bahwa beliau adalah guru saya. Beliau telah mengajarkan banyak hal kepada saya terutama “lisan  al-haal” (suri tauladan) beliau telah sedikit banyak merubah kehidupan saya.

Semoga beliau selalu dalam naungan rahmatnya, diampuni dosa-dosanya, digolongkan sebagai hambanya yang mulia dan bernaung di surga Allah Swt. Amin. Lahu al-Faatihah.

 

BERIKAN KOMENTAR

M Musleh Adnan
Muballigh Madura yang kini menetap di Pamekasan. Disayang dan menyayangi masyarakatnya.

Mengenang Guru Kita: KH. Abd. Mannan Fadholi (PP. Miftahul Qulub, Galis, Pamekasan)

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF