Mendirikan Diri, Menopengkan Topeng

Seringkali kita menganggap apa yang kita proyeksikan tentang diri kita adalah sejatinya “diri” kita.


Seringkali kita menganggap apa yang kita proyeksikan tentang diri kita adalah sejatinya “diri” kita. Ilmu dan peghayatan pengalaman kita gunakan untuk sebisa mungkin untuk membangun peranan dalam kehidupan kita ini. Seakan diri kita layaknya sebuah subjek yang sepenuhnya dapat merancang dirinya sendiri. Kita sangat mudah terjerumus dalam diri yang “semu”, dan hanya dilahirkan oleh angan-angan yang terlampau panjang.

Kondisi sesungguhnya dari keberadaan kita senantiasa dikejar oleh belenggu duniawi, hal ini lumrah. Namun seringkali kita tak menyadari bahwa antropesentrisme modern menciptakan segala pernak-pernik dan kebutuhan-kebutuhan semu, pasar dan iklan membuat apa yang dahulu tak penting menjadi sekan-akan bagian dari tubuh kemanusiaan kita, bagian dari peneguhan identitas personal pribadi kita. 

Jalaluddin Ar-Rumi berkata: Para cendekiawan lazim berdebat sengit mengenai bidang keahlian yang mereka geluti—padahal diri mereka itulah yang banyak mempengaruhi mereka. Mereka menetapkan ini benar dan itu salah, namun dalam hubungannya dengan diri mereka sendiri, mereka tak mengetahui apa-apa sehubungan dengan kebenaran dan kemurniannya. 

Anjuran untuk bertafakkur merupakan hal yang penting, sehingga Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa berfikir lebih baik dari ibadah dalam setahun. Suatu malam Rasulullah menangis, dan bilal bertanya: mengapa engkau menangis ya Rasulullah, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang kemudian?

Rasulullah menjawab: bagaimana aku tidak menangis wahai Bilal, sementara di malam ini Allah menurunkan padaku bahwa dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Kemudian beliau bersabda: celakalah bagi mereka yang membacanya lantas tidak memikirkannya.

Imam Al-Ghazali selanjutnya menganjurkan bahwa sasaran tafakkur dan renungan adalah “diri” lalu kemudian semua makhluk Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Pikirkanlah tentang makhluk Allah dan jangan memikirkan tentang Allah SWT, karena kalian tidak akan dapat menghargai Allah SWT dengan penghargaan yang semestinya”. Allah SWT berfirman: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (QS. AD-Dzariyaat: 21). 

Kita barangkali akan mudah menampik dan melihat persoalan “diri” sebagai suatu diskursus yang tak penting ditimbang soal-soal ekonomi, politik, budaya, astronomi dan sains bahkan soal mendirikan negara Islam yang kerapkali kita takar lebih mulia. Namun kita lupa bahwa segala perwujudan yang tampak dalam realitas kita pada mulanya berawal dari tiap diri. Kita alpa bahwa agenda mendesak adalah penemuan “diri” dari banalitas hidup, bukan justru melekatkan seluruh pernak-pernik dan kesibukan yang sesungguhnya mengasingkan kita dari “diri” sendiri.

Kita tak hendak berupaya untuk menghentikan sandiwara, karena Allah SWT menegaskan bahwa hidup merupakan “permainan dan senda gurau” belaka. Kita hanya bertugas melaksanakan “peranan” pada fungsinya masing-masing, melampaui kemanusiaan setingkat lebih tinggi menjadi “ke-khalifah-an” (khalifah yang bukan dalam artian yang akhir-akhir ini beken). Kita sejatinya cuma wayang, Dialah sang sutrada sejati. 

Apa yang disandangkan kepada kita tak lebih adalah peranan, termasuk kemanusiaan kita sendiri. Memahami bahwa betapa topeng senantiasa tak hanya menipu yang liyan, tapi kerapkali menipu diri kita sendiri—karena menganggap reprentasi yang sesungguhnya tempelan adalah diri kita yang sejati. Lalu kita menjadi congkak dan pongah terhadap “topeng” yang palsu, lantas membangun peradaban dengan cara yang buta dan merusak: janganlah kau rusak bumi, setelah kami (Allah SWT) membenahinya.

Muhammad Iqbal menulis dalam syairnya: Diri adalah azimat ciptaan/satu-satunya pelindung kita/laksana hidup dia lah yang pertama kali memancar/bila hidup mampu membangunkan dia dari tidurnya/maka hidup akan berkembang bersama Diri. Dalam syairnya yang lain ia menulis: O, katakan padaku siapa gerangan diriku dan terangkan/Apakah gerangan tujuan penyelidikan diri?

Kita mesti mampu memilah mana “topeng” yang telah dilekati oleh sistem sosial dan kebudayaan dengan mana “diri” yang sejati. Agar kita tak tertipu oleh proyeksi semu yang kita bangun melalui aksesoris mundan dari abad modern dan menganggap bahwa “topeng” itulah diri kita yang sejati. Agar kita senantiasa arif terhadap setiap perkembangan mendesak yang datang dari roda zaman yang terus berputar.

Kita telah dibekali suatu misykat cahaya agar “diri” sejati terjaga kemurniannya. Lapisan mangkuk cahaya yang berpendaran ini, walaupun dapat menembus segala sesuatu, apabila kita rajin menutupinya dengan label dan pernak-pernik duniawiyah maka tak menutup kemungkinan “diri” terhijab. Lalu kita mengimani topeng sebagai diri sejati, menganggap kebenaran kita adalah kebenaran tak tergoyahkan, menjadi kepala batu untuk menerima kebenaran yang lain.

Dalam suatu kondisi seperti ini, walau banyaknya perkembangan peradaban akan miskin membuahi kemaslahatan. Chaos menjadi langganan , pertikaian dan prasangka menjadi deras tak terbendung!

Sumber Ilustrasi

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Pegiat budaya. Menulis esai dan catatan lepas serta semacam puisi. Sesekali juga melukis. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Mendirikan Diri, Menopengkan Topeng

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF