Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an (1)

"Engkau mengharap kesuksesan namun enggan melalui proses mencapainya. Ketahuilah bahwa perahu tidak pernah berjalan di atas daratan"


Siapakah yang tak mendamba memiliki generasi Qur’ani? Melihat generasi kita pandai melafalkan bacaan Qur’an, memahami arti dan maknanya, bahkan dapat menghafalnya sungguh merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. 

Namun, saat ingin mulai mengajar anak untuk dekat dengan Al-Qur’an, sering muncul pertanyaan besar di benak kita sebagai orang tua. Misalnya, mengapa dan bagaimana kita harus mendidik anak mencintai Al-Qur’an.

Pertanyaan “mengapa” erat kaitannya dengan motivasi dan alasan yang timbul sebagai dorongan.  Pertanyaan ini sejatinya tidak perlu membuat kita pusing hingga susah untuk segera memulai langkah. Apalagi, mendidik anak untuk dekat dengan Al-Qur’an sangatlah dibenarkan bahkan merupakan kewajiban. Niatan ini juga sangat dianjurkan selama tidak melalaikan tujuan utama yakni mencari ridha Allah SWT dan bukan ridha yang lainnya.

Contoh yang umum kita temui dewasa ini adalah keinginan kuat para orang tua untuk memiliki anak hafidz/hafidzah yang mampu menjadi penyelamat kelak di akhirat. Motivasi lainnya adalah mengisi waktu anak dengan hal yang bermanfaat. Selama dorongan dan niatan demikian baik, maka hal tersebut tetap bernilai kebaikan. 

Selain itu, pertanyaan “mengapa” juga erat kaitannya dengan alasan memosisikan Al-Qur’an sebagai subjek yang diajarkan dan diutamakan. Mengapa Al-Qur’an dan bukan yang lain? Jawabannya mudah saja. Al-Qur’an adalah hal pertama dan paling utama yang harus kita ajarkan. Ia merupakan bekal terpenting bagi anak untuk terus sadar dan mengenal diri sendiri, apa yang diperlukan dalam mengarungi kehidupan serta ke mana mereka kelak akan berlabuh. 

Al-Qur’an adalah petunjuk dan pembimbing bagi manusia. Karenanya, mengikuti Al-Qur’an berarti mengikuti jalan kebenaran, kebahagiaan dan ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Lalu, bagaimanakah cara mendidik anak mencintai Al-Qur’an? 

Agar Mudah Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an

Baca Juga:   Pamor Pesantren Jombang (Bagian 1 dan 2)

Kemudahan dalam segala urusan adalah sesuatu yang selalu kita pinta kepada Allah SWT. Tak ada kemudahan yang melebihi kemudahan dari Allah SWT. Kemudahan dari manusia terkadang berubah menjadi kesusahan, tapi tidak dengan kemudahan Al-Qur’an yang Allah janjikan.

Karenanya, kita harus sering memohon agar dimudahkan dalam mendidik anak mencintai Al-Qur’an. Artinya, sebelum berupaya jauh mendidik anak dekat dengan Al-Qur’an, kita mestilah bertanya pada diri sendiri; sudahkah kita meminta kepada Allah Swt agar dimudahkan mencapai tujuan tersebut? 

Adakah dalam doa kita terselip permintaan agar lisan kita dan lisan anak-anak kita dimudahkan melafalkan firmanNya? Hanya Allah SWT yang dengan kuasaNya mampu memudahkan bacaan Al-Qur’an bagi lidah anak Adam.

Hal lain yang sepatutnya kita lakukan adalah mengubah cara pikir perihal kemudahan. Kemudahan dalam konteks ini tidak hanya berarti kelancaran proses dalam belajar membaca, menghafal hingga mengamalkan Al-Qur’an. Sebab, yang tak kalah penting adalah kesungguhan kita sebagai orang tua untuk istiqamah mendidik anak mencintai Al-Qur’an. 

Anak-anak yang sedang kita didik agar mencintai Al-Qur’an adalah mereka yang masih suka bermain dan tak suka duduk berlama-lama, termasuk untuk fokus mempelajari Al-Qur’an. Karenanya, kekuataan bertahan di saat-saat sulit juga merupakan hal lain yang harus kita perjuangkan pun pinta dalam setiap doa. 

Lalu bagaimana caranya agar kita konsisten mendidik anak mencintai Al-Qur’an? Jawabannya pun mudah, sebab hal ini berujung pada keyakinan kokoh bahwa Al-Qur’an yang kita ajarkan adalah sesuatu yang mudah, sehingga dalam segala prosesnya, kita juga akan mendapat berbagai kemudahan. 

Dalam hal ini, Allah menjanjikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin menjadikan firman-Nya tersebut sebagai pelajaran baik dengan dibaca, dihafal, dimengerti, direnungi atau diamalkan. Hal demikian tertuang jelas dalam Surat Al-Qamar berikut;

Baca Juga:   Pengetahuan sebagai Minuman Ruhani

“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah di antara mereka yang mengingat itu?”

Ayat tersebut bahkan diulang sebanyak empat kali dalam surat yang sama. Ini kurang lebih menunjukkan penegasan akan janji Allah SWT bahwa Al-Qur’an benar-benar mudah untuk diingat.

Sementara itu, Ibnu Abbas menafsirkan kemudahan Al-Qur’an lewat ucapannya berikut; “kalau bukanlah Allah SWT yang memudahkan bacaan (Al-Qur’an) bagi lidah anak Adam, tidaklah seorang pun yang akan sanggup melafalkan perkataan Allah yang Dia sampaikan kepada hambaNya”.

Selain itu, Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar menjelaskan bahwa kandungan ayat di atas menunjukkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada manusia memuat ‘materi’ yang mudah diingat dan dan dibaca selama ada kemauan. Artinya, Hamka menegaskan bahwa kemudahan tersebut hanya dapat dirasakan bagi mereka yang mau membaca, menghafal dan mendalaminya. 

Hamka pun mengelaborasi lebih jauh penjelasannya dengan memberi contoh kegigihan kaum Muslim setelah wafatnya Rasulullah SAW dalam ‘menjaga’ Al-Qur’an. Mereka berlomba-lomba membaca dan menghafal Al-Qur’an, melakukan penyelidikan serta mengutip ilmu dan hikmah dari Al-Qur’an sehingga berkembang dan menyebarlah ilmu Al-Qur’an ke seluruh dunia. 

Lebih jauh, kegigihan kaum Muslim Arab maupun non-Arab dalam meneliti Al-Qur’an melahirkan berbagai disiplin ilmu. Beberapa di antaranya adalah ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu balaghah, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu manthiq dan ma’ani serta ilmu lainnya yang bersumber dari Al-Qur’an.

Bukti- bukti nyata lain dapat dengan mudah kita temukan, baik dari kisah yang tertulis dalam lembaran sejarah Islam maupun yang bisa disaksikan sampai sekarang di sekitar kita. Keberadaan dan jumlah para penghafal, pelajar, pemerhati, peneliti, pusat studi, konferensi, seminar hingga jurusan di bidang Al-Qur’an tentu tak sulit kita jumpai. Dengan demikian, jelas sudah kemudahan Al-Qur’an baik untuk dibaca, difahami, dihafal maupun diamalkan. 

Baca Juga:   Pemimpin dan Keseimbangan: Meneladani Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA

Jika materi yang akan kita ajarkan sudah ‘mudah’, maka persoalan selanjutnya adalah kemauan dan kesungguhan kita sebagai orang tua untuk membentangkan jalan kemudahan bagi anak-anak kita. Mengenai ini, ada baiknya kita selalu meneguhkan kemauan sehingga kesusahan saat mengajarkan Al-Qur’an terasa bukan apa-apa jika dibandingkan besarnya kemauan dan kesungguhan kita mencetak generasi Qur’ani. 

Setelah berdo’a dengan penuh harap, mengubah cara berpikir dan mengimani kemudahan Al-Qur’an, tugas selanjutnya adalah menciptakan lingkungan Qur’ani. Lingkungan Qur’ani ini senyatanya merupakan bentuk awal dan bukti nyata dari kemauan dan kesungguhan kita menjaga dan ‘melestairikan’ Al-Qur’an.

Lingkungan Qur’ani adalah lingkungan yang penuh dengan lantunan Al-Qur’an, nilai-nilai Al-Qur’an dan pengamalan Al-Qura’n itu sendiri. Seperti halnya pembacaan, penghafalan dan pengkajian terhadap Al-Qur’an, yang demikian tidaklah susah untuk diwujudkan. 

Kita bisa memulainya dengan membuat anak-anak kita lebih sering dan semakin terbiasa mendengar Al-Qur’an idibanding suara-suara lainnya, lebih sering melihat orang sekitarnya melantunkan Al-Qur’an dan lebih sering melihat bagaimana Al-Qur’an diamalkan. Hal demikian dapat sangat membantu azam kita. Dengan lingkungan Qur’ani. anak-anak mudah diajak dan diajar untuk mencintai hal yang selalu mereka jumpai.

Sebagai epilog tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah pepatah Arab yang mengatakan demikian: “Engkau mengharap kesuksesan namun enggan melalui proses mencapainya. Ketahuilah bahwa perahu tidak pernah berjalan di atas daratan”. Artinya, setiap kesuksesan dalam suatu bidang memiliki jalan masing-masing untuk dilalui. Begitu juga kesuksesan mendidik anak mencintai Al-Qur’an yang juga memiliki jalannya sendiri. 

BERIKAN KOMENTAR

Muwafik Maulana
Alumni Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Pendidikan lainnya di tempuhnya di Universitas Al-Azhar, Mesir dan INCEIF, The Global University of Islamic Finance. Kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Economic and Muamalat di Universiti Sains Islam Malaysia - USIM.

Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an (1)

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF