Membangun Mental Jujur dan Anti Korupsi Sejak Dini

Mari jadikan keluarga kita sebagai KPK (Keluarga Pencegah Korupsi) dengan mendidik anak untuk selalu menyempurnakan shalat.


Mencuri atau mengambil hak orang lain sungguh merupakan hal yang sangat tercela. Namun demikian, korupsi jauh lebih tercela dan tidak saja hina, korupsi merupakan suatu tindakan yang zalim.

Mencuri secara harfiah pada umumnya dapat dipahami sebagai tindakan mengambil harta benda perorangan. Sementara korupsi merupakan tindakan merugikan banyak pihak. Sebab-sebab korupsi bukan sekedar memenuhi keperluan hidup atau rendahnya pendidikan atau lingkungan yang tak baik. Para koruptor lebih banyak telah menghuni rumah mewah, mobil mewah bahkan mereka adalah tokoh agama dan tokoh masyarakat. Namun terdorong nafsu serakah yang tak ada cukupnya, korupsi demikian menjamur di sekitar kita.

Jelas korupsi merupakan suatu kezaliman yang akbar. Kebanyakan koruptor merupakan kalangan terdidik dan berilmu. Namun demikian ketinggian ilmunya tak membuatntya untuk dapat mengendalikan hasrat keserakahan tanpa memikirkan dampak kerugian kolektif semacam apa yang akan ditimbulakannya bagi masyarakat dan negara.

Berbagai solusi telah dilakukan oleh negara untuk memberantas korupsi. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di baris terdepan membasmi para koruptor. KPK menghantarkan koruptor ke meja hijau untuk selanjutnya dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya. Mulai dari penyitaan harta sang koruptor, hukuman penjara bahkan hingga dicabutnya hak politik untuk memilih dan dipilih.

Namun, nama-nama koruptor baru terus bermunculan. Hukum tak lagi menakutkan, bahkan ada koruptor yang berani mempermainkan hukum. Melihat kenyataan ini, rasanya tak cukup kita hanya berpangku tangan terhadap KPK. Lebih daripada itu dan sangat mendasar, kita sendirilah yang mesti mawas dan membentuk mental kita untuk memberantas korupsi sejak dini.

Kita membutuhkan semacam KPK yang lain, KPK yang memiliki kepanjangan (Keluarga Pencegah Korupsi). Ya, keluarga adalah solusi pemberantasan korupsi lainnya yang harus didorong sebagai garda terdepan. Generasi korup harus kita potong mata rantainya. Kita sendirilah yang mesti memulainya dengan mendidik anak-anak kita memiliki mentalitas yang jujur dan anti terhadap segala bentuk korupsi.

Baca Juga:   Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mendidik anak yang anti korupsi? Dan mampukah ajaran yang kita tanamkan, terutama dari khasanah dan tradisi Islam; melahirkan generasi anti korupsi?

Menyempurnakan Shalat dan Membentuk Mental Anti Korupsi

Seperti dijelaskan di atas, para koruptor banyak dari mereka memiliki latar belakang pendidikan yang dibilang baik dan kehidupan yang berkecukupan. Artinya, memiliki ilmu secara teoritis dan berkecukupan secara materi tak secara otomatis dapat menghalangi kita dari godaan untuk melakukan korupsi.

Maka, pendidikan yang memperbaiki mental korup harus dihadirkan di tengah-tengah keluarga. Mentalitas yang tangguh untuk tetap teguh dalam kejujuran dalam segala situasi dan kondisi, baik di tengah lingkungan yang kondusif ataupun sebaliknya.

Memberikan pemahaman sejak dini tentang nilai-nilai kejujuran tentu merupakan hal yang dibutuhkan. Namun setelah itu, yang tak kalah pentingnya adalah dengan latihan yang terus menerus dan mencakup seluruh aspek.

Dalam Islam, terdapat sebuah ajaran yang dituntut untuk dilakukan terus menerus. Ajaran tersebut mampu membentuk mental sang hamba. Karena tidak hanya dituntut untuk melakukan dengan kesempurnaan perbuatan anggota badan, tapi juga dituntut memiliki kesempurnaan hati, lurusnya niat saat melakukan ajaran tersebut.

Ajaran tersebut sangatlah sesuai untuk dijadikan obat pencegah korupsi; membentuk mental disiplin dan jujur. Ajaran tersebut adalah menyempurnakan shalat. Menyempurnakan shalat berarti tidak saja pengamalan teori-teori shalat dalam bentuk gerakan dan ucapan. Menyempurnakan shalat bermaksud perpaduan kesempurnaan gerakan, bacaan dan keadaan hati. Shalat yang sempurna adalah shalat yang penuh dengan ketenangan, tidak menoleh kanan-kiri, tidak bermain-main, bacaan yang tepat dan juga dituntut penuh dengan kekhusyukan dan kekhudu’an.

Mungkin kita akan ragu bahwa shalat yang sempurna mampu mendidik anak anti korupsi. Maklum, karena banyak koruptor yang juga melakukan shalat tapi tetap berbuat korupsi. Bahkan tokoh agama dengan gelar kiai dan ustadz diantara koruptor yang diciduk oleh KPK.

Baca Juga:   Kisah Khaulah Binti Tsa’labah dan Turunnya Surah Al-Mujaadilah

Benar, mungkin saja banyak koruptor yang shalat tapi korupsi. Tapi apakah mereka menyempurnakan shalat saat mendirikan shalat. Atau mereka telah terbiasa dengan mencuri, namun tak sadar merekah telah mencuri.

Imam Ghazali dalam kitabnya Mukaasyafatu al-Quluub saat membahas bagaimana menyempurnakan shalat, menyebutkan sebuah hadits yang memberitahu bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat “Inginkah kalian aku ceritakan tentang seburuk-buruknya orang mencuri?”. Para sahabat berkata “Siapa itu wahai Rasulullah SAW?”. Rasulullah SAW bersabda “orang yang mencuri shalatnya”. Sahabat kembali bertanya “bagaimana ia mencuri shalatnya?”. Rasulullah SAW bersabda “Yaitu tidak menyempurnakan rukuknya dan tidak pula sujudnya”.

Hadits di atas dengan tegas menjelaskan, ada dan banyak orang yang melakukan shalat tapi tak menyempurnakan shalatnya. Dan bila kita renungkan kembali itu sangat mungkin terjadi. Bagaimana tidak? Bila dari kecil hingga besar, anak-anak hanya dididik dan diajar bagaimana bacaan dan gerakan shalat namun lepas dari esensi shalat yang sebenarnya. Sementara shalat bertujuan untuk mengingat Allah SWT dan kebesaranNya sebagaimana firmanNya “Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Thaha : 14).

Hasilnya, banyak generasi mendirikan shalat tapi tergoda dengan harta lalu korupsi. Shalat terus ditegakkan tapi ingat godaan jabatan yang lebih tinggi, korupsi jadi pilihan. Shalat yang demikian bisa jadi dilaksanakan hanya sebatas ucapan dan gerakan. Sedangkan hati dan pikirannya selalu diisi oleh angan-angan dunia. Melakukan shalat demikian sama halnya tak menyempurnakan dan mencurangi esensi shalat itu sendiri.

Oleh sebab itu, menjadi sangat perlu dan wajib untuk mendidik anak shalat dengan sempurna. Tidak hanya berteriak lantang saat anak salah dalam gerakan atau ucapan shalat, namun juga lantang mengingatkan “ingatlah Allah dalam berdiri, rukuk, sujud, duduk dan dalam setiap bacaan kalian”.

Gaya mendidik yang hanya menyampaikan materi shalat hanya menghasilkan pengamalan shalat yang kosong dan hampa. Anak didik tak memahami tujuan shalat dan bagaimana menggapai tujuan shalat yang sebenarnya. Shalat mereka pun tak mampu menghalagi mereka dari berbuat keji dan kemungkaran seperti korupsi.

Baca Juga:   Tiada Kata "Terlalu Dini" dalam Mendidik Anak: Meneladani Kisah Hannah dan Keluarga Imron

Sebaliknya, mendidik anak dengan menitik-beratkan agar anak senantiasa menyempurnakan shalat baik bacaan, gerakan, pikiran dan hati akan mampu melahirkan generasi yang mampu menata jiwa dan hati, di manapun, kapanpun dan di posisi apapun.

Generasi yang terdidik dengan selalu menyempurnakan shalat akan mudah kembali ke jalur yang benar saat lupa, salah atau khilaf. Mungkin di pagi hari saat di kantor ada godaan uang korupsi satu koper uang dengan pecahan $100. Namun ketika shalat dzuhur tiba, dengan wudhu yang sempurna kemudian ia menyempurnakan shalat. Maka hati dan pikiran akan kembali ingat bahwa Allah SWT yang ia tuju, hanya Allah dan Allah di hatinya. Ia pun kembali sadar bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui dan Allah Maha pedih siksaNya.

Namun, generasi yang melaksanakan shalat hanya sekedar bacaan dan gerakan akan sangat susah menjadikan shalat sebagai pengingat Allah SWT. Hati dan pikirannya dipenuhi dengan dunia dan isinya. Maka ketika koruptor juga melaksanakan shalat bukan shalat yang dipersalahkan. Yang perlu dipertanyakan, bagaimana sang koruptor melaksanakan shalat? Adakah ia telah menyempurnakan shalat? Adakah Allah SWT telah mengisi seluruh relung jiwa saat melaksanakan shalat? Atau hanya dunia, dunia dan dunia yang mengisi hati dan pikiran hingga korupsi tak lagi jadi perbuatan hina dan keji.

Mari jadikan keluarga kita sebagai KPK (Keluarga Pencegah Korupsi) dengan mendidik anak untuk selalu menyempurnakan shalat. Hingga shalat menjadi benteng kokoh yang melindungi anak-anak kita dari setiap perbuatan hina dan keji termasuk korupsi. Generasi anti korupsi bukan lagi sekedar mimpi jika generasi yang lahir selalu menyempurnakan shalat dan menjadikannya tameng membersihkan hati dan membenahi diri.

Ilustrasi: Wikipedia.org

BERIKAN KOMENTAR

Muwafik Maulana
Alumni Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Pendidikan lainnya di tempuhnya di Universitas Al-Azhar, Mesir dan INCEIF, The Global University of Islamic Finance. Kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Economic and Muamalat di Universiti Sains Islam Malaysia - USIM.

Membangun Mental Jujur dan Anti Korupsi Sejak Dini

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF