Melodrama Kemiskinan Sebagai Komoditas


Berbagai stasiun televisi berlomba-lomba menjadikan kemiskinan sebagai objek liputan dan menghadirkan perspektif baru yang sebagian masyarakat terhipnotis menontonnya. Namun di sisi lain, inilah yang menjadi persoalan, sebab semua program yang ditayangkan tersebut ternyata mengandung tujuan-tujuan tertentu.

Buku MISKIN ITU MENJUAL: Representasi Kemiskinan Sebagai Komodifikasi Tontonan, karya Saiful Totona berupaya membongkar fenomena reality show tentang orang miskin yang kini marak ditayangkan di berbagi stasiun televisi. Dengan pendekatan semiotika dan meminjam pendekatan ekonomi politik tanda Jean Baudrillard, seorang filsuf kontemporer asal Prancis, Totona menyingkap bagaimana program-program TV tersebut mempermainkan obyek tanda kemiskinan, merepresentasikannya dan meraup keuntungan dari hasil penayangan.

Di era global, teknologi media, tidak terkecuali televisi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai akifitas manusia dalam kehidupannya. Media bukan hanya memberikan informasi yang telah dikonstruksi, namun juga berkontribusi membentuk pandangan dunia kita dalam kehidupan sehari-hari melalui teks-teks (acara) yang dipublikasikannya. Sehingga tidak heran apabila masyarakat menggantungkan separuh kehidupannya untuk menikmati segala bentuk informasi dan hiburan pada media, khususnya televisi.

Dari sinilah kemudian lahir beberapa program televisi yang apabila ditinjau lebih jauh mengandung unsur kepentingan pihak modal dan ironisnya yang dijadikan objek adalah orang-orang miskin. Alih-alih memberi pertolongan dan mengatasi kemiskinan, justru sebaliknya menjadikan kemiskinan sebagai objek komoditi dengan menampilkan ke layar kaca. Sebagian masyarakat percaya bahwa program reality show tersebut membantu orang-orang miskin bangkit dari kemiskinan, meski pada faktanya program tersebut justru menguntungkan pemilik media.

Baca Juga:   Tuhan, Agama dan Tragedi: Bagian I

Kesempatan di tengah maraknya kemiskinan di negeri ini yang tak kunjung usai dimanfatkan dengan baik oleh pihak media televisi untuk diangkat kepermukaan dan dipublikasikan lewat program yang seakan bertujuan untuk membantu. Akan tetapi sayang, bukan memperbaiki malah memperparah kondisi ini.

Kemisikinan tidak lagi dianggap sebagai tugas dan peran pemerintah untuk mengatasinya. Malah sebaliknya, kemiskinan direduksi sebagai komoditas, disederhanakan dan dilebih-lebihkan. Contoh kongkret pada program reality show: Uang Kaget (RCTI), Jika Aku Menjadi (Trans TV) dan Tukar Nasib (Indosiar). Tiga program tersebut menjadikan orang-orang miskin sebagai objeknya. Acara tersebut diramu dengan penambahan-penambahan rekayasa tertentu agar alur ceritanya menjadi lebih sendu dan dimodifikasi sedemikian rupa agar menyita perhatian publik.

Hasil dari kemasan tersebut menyebabkan program “realitas kemiskinan” tersebut menarik hati para audien yang menonton dan menyebabkan angka rating-share melonjak tinggi. Dalam logika para pemodal media, inilah keuntungan yang dihasilkan sebab dari situ juga akan meningkatkan pihak lain untuk memasang iklan dan sponsor.

Baca Juga:   Akar Rumput

Sebagai industri, apa yang muncul dalam setiap program televisi selalu berhitung dengan kalkulasi ekonomi. Dengan berbagai cara, media juga berusaha mengartikulasikan kepentingannya dalam membangun kendali atas berbagai citra yang dibuatnya. Media dengan kekuatan dan peluang yang dimilikinya akan melihat setiap celah yang menguntungkan bagi industri layak menjadi komoditas.

Program reality show dan program lain sejenis yang menjadikan kemiskinan sebagai objek utama yang dipertukarkan dalam artian nilai tukar tanda adalah merupakan komoditas. Kemiskinan menjadi barang modal, yang jika dikemas dengan baik dan menarik. Banyak reality show yang mengambil objek kemiskinan sebagai daya tarik utama untuk menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, jika dicermati lebih teliti maka dapat dinyatakan bahwa program reality show juga menyederhanakan persoalan kemiskinan yang sangat kompleks, yaitu dengan hanya menberikan bantuan yang tidak solutif dan bersifat sesaat (instan), sehigga kemiskinan sampai saat ini belum tertangani dengan baik.

Kemiskinan yang digarap melalui media massa menjadi problem menarik. Media massa yang dengan berbagai kepentingan turut memperkeruh bahkan mereduksi persoalan kemiskinan pada tingkat individu orang yang mengalaminya. Di sini tidak ada upaya untuk membantu rakyat miskin untuk keluar dari keadaan yang dialaminya. Segala sesuatu menjadi imbalan bagi orang yang diikutsertakan untuk medukung bisnis media. Kesenangan hanya dialami sesaat, dan selanjutnya mereka kembali menemukan dirinya dalam keadaan sebelumnya. Padahal, apabila ditelisik lebih jauh, komodifikasi kemiskinan ini lebih mengerikan kerena muncul diberbagai stasiun televisi yang hanya mengejar jatah iklan. (hal 216)

Baca Juga:   Ashtiname, Prasasti Perdamaian Rasulullah (Bagian 1)

Memang ada sisi benarnya bahwa “reality show kemiskinan” pada media televisi untuk menggugah nilai-nilai kesadaran manusia umum bahwa masih banyak orang-orang diluar sana yang nasibnya kurang beruntung dan membutuhkan pertolongan dari tangan kita. Akan tetapi persoalnnya menjadi lain, karena tujuan dari program reality show tersebut tidak semulia itu. Ada sisi lain yang apabila dibedah akan mengandung unsur kepentingan modal, sebab proyeksi ini bernilai bisnis.

 

http://interidea.co/wp-content/uploads/2017/11/IMG_20171105_105535-194x300.jpg

 

Info Buku

Judul Buku       : Miskin Itu Menjual

Penulis             :Saiful Totona

Penerbit          : Resist Book, Yogyakarta

Cetakan           : I, Desember 2010

Tebal               : 242 hlm.

 

BERIKAN KOMENTAR

Romel Masykuri
Alumni UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Saat ini sedang menempuh Program Pascasarjana Ilmu Politik di Universitas Airlangga, Surabaya.

Melodrama Kemiskinan Sebagai Komoditas

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF