Konser Puisi Musik Sumenep 2017: Abhântal Ombâ’ Asapo’ Angèn

Sebagaimana kita tahu, Sumenep merupakan salah satu daerah yang banyak menghasilkan embrio penyair dan sastrawan.


Tepat pukul 19.00 WIB, terlihat orang-orang mulai memadati area depan gerbang masuk Keraton Sumenep. Di depan gerbang masuk Keraton, yang dikenal dengan nama Labang Mesem (baca: Pintu yang Tersenyum), satu persatu masyarakat Sumenep yang kebetulan melintas memutuskan berhenti, bergabung dengan para hadirin yang sebelumnya mulai memadati area. Seakan menyimpan rasa penasaran, perhelatan apakah yang sedang digelar?

Tampil K. Turmedzi Jaka memberikan sambutan dan membuka acara dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dalam sambutannya, K. Turmedzi Jaka memberikan apresiasi tinggi atas sambutan positif dan kehadiran banyak seniman (musisi dan sastrawan) dalam perhelatan tersebut dan berharap semoga di tahun-tahun yang akan datang gelaran semacam ini dapat terus berkembang dengan sajian dan gagasan yang lebih menarik. 

FB_IMG_1514602388515.jpg

Agus R Subagyo menyampaikan Orasi Budaya (Dok. Homaidah)

Sejurus kemudian, Agus R Subagyo (Pegiat Tari dan Puisi asal Nganjuk) memberikan Orasi Budaya, sekelumit dari yang disampaikannya adalah; harapan atas gelaran Kesenian mestilah hadir di tengah-tengah masyarakatnya. Sangat ironis bila kesenian hanya merupakan agenda-agenda “onani”, yang diinisiasi oleh kalangan seniman sendiri, digelar sendiri dan akhirnya ditonton sebatas kalangan seniman sendiri! Ia pun memberikan apresiasi terhadap gelaran “Konser Puisi Musik Sumenep 2017: Abhântal Ombâ‘, AsapoAngèn”  yang diprakarsai oleh “Ruang Seni dan Budaya Kalonta”.

Baca Juga:   Ashtiname, Prasasti Perdamaian Rasulullah (Bagian 1)

Sebagaimana kita tahu, Sumenep merupakan daerah yang banyak menghasilkan embrio penyair dan sastrawan. Beberapa dari mereka untuk kita sebut sebagai misal adalah: KH. D. Zawawi Imron, K. M Faizi, Syaf Anton WR, Hidayat Raharja, K. Turmedzi Jaka, Ibnu Hajar, Mahendra, M. Fauzi, Benazir Nafilah Syamlan dan Lukman Hakim AG. Ini tentu hanya sekelumit dari beberapa penyair Sumenep yang berkiprah di “Kampung Halaman” dan tetap menjaga produktifitas kekaryaannya. 

FB_IMG_1514602381517.jpg

Pembacaan Puisi oleh Penyair Hidayat Raharja(Dok.Homaidah)

Malam itu (Rabu, 27/12/2017) selain dimeriahkan oleh penampilan puisi musik dari Agus Salim Faradilla, Medzi Art, La Ngetnik, Sanggar Cemara dan Komunitas Pelar. Acara juga dimeriahkan oleh pembacaan puisi oleh beberapa penyair; Kiai Amir Bagus, Hidayat Raharja, Alfaizin, Latif Kobhung, Mahendra, Homaidi CH, Amin, Ibnu Hajar, Benazir Nafilah Syamlan, Lukman Hakim AG, Mazdon, Fendi Kachonk, Khairul Umam, M Ridwan dan Slamet Arya Sisifus. Selain itu, ada beberapa nama berhalangan hadir; K. M Faizi, K. Zamiel Muttaqien, Matroni Muserang, Syaiful K Langka dan Musikalisasi Puisi Sanggar Koma, Ambunten.

Baca Juga:   Dibegal, Diklitih atau Diklitik-klitik?

Di tengah-tengah acara, penonton (yang sebelumnya memadati area depan panggung dan jalan protokal sekitar Museum dan Keraton Sumenep) dihebohkan kedatangan Bupati Sumenep Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si. Setiba di lokasi, beliau ikut serta memberikan statemen tentang kesenian dan budaya di Sumenep serta membacakan sebuah puisi. 

Bupati.jpg

Bupati Sumenep Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si (Dok. Homaidah)

Mengangkat tema “Abhântal Ombâ‘, AsapoAngèn” , Sebuah pepatah tradisional masyarakat  nelayan Madura, gelaran Konser Puisi Musik Sumenep 2017 dipadati penonton hingga berakhirnya acara. Gelombang demi gelombang puisi saling bersahutan, nada dan larik menghujani langit Keraton Sumenep dengan seni dan kebersamaan. Aliman Taka, merespon berbagai penampilan dan pembacaan puisi dengan tari-tarian spontanitas di pelataran Panggung. 

FB_IMG_1514616857970.jpg

Amin membacakan puisinya (Dok. Homaidah)

Amin, selaku ketua Ruang Seni dan Budaya Kalonta menuturkan harapannya agar kegiatan ini dapat dilestarikan di masa yang akan datang. Tak lupa juga ungkapan terima kasih disampaikannya kepada banyak seniman dari luar kota (Pamekasan, Sampang, Surabaya, Nganjuk dan sebagainya) atas kehadiran dan aspresiasi tinggi mereka.

Baca Juga:   Surat Terbuka untuk Alissa Wahid, Ketua Gusdurian Nasional

FB_IMG_1514602374226.jpg

Mahendra membacakan puisinya (Dok. Homaidah)

Kita berharap semoga gelaran Konser Puisi Musik Sumenep 2017 ini dapat memicu dan menjadi bagian dari denyut kesenian. Selain itu dapat merangsang tumbuh-kembangnya budaya “literasi” yang dapat dibilang lemah dibanding budaya “pertunjukan”nya di Madura secara umum. Lewat tangan para pegiat seni inilah dan didukung oleh berbagai elemen daerah hal ini terus akan ditumbuh-kembangkan.

FB_IMG_1514602474879-3.jpg

Turmedzi Jaka dan Abyan Farazdaq menampilkan musikalisasi Puisi (Dok. Homaidah)

Kekurangan teknis kecil semacam lampu sorot yang terlalu mencorong dan sempat menggangu beberapa pembaca puisi tak mengurangi kemeriahan gelaran malam itu. Di bawah langit Sumenep yang cerah, mulai dari tokoh dari beberapa Pesantren, Seniman, Pejabat Daerah (Bupati) dan masyarakat umum lebur dalam ikatan musik dan puisi. (Rahman Syaif/Zain Alabidin).

BERIKAN KOMENTAR

Redaksi Interidea
Interidea merupakan portal review dan gagasan terkini tentang budaya, agama sosial dan politik.

Konser Puisi Musik Sumenep 2017: Abhântal Ombâ’ Asapo’ Angèn

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF