Kisah Khaulah Binti Tsa’labah dan Turunnya Surah Al-Mujaadilah

Khaulah kembali berkata "Wahai Rasulullah, sesungguhnya suamiku telah mendzhiharku dan jika kami berpisah hancurlah kami".


Sering kita menjumpai atau pun mendengar cerita dari kerabat, saudara dan kawan kantor tentang keluarga ideal yang hidup dengan penuh kebahagiaan. Sebuah keluarga yang harmonis dan berkecukupan. Namun, tak sedikit dari kita menyederhanakan bahwa keluarga yang bahagia adalah keluarga yang tanpa memiliki masalah dan kegetiran cobaan.

Tak ada sesosok manusia pun terlebih sebuah keluarga yang tanpa memiliki cobaan dan ujian dalam hidup. Kita yang berpikir bahwa ada sebuah keluarga yang lolos dari cobaan ini dapat dikatakan sebuah pemikiran yang keliru. Karena pada hakikatnya manusia hidup untuk diuji, diuji sebagai suami, sebagai istri, sebagai ayah, sebagai ibu, sebagai anak atau sebagai diri sendiri.

Namun sebagai orang tua bagaimanapun ujiannnya, orang tua dituntut selalu menciptakan persatuan dan kekompakan sebagai ayah dan ibu di depan anak-anak. Karena sebagai pasangan suami istri, orang tua pasti akan dihadapkan berbagai masalah keluarga bahkan terkadang bertikai dan bertengkar di hadapan anak-anak.

Lalu bagaimana keharmonisan antar orang tua sebagai sumber utama kebahagiaan anak-anak selau dijaga? Bagaimana kita mempertahankan rumah tangga untuk kebaikan keluarga dan anak-anak saat dihadapkan dengan masalah yang pelik? Apakah hasil untuk anak-anak kita di saat mereka tumbuh berkembang di lingkungan keluarga yang bahagia?

Khaulah binti Tsa’labah yang Gigih Mempertahankan Rumah Tangga

Berumah tangga adalah contoh paling nyata tentang bersatunya perbedaan dalam hidup. Bersatu bukan karena sama, namun bersatu karena ada pemahaman dan pengertian satu sama lain. Bersatu untuk kebahagiaan pewaris kita yakni anak-anak penerus perjuangan kita. Karena kehidupan rumah tangga merupakan kisah utama dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Kisah rumah tangga tak akan pernah lepas dari perselisihan pendapat, sikap suami yang kadang membuat istri kesal atau sebaliknya. Bahkan perselisihan dalam rumah tangga juga terjadi dalam rumah tangga manusia termulia, manusia romantis dan terlembut kepada keluarganya. Sebab turunnya surah At-Tahriim adalah bukti bahwa berumah tangga selalui diwarnai permasalahan tak luput juga dalam rumah tangga Rasulullah SAW.

Baca Juga:   Tulisanmu Harimaumu

Maka, kita harus memiliki pendorong dan penyemangat yang kuat untuk berumah tangga dengan baik. Penyemangat tersebut menjadi refleksi dan renungan orang tua saat bertikai atau bertengkar untuk bersegera bersatu dan menuntaskan pertikaian. Di antara pemersatu terkuat adalah anak kita, ialah anugerah terbesar bagi orang tua.

Dalam sejarah Islam sendiri telah diceritakan seorang wanita tangguh, kuat dan berbesar hati meletakkan bahkan menghilangkan ego untuk menyelamatkan anak-anak dan rumah tangganya: ialah Khaulah binti Tsa’labah. Seorang perempuan mulia yang aduannya mampu mengetuk bahkan menembus pintu-pintu langit. Ialah yang menjadi sebab turunnya permulaan surah Al-Mujaadilah.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan sebab turunnya permulaan surah Al-Mujaadilah dengan hadits yang menjelaskan bahwa Khaulah adalah istri Aus bin As-Shamit, kemudian Khaulah bercerita bahwa suaminya adalah laki-laki tua renta dan berperangai buruk. Suatu hari suaminya menginginkannya namun Khaulah menolak keinginannya. Lantas suaminya berkata, “kamu seperti punggung Ibuku”.

Artinya sang suami telah men-dhzihar-kan khaulah dengan menganggap khaulah sebagai atau sama dengan ibunya. Dzhihar dengan perkataan “engkau seperti punggung ibuku” adalah kata yang mudah keluar dari orang arab masa jahiliyah. Dzhihar dalam tradisi jahiliyah adalah talak.

Namun Khaulah adalah wanita shalehah dan ibu yang agung. Khaulah sangat menginginkan rumah tangganya kembali harmonis, dengan begitu kuat dia mempertahankan kesatuan dan keutuhan rumah tangganya. Khaulah tak ingin posisinya tergantung dengan dzihar dan tak ingin pula ia berpisah dari suaminya. Khaulah juga ingin anak-anaknya bertumbuh-kembang dengan baik di bawah kasih sayang Khaulah dan sang suami.

Maka Khaulah mengadukan apa yang menimpanya kepada Rasulullah SAW. Selesai Khaulah menyampaikan apa yang dialaminya, Rasululah SAW berkata dan kala itu belum turun wahyu mengenai dzhihar, Engkau telah diharamkan atas suamimu”. Hanya mendapatkan jawaban tersebut, Khaulah dengan cepat meminta Rasulullah SAW untuk memberi solusi.

Baca Juga:   Empat Jurus Mencoblos dan Dicoblos

Khaulah kembali berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya suamiku telah mendzhiharku dan jika kami berpisah hancurlah kami”.

Perkataan “jika kami berpisah hancurlah kami” menjadi bukti nyata bahwa Khaulah sangat yakin bahwa kembali bersatu dengan sang suami adalah jalan terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Khaulah pun berdoa dan mengadukan yang dialaminya kepada Allah SWT. Selesai khaulah berdoa, Allah SWT pun menerima doanya dan menurunkan firmanNya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Khaulah.

Kemudian Rasulullah membacakan surah Al-Mujaadilah dengan didahului “Wahai Khaulah, Allah SWT telah menurunkan firmanNya tentang masalah mengenai dirimu dan suamimu”. Maka Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sang suami untuk bisa kembali menggauli Khaulah haruslah memerdekakan seorang budak.

Dengan cepat Khaulah menjawab “Wahai Rasulullah, suamiku tidak memiliki harta benda apalagi seorang budak”. Rasulullah kembali bersabda “jika demikian berpuasalah suamimu selama dua bulan berturut-turut. Dengan cepat Khaulah kembali menjawab “Suamiku tak akan mampu melakukan itu” Rasulullah kembali bersabda ” berilah makan 60 orang miskin”

Khaulah kembali menjawab bahwa hal tersebut juga tak mampu dilakukan oleh sang suami karena keadaanya yang miskin dan tak memiliki apapun. Akhirnya Rasulullah SAW pun memberikan kurma untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Begitu juga Khaulah melakukan hal yang sama untuk membantu suaminya. Khaulah dan suami pun kembali bersatu dan anak-anak kembali bahagia bersama Ibunda Khaulah dan Ayahanda Aus bin As-Shamit.

Kisah di atas menceritakan bagaimana perjuangan gigih seorang istri dan ibu mulia. Istri mulia yang senantiasa berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga dan Ibu mulia yang demi kebahagiaan anak-anak rela menghilangkan segala ego. Ego ingin merasa paling benar dan ego enggan untuk menyelesaikan masalah karena merasa tidak bersalah.

Baca Juga:   Ustadz Versus Artis

Khaulah dengan membawa cinta keluarga mendatangi Rasulullah SAW. Khaulah datang bukan meminta Rasulullah SAW untuk menghukum sang suami, tapi untuk menyelesaikan masalah. Khaulah datang untuk menyelamatkan anak-anaknya dari kesedihan jika harus melihat Ayah dan Ibu mereka tak bersatu.

Orang Tua Bersatu Anak Bahagia dan Mudah Dididik

Bagi anak-anak, kebahagiaan itu sangat sederhana. Berkumpul dan selalu bersama orang tua yang bahagia adalah sumber utama kebahagiaan bagi mereka. Selalu melihat ayah ibu bersatu dalam bahagia, bersatu dalam kasih dan cinta membuat anak-anak mudah tersenyum dan tertawa bahagia.

Anak yang bahagia tentu lebih mudah untuk menerima dan melaksanakan arahan orang tua. Anak bahagia seakan telah menyatu dengan orang tua. Ingin selalu bersama orang tua dan ingin selalu sama dengan orang tua hingga mudah memahami apa yang orang tua kehendaki.

Begitu juga sebaliknya, pemandangan orang tua yang suka bertikai dan bertengkar akan melahirkan berbagai pikiran buruk dalam diri anak-anak kita. Anak-anak kita mudah termenung, susah diajak bicara dan lambat untuk memahami apa yang kita kehendaki.

Bagaimana pun lingkungan akan banyak berperan membentuk karakter anak-anak kita. Lingkungan yang dipenuhi kebahagiaan terlebih di rumah akan banyak membantu membentuk karakter anak yang murah senyum, mudah bergaul dan berpikir terbuka nan luas.

Adalah langkah yang bijak bila kita memulai proses mendidik anak-anak dengan menciptakan lingkungan dan keadaan rumah yang baik. Lingkungan penuh cinta dan kasih yang membuat anak-anak tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Maka, apapun masalah rumah tangga yang dihadapi, anak-anak jangan pernah menjadi korban.

Biarkanlah anak-anak kita tumbuh berkembang dalam cinta dan kasih.

 

BERIKAN KOMENTAR

Muwafik Maulana
Alumni Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Pendidikan lainnya di tempuhnya di Universitas Al-Azhar, Mesir dan INCEIF, The Global University of Islamic Finance. Kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Economic and Muamalat di Universiti Sains Islam Malaysia - USIM.

Kisah Khaulah Binti Tsa’labah dan Turunnya Surah Al-Mujaadilah

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF