KH. Hasyim Zaini: Meneladani Kasih Sayang Nabi

Kini, kanjeng Nabi Muhammad Saw telah tiada. Akan tetapi, ia senantiasa hidup dalam hati dan jiwa jutaan orang Mukmin dari generasi ke generasi.


Pada suatu ketika, Nabi Muhammad Saw menangis dahsyat tatkala membaca Al-Qur’an Surat Al Maidah ayat 118 berikut:

(إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)

Artinya: Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang maha perkasa dan maha bijaksana.

Ketika itu. datanglah Malaikat Jibril bertanya kepada beliau,

“Apakah yang engkau tangisi?”

Nabi Menjawab, “nasib umatku kelak di akhirat.

Malaikat Jibril kembali menjawab, “Allah mengirim salam kepada mu dan berfirman,

أنا أسترضيك في أمتك

“Aku akan berusaha meridhai umatmu”.

(Dinukil dari Kitab Bustan al-Waa’dhin Waridu al-Saami’in).

Demikianlah sekelumit gambaran betapa Nabi Muhammad Saw memiliki hati yang welas dan selalu memikirkan ummatnya. Sebagai seorang utusan yang mencintai seluruh alam, terlebih ummatnya, nyaris tiada perumpamaan yang cukup untuk menggambar betapa bagi Rasulullah, sangat berat baginya memikirkan penderitaan ummatnya.

Kini, kanjeng Nabi Muhammad Saw telah tiada. Akan tetapi, ia senantiasa hidup dalam hati dan jiwa jutaan orang Mukmin dari generasi ke generasi. Akhlak dan embanan beliau dalam menyebarkan agama Allah dilanjutkan oleh para ulama’ sebagai pelanjut estafeta dakwah rahmatan li al-alamiin.

Tampak pada gambar dua ulama besar sedang duduk bersanding. Memakai surban kuning adalah KH. Husnan dari Beringin, Bondowoso. Beliau masyhur karena kewaliannya. Setiap hari, puluhan sampai ratusan orang sowan kepada beliau untuk meminta do’a. Beliau dipercaya memiliki keistimewaan mempermudah mustajab-nya doa.

Baca Juga:   Empat Jurus Mencoblos dan Dicoblos

Sebelah kanan adalah KH. Moh. Hasyim Zaini, salah satu putera KH. Zaini Mun’im, yang juga pengasuh kedua PP. Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki hati lembut kepada orang lain, bahkan kepada hewan sekalipun.

Di masa saya nyantri dan menimba ilmu di PP. Nurul Jadid, beredar kabar bahwa adik beliau, KH. Abdul Haq Zaini, bercerita pernah mengantarkan sang kakak, KH. Moh Hasyim Zaini, berceramah di suatu tempat. Sepulangnya dari tempat berceramah, KH. Abdul Haq Zaini memberitahu kepada sang kakak bahwa di mobilnya ada seekor semut. Mendengar laporan tersebut, KH. Moh Hasyim Zaini memerintahkan sang adik yang ketika itu sekaligus menjadi driver untuk meletakkan semut ke dalam wadah korek api. Setelah itu, keduanya mengantarkan semut tersebut ke tempat asalnya, yakni tempat pengajian digelar.

Baca Juga:   Ustadz Shomad dan Larangan Melucu bagi Da’i

Diceritakan pula oleh KH. Usman (majlis keluarga PP. As Syahidul Kabir, Sumber Batu, Blumbungan, Pamekasan), pernah suatu ketika beliau mendampingi KH. Moh. Hasyim Zaini berjalan kaki menuju jalan raya Karanganyar Paiton. Keduanya melewati pemukiman penduduk untuk mengambil jalan pintas. Ketika lewat di sebelah rumah salah seorang penduduk, kaki KH. Moh Hasyim Zaini terperosok ke dalam tumpukan kotoran sapi. Dengan spontan, beliau berkata “alhamdulillah”.

KH. Usman heran dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa bukan “Inna lillah” yang terucap, akan tetapi justru alhamdulillah? Gumaman tersebut itu rupa-rupanya terdengar oleh KH. Moh Hasyim Zaini yang terkenal Kasyaf. Beliau langsung menjawab: “Saya bilang alhamdulillah karena sangat senang masyarakat sejahtera, piaraan sapinya banyak”. 

Baca Juga:   Istiqamah Mendidik dalam Segala Situasi

Betapa sabar dan lembut hati beliau. Pandangan kasih sayangnya dapat mengubah setiap kesukaran sebagai kemudahan dan kesusahan menjadi kebahagiaan dengan limpahan rasa syukur.

Hal semacam ini tentu juga telah diteladankan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw dalam segala tindak-tanduknya. Jangankan kepada sesama manusia, kepada hewanpun baginda Rasulullah Saw memiliki kasih sayang yang teramat besar. Ini tercermin dari perintah beliau bahwa untuk menyembelih hewan menggunakan memakai pisau yang tajam agar tidak terlalu menyakiti. Bahkan, Rasulullah juga menegaskan kisah seorang wanita yang dapat masuk neraka disebabkan kebengisannya kepada seekor kucing.

 (قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ)

Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. [QS. Az-Zumar 10]

BERIKAN KOMENTAR

M Musleh Adnan
Muballigh Madura yang kini menetap di Pamekasan. Disayang dan menyayangi masyarakatnya.

KH. Hasyim Zaini: Meneladani Kasih Sayang Nabi

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF