Ketika Kita Masih di Zaman di Mana Sosial Menentukan Apa Pekerjaan Laki-laki dan Perempuan

"Nih, Neng, belajar, siap-siap nanti kalau udah nikah," kira-kira itu yang dia katakan sambil menumpuk piring kotor.


“Dari manapun cewe-nya, kalau serius jangan pernah disakitin. Kasian bapaknya ngerawatin dari kecil,” begitu celetuk pacar teman saya di grup chat, di mana saya juga tergabung. Sepanjang yang saya tahu, sebelumnya teman-teman dalam grup sedang ribut membicarakan rencana pernikahan teman saya dan pacarnya tadi. Menikahnya awal tahun depan.

Ketika membaca celetukan itu, tiba-tiba fokus saya berganti. Saya jadi bingung dengan maksud si pacar, yang mari kita inisialkan dengan P. Jadi siapa yang ia perhatikan? Si cewe atau bapaknya?

Tapi yang jauh lebih penting, lalu dianggap apa si cewe ini? Peliharaan? Atau barang, yang kepemilikannya kemudian dipindahtangankan dari bapaknya ke suami?

Saya bingung dengan P, apakah tidak cukup hanya mengatakan, “dari manapun cewe-nya kalau serius jangan pernah disakiti”? Stop di situ. Itu akan terdengar lebih manusiawi ‘kan? Terlebih yang ia sebut hanya “bapak” sebagai sosok yang sudah merawat teman saya dari kecil. Kemana ibunya?

Dari cara menyusun dan memilih kata-kata, si P bukannya menampilkan diri sebagai calon sosok laki-laki yang penuh tanggung jawab, (mugkin) seperti yang teman saya harapkan. Ini justru, di mata saya, adalah perkataan seseorang yang narsis dan memandang rendah si calon istri dan perempuan pada umumnya.

Anehnya, tidak ada yang protes di grup itu. Anehnya lagi, karena tidak ada yang protes, lama-kelamaan saya jadi bertaya-tanya apakah saya terlalu berlebihan menyikapi celetukan si P?

Saya sadar, persoalan menanggapi masalah gender ini juga disetir oleh anggapan sosial. Dan itu sudah terbiasa kita terima begitu saja. Bahwa laki-laki adalah penjaga, dan perempuan itu rapuh sehingga harus dijaga. Bahwa perempuan itu dimiliki dan yang punya hak memiliki adalah laki-laki, dalam hal ini bapak atau suami.

Baca Juga:   Betapa (Tidak) Spelenya Soal Membuang Sampah

Dan sesungguhnya, kebiasaan mendikotomi peran gender ini sudah terkonsep sejak lama. Itu membuat sampai akhirnya tak ada yang sadar betapa sistem ini sangat mendiskriminasi. Padahal, dengan membaca celetukan si P itu, saya jadi teringat masa di mana perempuan hanyalah dianggap sebagai harta rampasan dari satu laki-laki ke laki-laki lain.

Si P ini bisa jadi merupakan korban dari kebiasaan sosial itu. Kalau diingat-ingat, suatu hari saya juga pernah mendengar P secara spesifik mendeskripsikan pekerjaan si calon istri ketika berumah tangga nanti. Saat itu saya dan beberapa teman, termasuk teman saya yang menjadi calon istri P itu, mengunjungi rumah si P untuk sebuah acara syukuran kecil-kecilan.

“Nih, Neng, belajar, siap-siap nanti kalau udah nikah,” kira-kira itu yang dia katakan sambil menumpuk piring kotor. Teman saya itu patuh. Ia segera mengambilalih tumpukan piring kotor itu dan membawanya ke bak cuci piring.

Oke. Sebenarnya saya mengakui ini bukan masalah, selama si teman saya tadi juga tak mempersoalkan atau menggerutu macam-macam. Ia jutru terlihat tersipu-sipu karena mungkin si calon suami terkesan memamerkan “hubungan mereka yang sudah sangat serius” itu di hadapan teman-temannya.

Jadi, masalahnya apa?

Masalahnya adalah, semua ini akan menjadi hulu ke persoalan yang lebih kompleks. Laki-laki yang merasa dirinya meng-hak-i perempuan sangat berpotensi terhadap perilaku KDRT, entah itu secara psikologis maupun fisik. Ia akhirnya memiliki bahan untuk menuding perempuan sebagai istri yang tidak baik ketika melihat rumah yang berantakan, masakan yang kurang asin, atau anak yang nakal. Istri akhirnya dilarang berkarya dan menggapai cita-citanya karena harus fokus pada “tugas”-nya.

Baca Juga:   Pertanyaan (Teror) Ibu-Ibu Sebelum dan Sesudah Menikah

Mari kita runut apa sebenarnya yang membuat label dapur pada jidat perempuan dan label pekerja pada jidat laki-laki itu sulit untuk dilepas.

Konsepsi pembagian peran yang akhirnya dianggap biasa oleh seorang laki-laki dan perempuan dewasa sesungguhnya sudah terjadi sejak mereka belum lahir. Ingat? Beberapa kado yang berdatangan untuk si calon bayi atau bahkan yang dibelikan oleh orang tua si calon bayi kebanyakan lebih dulu melalui pertimbangan, seperti : “Ini untuk cewe atau cowo, ya?”

Dan akhirnya, pemikiran itu disederhanakan dengan, kalau warna pink atau ungu itu untuk perempuan. Kalau warna biru, merah, hijau itu untuk laki-laki. Pertimbangan demikianpun kemudian dipermudah oleh beberapa produsen pakaian yang secara jelas melabeli merk-nya dengan “girl” dan “boy”, seakan keduanya adalah spesies yang berbeda.

Sally Peck, editor The Telegraph juga pernah mengulas, sejak anak perempuan dan laki-laki lahir, mereka memang telah menerima perlakuan yang berbeda. Berdasarkan sebuah studi, orang tua diketahui akan berbicara dengan bayi perempuan lebih lama. Sementara, mereka akan membiarkan anak laki-laki bermain lebih jauh dibanding anak perempuan.

“Anak laki-laki menjadi jauh lebih aktif saat mereka tumbuh dewasa karena orang tua mendorong mereka menjadi sporty, sedangkan anak perempuan didesak untuk bersabar dan tenang,” kata seorang Psikolog dari Universitas of Kentucky, Christia Spears Brown, dalam ulasan Peck tadi.

Hmm..Kalau di kita, akan sering dengar kata-kata begini: “Eh, anak cowo
nggak boleh nangis!” atau “Eh anak cowo nggak papa kalau jatuh..”. Iya nggak? Iya dong

Baca Juga:   Surga dan Neraka, Siapa yang Paling Berhak ?

Stereotip datang tak cuma dari pakaian dan cara mendidik orang tua. Pemisahan konstruksi gender juga dimunculkan oleh perusahaan mainan. Ini seperti yang dikatakan oleh Jess Day, anggota dari grup kampanye Let Toys Be Toys.

Sekarang bisa kita lihat, kebiasaan yang sudah dianggap lumrah adalah pengelompokan mainan untuk laki-laki dan perempuan. Di dalam kelompok mainan yang dilabeli sebagai mainan laki-laki, kita bisa menemukan robot-robotan, mobil-mobilan, bola, juga tembak-tembakan. Lalu di zona yang katanya untuk perempuan, kita akan menemukan miniatur peralatan masak, boneka, miniatur rumah-rumahan, dan sebagainya yang kebanyakan diwarnai dengan pink atau ungu.

Dampaknya? Kita pasti merasa beberapa lahan olahraga akan sangat sulit dilepas dari zona maskulin. Dan yang pasti, ya itu tadi, wilayah rumah tangga, masak-masakan atau merawat anak dianggap ranah perempuan dan sama sekali tidak pas untuk manusia berpenis.

Sementara kata Day, penelitian oleh the Welsh Organisation menunjukkan anak-anak pada usia balita sudah memiliki ide yang sangat jelas tentang pekerjaan yang cocok untuk anak laki-laki dan perempuan. “Ini akan sangat sulit untuk diubah,” tegasnya.

Memang, ketimpangan antara laki-laki dan perempuan mungkin dampaknya tidak selalu harus kepada kasus KDRT. Setidaknya, kasus P tadi adalah contoh bahwa saat inipun, masih banyak yang belum sadar perihal pembagian peran berdasarkan gender yang tak lain adalah konsepsi basi!

Kebiasaan dan anggapan umum di lingkup siosial seperti inilah yang membuat perempuan, mungkin tanpa ia sadari, hidup dengan ribuan tuntutan di otaknya. Ini akhirnya yang membuat orang berpikir bahwa mendidik anak perempuan itu jauh lebih sulit dibanding mendidik anak laki-laki.

BERIKAN KOMENTAR

Ketika Kita Masih di Zaman di Mana Sosial Menentukan Apa Pekerjaan Laki-laki dan Perempuan

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF