Kecurigaan Terhadap Emha, Markesot dan Pemimpin Jelangkung

Mbah Nun adalah seorang pemulung. Ia bahkan bukan seorang penemu, ilmuwan, ulama, pemimpin (pejabat) atau kiai, lebih-lebih seorang wali.


Akhir-akhir ini saya tertarik kembali untuk membaca tulisan-tulisan lepas karya Emha Ainun Najib atau yang kini lebih akrab disapa Mbah Nun. Tak ada kepentingan apa, kenal secara pribadi pun tidak, bahkan tak semua tulisan—saya yakin—telah saya baca sepenuhnya. Selama mukim di Yogya saya memang sempat menghadiri beberapa acara “Maiyah” dan sempat bekerja sebentar sekali (bahkan nyaris dapat dikatakan tak melakukan apapun) di Majalah Sabana (Majalah di bawah naungan Rumah Budaya Emha) melalui penyair dan budayawan Yogya, mas Iman Budi Santosa.

Ini lebih dikarenakan menyambungkan suatu estafet rasa penasaran yang sempat terputus. Mungkin sebagaimana sebagian kalangan, ketertarikan (jika bukan kecurigaan) saya terhadap Mbah Nun pada mulanya dimulai dari sebuah keterpesonaan. Pertama, Emha selalu dikerumuni banyak orang sebagai raja panggung atau podium dalam setiap acara di mana ia menjadi sentralnya. Kedua, kemampuan retoriknya yang kaya, analogi-analoginya yang otentik dan cerdas. Ketiga, tentu kekayaan modal sosialnya yang ia bangun atau terbangun melalui cara-caranya mengemas diri di tengah publik dan menghadirkan gagasannya melalui tulisannya yang dipenuhi dengan teknik strategis sastra.

Percikan tulisan ini tentu tak bermaksud melakukan penilaian terhadap Mbah Nun, itu bukan hak preogratif saya—meminjam bahasa Mbah Nun. Selain itu, jauh dapat dikatakan sebagai suatu penilaian, jangankan penilaian bahkan dikatakan rasan-rasan saja tulisan ini tak cukup memadai dan miskin pengambilan sudut pandang. Bila pun tulisan ini memiliki tendensi, itu sebatas pada mencatat kecurigaan-kecurigaan saya terhadap sosok Mbah Nun.

Mbah Nun adalah seorang pemulung. Ia bahkan bukan seorang penemu, ilmuwan, ulama, pemimpin (pejabat) atau kiai, lebih-lebih seorang wali. Kalau Mbah Nun itu Wali, itu berarti saya lebih Wali dari beliau. Ia miskin pengetahuan. Seorang megalomaniak yang tamak. Ia bahkan miskin keyakinan. Retorikanya semacam “ramalan” kehancuran sesuatu yang berasal dari wilayah yang sudah lama kita tinggalkan.

Ia seorang pemulung, karena dengan mudah kita dapat menemukan dalam perbendaharaannya sesuatu yang kerapkali kita anggap sampah dan hanya menghuni tempat pembuangan. Kreatifitasnya semacam mesin daur ulang yang menjadikan sampah plastik sebatas “layak” kembali menjadi kantong plastik. Ia miskin keyakinan karena dengan mudahnya bisa mementahkan siapapun apalagi apapun, kecuali soal Tuhan—itu bukan hak preogratif saya menilai.

Ia bukan filsuf ataupun ilmuwan karena ia tak (berusaha) memiliki suatu disiplin keilmuan yang pakem. Ia bahkan meragukan logika dan apa yang mampu dicapai oleh akal budi dalam suatu ruang-waktu kebudayaan tertentu. Ia miskin pengetahuan, karena ilmunya hanyalah pinjaman baik pada kenyataan hidup atau tanda-tanda Tuhan yang tercatat dalam kitab kering maupun kitab basah. Ia bukan seniman atau sastrawan pioner karena ia tak mendobrak bentuk dan daya ungkap.

Ia megalomaniak yang tamak, menempa dirinya secara khusus untuk memperoleh perhatian sebanyak mungkin khalayak. Insting dan intuitifnya terasa ditempa dari suatu runtuhan masa lalu yang getir dan optimisme akan masa depan anak cucu Indonesia yang jarang bisa dipahami—apalagi dipedulikan. Ia, meminjam bahasa Gibran tetaplah terjerembab dalam kubangan kesunyian sejauh apapun jiwanya terbang.

Ia bukan seorang mursyid, ia sangat egois karena menolak didefinisikan bahkan oleh dirinya sendiri. Ia, melalui tokoh Markesot memang sedang menjelaskan persona tertentu—tapi itu lebih didorong oleh suatu usaha menolak dipakemkan. Namun, sialnya, meski ia menghadirkan karakter semacam tokoh Markesot, Sundusin dan sebagainya, ia tak ingin nama dipakemkankan. Jangankan nama makhluk, nama “tuhan” pun ia substansikan.

Ia tak memberi apapun karena ia mengajak pada apa yang tak bisa dilihat oleh mata dan digenggam oleh tangan di dunia yang serba instan dan penuh percepatan. Ia layaknya sufi, menarik pada soal keteguhan pada yang fitri, keadikuasaan manusia yang ia plesetkan sebagai tanggung jawab dan perjanjian dengan Tuhan, mengajak berpikir pada suatu masyarakat yang enggan berpikir lebih-lebih seperti jaman kini di mana kecerdasan buatan ada dalam genggaman. Ia terasing dalam kepopuleran, di tengah kerumunan manusia yang untuk sementara waktu dapat mengingkari dirinya sebagai robot sistem global.

Ia bukan pemimpin, bahkan dalam suatu forum sinau bareng atau jamaah Maiyah, karena siapapun boleh ngomong dan mengutarakan pendapatnya. Ia tak punya jabatan apapun di dunia ini, ia pemimpin tanpa jamaah yang memiliki ketundukan, penggemarnya tetap bebas dan merdeka. Ia kesepian, terasing dan sendirian. Itulah mengapa saya menjadi heran, mengapa Kanjeng Nabi menyabdakan: beruntunglah orang-orang yang terasing!

Good luck Mbah Nun, semoga senantiasa diberi kekuatan menemukan generasi pemulung lainnya di tengah kerumunan yang sesekali mungkin membuatmu lelah dan penat!

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Pegiat budaya. Menulis esai dan catatan lepas serta semacam puisi. Sesekali juga melukis. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Kecurigaan Terhadap Emha, Markesot dan Pemimpin Jelangkung

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF