Kebaikan, Keterbukaan atau Mentalitas Inferior?

Karena itu, bagi kebanyakan akademisi luar negeri, Indonesia adalah surga "fieldwork" ilmu sosial-humaniora buat mereka.


Setelah terjun dalam dunia akademisi, satu pertanyaan yang selalu menggelayuti pikiran saya adalah “apa yang membuat akademisi non-Indonesia begitu “canggih” mengeluarkan konsep-konsep ilmu sosial humaniora yang diakui di dunia internasional?

Apakah karena sumber-sumber primer dan fasilitas lengkap yang dimilikinya sehingga memungkinkan untuk bisa mengbandingkan dan menteorisasikan hasil risetnya di Indonesia dengan negara lain?

Apakah karena kemampuan individu dari akademisi non-Indonesia tersebut dalam turun lapangan (fieldwork) dengan  pendekatan yang bagus dalam turun lapangan sehingga memudahkan mendapatkan kekayaaan informasi dan data? 

Ataukah karena keterbukaan informan dan asisten peneliti dari Indonesia yang menyambut hangat ketika orang non-Indonesia berkunjung ke rumah mereka sehingga mereka mau membuka segala informasi dan data yang dibutuhkan?

Dari ragam pertanyaan tersebut, selain adanya fasilitas resources yang memadai, kualitas individu dari akademisi tersebut, juga, yang jarang dibahas, adalah kontribusi dari informan ataupun asisten peneliti yang memungkinkan akademisi non-Indonesia bisa menghasilkan konsep-konsep ilmu sosial-humaniora yang diakui dan dijadikan referensi di dunia akademisi dalam level internasional.

Menurut pendapat saya,  meskipun harus melakukan riset terlebih dahulu untuk menguatkan, faktor keterbukaan orang Indonesia terhadap orang asing menjadi hal yang utama. Banyak dari orang Indonesia, merasa senang dengan kehadiran orang asing yang berkunjung ke tempat mereka. Apalagi, bila yang datang adalah dari Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. 

Baca Juga:   Nasionalisme, Kekuasaan dan Demokrasi

“Rasa senang” ini kemudian bisa memudahkan para peneliti non-Indonesia untuk mendapatkan akses dan jaringan. Bahkan, ada orang Indonesia, lebih percaya kepada akademisi non-Indonesia ketimbang orang Indonesia sendiri.

Akibatnya, ia lebih senang menyerahkan informasi dan data semuanya tentang bapaknya, sebagai tokoh muslim moderat Indonesia, kepada akademisi non-Indonesia tersebut. Meskipun tujuan yang diinginkan adalah agar bapaknya lebih dikenal di dunia internasional melalui karya akademisi non-Indonesia tersebut.

Selama saya melakukan riset di Filipina (2011-2012), keterbukaan terhadap akademisi non-Filipina ini tidak saya temukan. Bahkan, saya mengalami kesulitan untuk mewawancarai informan kunci di Filipina, terkait dengan isu pelanggaran HAM. Barangkali, karena yang saya wawancarai adalah orang kelas menengah Filipina, mantan aktivitis dalam dunia pergerakan, isu yang saya angkat juga sangat sensitif dan masih hangat, sehingga membuat mereka tidak ingin “membuka suara kepada saya”.

Saya bisa mewawancarai informan kunci dengan terlebih dahulu menghubungi orang yang selevel dan berteman akrab dengan mereka. Hal ini berbeda, bila saya wawancarai dengan kalangan kelas bawah Filipina, keterbukaannya terhadap orang asing hampir relatif sama dengan di Indonesia. 

Faktor keterbukaan orang Indonesia terhadap orang asing ini juga dialami oleh teman saya, Noorhayati, pembuat film dokumenter dan aktivis perempuan Malaysia. Menurutnya, keterbukaan orang Indonesia memungkinkan Ia mendapatkan akses informasi dan data lebih luas yang memudahkan untuk menyelesaikan film dokumenternya. Sementara, hal ini tidak akan terjadi bila ada orang asing yang ingin melakukan riset di Malaysia. 

Baca Juga:   Antara Tanah atau Jeruji Besi untuk Petani Surkonto Wetan

Bahkan, menurutnya, orang dari lembaga donor, tidak boleh mengikuti seluruh kegiatan rapat yang diselenggarakan oleh LSM di Malaysia. Alasannya, hal itu adalah urusan privat yang tidak boleh dicampuri asing, meskipun mereka mendapatkan dana dari lembaga donor internasional.

Terkait dengan mendapatkan informasi dan data dalam dunia akademisi internasional inilah yang membuat akademisi non-Indonesia biasanya saling mengunci terkait dengan isu yang didalami. Karena mereka tahu. Mendapatkan data lapangan tidaklah mudah. 

Mereka bisa berbagi informasi dan data bila karyanya sudah dipubliskan dalam buku, artikel, dan monograph, yang bisa dikutip. Karena itu, bagi kebanyakan akademisi luar negeri, Indonesia adalah surga “fieldwork” ilmu sosial-humaniora buat mereka. Karena dianggap sebagai surga “fieldwork”, bahkan saking konyolnya, ada seorang akademisi dari Inggris bidang kajian Islam dalam satu group diskusi bertanya kepada saya dan teman-teman. Inti pembicaraannya demikian; 

“Dibandingkan dengan peneliti dedengkot semacam Robert W Hefner, Martin Van Burneissen, dan lain sebagainya, saya adalah orang orang baru untuk meriset kajian Islam di Indonesia. Menurut kamu, ada enggak kajian-kajian terkait dengan Islam yang saya bisa dalami di Indonesia selain yang sudah dibahas oleh mereka?”. Bagi saya pertanyaan ini sudah diluar dari fokus group diskusi yang diinginkan. Ini sudah ingin mengambil ide dari saya dan teman-teman, yang barangkali dianggap lugu. Saya lalu SMS ke teman-teman untuk tidak membuka suara terkait dengan hal itu.  

Baca Juga:   Hantu Kegetiran dalam Kebudayaan Kita Kontemporer

Bertolak dari sini, apa sebenarnya yang membuat sebagian masyarakat Indonesia terbuka terhadap orang asing, khususnya akademisi non-Indonesia? Bahkan tingkat keterbukaan orang Indonesia sampai pada level kalangan terpelajar juga. Hal ini bisa dilihat dengan keterlibatan sejumlah akademisi non-Indonesia yang awalnya sebagai orang luar (outsider) menjadi orang dalam (insider) dengan terlibat dalam konferensi untuk membicarakan isu tertentu ataupun terlibat dalam sebuah projek: satu kemewahan yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh sesama akademisi non-Indonesia di kalangan mereka. 

Menurut dugaan saya, mentalitas inferior dalam memandang asing masih menggejala di Indonesia. Maksud “mentalitas inferior” adalah kita memandang orang asing sebagai sesuatu yang “wah” dan patut dikagumi dengan pelbagai sejarah dan kebudayaan yang dimiliki. Perasaan kagum inilah yang memungkinkan kita membuka akses terhadap mereka, tanpa melihat efek lebih jauh dan timbal balik yang dihasilkan untuk kita. Salah satu pertanyaan timbal baliknya adalah, “Setelah kamu meriset kami dan kamu menghasilkan sejumlah konsep canggih mengenai kami, lalu sumbangsih apa yang dapat kamu berikan kepada kami?”

BERIKAN KOMENTAR

Wahyudi Akmaliah
Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta.

Kebaikan, Keterbukaan atau Mentalitas Inferior?

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF