Jalan Ini, Jalan Puisi Seorang Kiai

Saat ini, mungkin tidak banyak lagi orang yang mengetahui “hubungan gelap” kiai dengan puisi; santri dengan puisi; pesantren dengan puisi.


Jalan-ini-rindu-1-1.jpg
Judul:Jalan ini Rindu
Penulis:W.A.A. Ibrahimy
Penerbit:Ibrahimy Press
Halaman:Xviii+169
Tahun Terbit:Januari, 2017

Tidak ada yang meragukan kedekatan puisi dengan Islam, terlebih dengan pesantren. Yang meragukannya pastilah disebabkan oleh adanya kesenjangan pemahaman sejarah panjang puisi atau tidak kenal model pengajaran ilmu-ilmu keagamaan melalui nazam di pesantren. Mengapa para santri sangat akrab dengan puisi dan/atau mengapa mereka gemar membaca puisi? Pertanyaan seperti ini tentu tidak perlu diajukan apabila latar belakang bagaimana ‘hubungan intim’ antara puisi dan santri—sebagaimana disampaikan di atas—dipahami dengan baik.

Yang dapat saya pahami dari “Jalan Ini Rindu” setelah membacanya secara kronologis adalah semacam riwayat serangkaian sanad keilmuan sang penyair saat menimba ilmu di pelbagai tempat, terutama di pesantren-pesantren, tempat sementara ia menetap. Puisi ditulis secara urut waktu, bermula sejak kisaran akhir 90-an hingga terkini (2015), diakhiri di Situbondo, tempat lahir Penyair dan tempat ia kembali setelah menganggap purna perjalanan pencarian jatidirinya walaupun untuk sementara. Dengan demikian, jika turut ingin merasakan, berempati pada puisi-puisi yang ada di dalam buku ini, pembaca hendaknya juga harus mencari tahu konteks kepenyairan Penyair dengan tempat-tempat yang disebutkan di setiap akhir puisinya itu, antara lain seperti Soditan (Lasem), Pujon (Malang), Siwalan Panji (Sidoarjo), Rusaifah (Makkah), dan seterusnya.

Dalam sementara anggapan saya, sebetulnya tidak ada temuan-temuan yang sama sekali baru dalam buku “Jalan Ini Rindu” ini. Puisi-puisi di dalamnya masih ditulis dengan gaya yang sama dengan kebanyakan puisi di luar sana: puisi bebas dan sebagiannya terikat sajak. Gaya bahasa maupun diksi pun layak lazimnya. Yang menarik dibicarakan darinya adalah sudut pandang penyair terhadap puisi itu sendiri karena menganggapnya sebagai jalan dalam menemukan eksistensi diri. Ah, bukankah itu juga biasa? Mungkin lazim bagi awam, tapi tidak bagi seorang kiai.

Saat ini, mungkin tidak banyak lagi orang yang mengetahui “hubungan gelap” kiai dengan puisi; santri dengan puisi; pesantren dengan puisi. Yang diketahui umum adalah bahwa belakangan begitu banyak penyair yang muncul dari pesantren, namun tidak ada pertanyaan serius “mengapa hal itu terjadi”. Tidak banyak orang yang tahu dan tidak banyak pula orang yang ingin mengetahuinya “apa” dan “mengapa”-nya. 

Jika orang mengenal beberapa nama penyair dari/alumni pesantren, tapi mungkin mereka sama sekali tidak menunjukkan “wawasan kepesantrenan” atau “wawasan kesantrian” (tema ini saya tulis dalam artikel terpisah) dalam karya-karyanya. Yang tipe seperti ini mudah ditemukan. Akan tetapi, penyair cum kiai serta mengemban amanat kesantrian atau sufisme dalam puisi-puisinya tentu tidak banyak. Di antara yang sedikit itulah terdapat nama W.A.A. Ibrahimy.

Baiklah, kita mulai…

Saya menangkap adanya kata kunci dalam buku puisi ini yang dicukupkan hanya kepada tiga hal: belajar, zikir, ibadah (shalat), yang mana kesemua itu diteguhkan keberadaannya melalui eksistensi puisi. Penyair tidak sekadar menyampaikan pentingnya memperhatikan ketiga hal itu dalam kehidupan, melainkan harus pula menyelinapkan nilai-nilainya melalui puisi.

Di lingkungan santri dan pesantren, pembicaraan mengenai santri dan sufisme bukanlah tema yang mewah, pembicaraan yang hanya didiskusikan oleh orang-orang tertentu. Ia adalah tema biasa-biasa saja. Artinya, begitu dekatnya amaliah dan aktivitas kesantrian dengan ritual sufisme membuatnya seolah menyatu, manunggal. satu hal penting dalam ranah sufisme adalah zikir. Begitu pentingnya landasan pemahaman terhadap zikir ini karena darinyalah lahir prinsip untuk membedakan “penyair perkecualian” dengan “penyair umum”. Allah, di akhir Surah As Syuara’ (Para Penyair), begitu jelas mengutuk para penyair yang gemar membual, ditandai dengan salah satu sifatnya yang menganjurkan tindakan tertentu namun mereka sendiri tidak melakukannya.

Peran penyair, dulu, sangatlah agung. Tidak heran jika manusia berstatus penyairlah yang disebutkan secara khusus di dalam Alquran, bahkan Allah sampai-sampai menantangnya sebagaimana tersurat dalam satu ayat di dalam Surah Al-Baqarah. Inilah salah satu bukti betapa penting peran mereka di dalam masyarakat masa lalu, di masa turunnya Alquran. Akan tetapi, tentu saja Allah tidak mengancam semua penyair, melainkan menyanjung penyair perkecualian itu, yaitu “penyair yang beriman dan berbuat baik”. Itulah yang ditegaskan oleh Penyair dalam dua pernyataan pada dua puisinya: Dekat sebuah pilar / Suara zikir jadi getar (dalam puisi “Lasem Ajaranmu”) dan Maka takwa adalah pintu zikir / Dan zikir adalah pintu kasyaf / Dan kasyaf adalah pintu pertemuan / Dan pertemuan adalah pintu kebahagiaan (dalam puisi “Ada”).

Baca Juga:   Ashtiname, Prasasti Perdamaian Rasulullah (Bagian 1)

Sebagaimana kita tahu, puisi itu ibarat senarai teks perbandingan belaka. Ia mungkin meniru kehidupan, membuat proyeksi, namun dengan perbandingan yang terkadang sama sekali tidak mirip, bahkan sengaja dibikin lebih samar (namun bukan berarti ngawur; harus menggunakan pedoman/aturan) dengan tujuan agar ruang penafsiran pembaca semakin lebar. Monroe Breadsley bahkan meyakini bahwa puisi itu sebenarnya hanya sekumpulan metafora saja sehingga metafora itu tak ubahnya adalah puisi miniatur atau miniatur puisi.

Dalam puisi berujudul Cinta II, Penyair membuat perbandingan-perbandingan yang sangat menarik. Perbandingan, sebagai salah satu unsur gaya yang paling dominan di dalam puisi, menemukan kekuatannya di sini bukan saja ketika ia berada dalam sebuah pensejajaran yang tepat, yang setara (seperti pembandingan bersejajar antara gelap dan cahaya yang bersejajar dengan kesesatan dan petunjuk), melainkan sangat bergantung kepada wajhas-syibh (ground of analogy)-nya. Mari perhatikan bait-bait berikut:

Cinta kepada Allah itu api

Apa pun yang dilewati akan terbakar

Maka leburlah beku perasaan

Dalam panas kerinduan

Begitu juga dengan bait lain di dalam puisi yang sama:

Cinta kepada Allah itu cahaya

Apa pun yang dikenainya akan bersinar

Maka biaskanlah jiwa ini

Dari dimensi maya kepada dimensi nyata

Pada bagian ini, Penyair melakukan pembandingan. “Cinta kepada Allah” dibandingkan dengan berbagai hal, seperti dengan api, cahaya, langit, angin, air, dan bumi. Pernyataan-pernyatan pembandingan sebetulnya dapat ditempuh dalam beberapa cara, baik dengan perangkat penyerupa seperti “laksana”, “bagaikan”, “bak”, “semisal”, dan seterusnya, hingga ia disebut asosiasi. Atau juga dengan penyerupaan manusia yang disebut insanan, benda mati diibaratkan manusia. Sebagaimana “melambai” untuk “daun”, “berjalan” untuk “bayangan”, dan seterusnya. Akan tetapi, di sini, Penyair menggunakan teknik bandingan langsung Cinta kepada Allah secara langsung dibandingkan dengan langit, dengan air, dengan bumi, dll. Penyair tidak menggunakan “seperti” atau “bagaikan” melainkan menggantikannya dengan kopula yang kurang lebih artinya adalah “seperti namun tidak sungguh-sungguh seperti”. Dalam teori penyerupaan (comparison; tasybih), penghilangan perangkat penyerupa ini dapat menaikkan derajat dan kualitas sebuah ungkapan, menjadi lebih sublim.

Dengan alasan ini, maka saya cenderung untuk menghilangkan ‘musyabbah bih’ (dua larik terakhir) yang fungsinya justru hanya menjadi ‘sampiran’ bagi dua larik pertamanya yang diposisikan sebagai mahia/inti. Contoh, hanya menyebutkan Cinta kepada Allah itu api / Apa pun yang dilewati akan terbakar, tanpa perlu memberi penjelasan lagi kepada pembaca dengan Maka leburlah beku perasaan / Dalam panas kerinduan. Mengapa penyair tetap memasukkan dua larik terakhir tersebut? Dugaan saya adalah karena dua larik terakhir dalam setiap bait tersebut bukanlah sekadar sampiran, bukan sekadar penjelasan, tapi lebih dari itu. Ia adalah harapan, adalah doa, yang dibuktikan dengan adanya imbuhan “-lah” pada semua kata kerjanya.

Maka dari itu, setiap dua bait pertama dalam puisi “Cinta II” ini (Cinta kepada Allah itu langit / Apa pun yang di bawahnya akan ditutupnya; Cinta kepada Allah itu angin / Apa pun yang ditiupnya akan digerakkan; Cinta kepada Allah itu air / Dengannya ia hidupkan segala; Cinta kepada Allah itu bumi / Darinya ia tumbuhkan segala) adalah statemen. Sementara dua baris berikutnya adalah doa (perhatikan pula puisi berjudul “Kasidah Rindu” yang berbentuk doa; pengharapan). Seperti dinyatakan sebelumnya, untuk kemampatan dan kerapatan, tentu, cukuplah puisi itu disebutakan bagian dua larik pertamanya saja, namun jika dimaksudkan sebagai doa, tentu saja itu hal dan urusan yang berbeda.

Baca Juga:   Pamor Pesantren Jombang (Bagian 1 dan 2)

Begitu pula pada puisi “Bagiku itu Puisi”, Penyair melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya untuk Cinta II, yaitu pembandingan, perbandingan. Penyair, dalam puisi ini, menyajikan puisinya dalam dua bait saja. Bait pertama terdiri dari 10 baris. Contoh: puisi “Ada”.Penyair melakukan bandingan, antara belaian ibu, genggaman ayah, persahabatan, kondisi lahir (dahaga, lapar) dan batin (bahagia, sedih), bahkan seluruhnya, dan oleh penyair itu dianggap atau didefinisikan sebagai puisi. Sementara pada bait kedua, penyair menegaskan lagi bahwa semua itu bermuara pada ‘mikraj’ yang ditempuh manusia sebagai hamba. Apa itu? Jika mikraj Nabi adalah momen bersejarah penerimaan amanah salat 5 waktu untuk umatnya, maka menurut ulama, ‘mikraj’ bagi manusia, adalah melaksanakan salat itu sendiri. Ya, karena salat adalah ‘mikraj’ bagi kita semua. Dengan begitu, semua hal yang puitis hingga bahkan ia menyaru puisi itu sejatinya—tulis Penyair—adalah bertumpu pada kaki, yakni ketika penyair menggambarkan sebagai persiapan untuk salat, ketika menekan keyakinanku dengan Allahu Akbar.

Begitu pula, dalam puisi “Ya Kekasih”, penyair kembali bermain-main dengan statemen pendek, sebagaimana dalam “Cinta II”. Bedanya, jika dalam “Cinta II” yang digunakan adalah perbandingan, pada puisi “Ya Kekasih” penyair menggunakan logika umum lalu menolaknya dengan statemen pula. Mari, kita simak bait pembukanya.

Ya, Kekasih / jika Engkau baru aku temukan / maka bukan berarti Engkau pernah hilang dariku / tapi akulah yang hilang dari-Mu.

Logika yang mirip, meskipun tidak sama, dengan pernyataan di atas lazim ditemukan dan beredar dalam masyarakat. Kita menganggapnya benar karena semua orang mengatakannya demikian, padahal yang disebut benar itu adalah yang memang benar-benar benar, bukan karena banyak orang yang mengatakannya benar meskipun sesungguhnya ia salah. Gambarannya kira-kira seperti ini: Terkadang, kita melihat orang yang menyatakan “mencari keadilan” dalam satu delik hukum di persidangan di suatu pengadilan, namun sebetulnya yang dicari adalah “mencari kemenangan”.

Dalam sebuah doa yang teramat masyhur, ada ungkapan: “Allahummaftah lana baba fadlika” (artinya: Ya Allah, bukakanlah pintu keutamaan-Mu untuk kami). Apakah itu berarti bahwa pintu keutamaan Allah pernah tertutup atau bahkan terkunci? Sebenarnya, pernyataan-pernyataan metaforis ataupun ungkapan puitis itu tidak dapat dipahami dengan serta-merta “apa ada”-nya. Jika demikian, maka jelas pemahaman akan menjadi lugu dan rancu. Di Surah Luqman ayat 27, Allah mengungkapkan pengandaian tentang betapa mahaluas ilmu-Nya sehingga tidak mungkin habis diserap oleh manusia. Adapun terjemahan ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Nah, jika pengandaian kemahaluasan ilmu Allah ini dicerna oleh logika literal dan apa adanya, maka betapa iseng dan lugunya jika ada pertanyaan lanjutan: bagaimana jika ditambahkan tujuh lautan lagi (menjadi 14 lautan) dan ditambah tujuh lagi jika belum habis juga (dan menjadi 21 lautan)? Apakah ilmu Allah lantas akan habis dituliskan? Masa iya ada pertanyaan selugu itu?

Kembali pada pernyataan di atas, pernyataan tentang permohonan agar pintu Rahmat Allah supaya dibuka, hanyalah sebatas meneguhkan posisi hamba yang sedang berdoa sebagai pengemis yang salah satu syaratnya adalah merendahkan posisi dan menjungjung tuan yang sedang diminta, beda dengan ‘iltimas’ (permintaan terhadap orang yang derajatnya sama) apalagi ‘amar’ (permintaan yang derajatnya lebih rendah). Dengan demikian, ungkapan penyair tapi akulah yang hilang dari-Mu adalah sebentuk pengakuan penyair sebagai hamba, merendahkan diri serendah-rendahnya, guna mendapatkan ampunan atau anugerah dari Allah yang senantiasa Maha Pemberi, dari hamba-pengemis namun tidak selalu menadah.

Di antara puisi “Cakrawala Basmalah” dan “Bayan Alif” yang menafsir ‘basmalah’ dan ‘alif’ secara semantik-semiotik, masih ada sekian puisi karya penyair W.A.A. Ibrahimy yang memiliki napas yang sama. Ada puisi “Jalan Ini Jalani” yang merupakan puisi yang meneguhkan kredo pencarian dan pengungkapan jatidiri melalui puisi; “Wasiat Guru” yang merupakan pesan guru Penyair dan diharapakan pula menjadi pesannya untuk para santri. Sementara puisi “Taman Rusaifah” dan “Engkau, Dengarkanlah” mempunyai kecenderungan aku-lirik yang begitu kuat, berisi renungan tentang hidup dan cara memaknainya sebelum ajal menjemput. Bahkan, puisi berjudul “Giliyang” yang sepintas kilas mirip puisi suasana dengan penggalian unsur-unsur pembentuk panorama alamnya pun tak luput dari sentuhan sudut pandang religius. Ada ajakan tafakur di sana; Udara di atas Giliyang / mimpi, harapan, ataukah anugerah? / sementara kecemasan / berhamburan tinggi mengangkasa. Pulau Giliyang yang notabene merupakan pulau yang dianugerahi Tuhan dengan udara terbaik di dunia mestinya membuat manusia berpikir, apakah itu anugerah yang oleh karenanya harus disyukuri, ataukah ia malah jadi malapetaka jika hanya dianggap sebagai investasi wisata tanpa memikirkan dampak buruk bagi penduduknya, sehingga puisi pun ditutup dengan pengulangan bait Tak surut menepi / Tak pasang menerjang.

Kembali pada pernyataan di muka, bahwa tema religiusitas atau sufisme bukanlah hal yang asing di lingkungan santri, terlebih bagi para kiai, tetapi terkadang kita sendiri masih meragukan kedekatan dan pendalaman tema itu dalam kehidupan sehari-hari. Sementara ini, yang kita lihat adalah begitu banyaknya kegiatan tarekat di sekitar kita namun malah terkadang ada yang menganggapnya sebelah mata karena menganggap kegiatan keagamaan semacam itu tidak pernah ditemukan di lingkungannya. Menyikapi hal ini, mestinya kita tengok kembali pertanyaan Penyair sebagaimana tersurat dalam puisi “Ya, Kekasih” lalu mengubah sudut pandang pemahamannya: benarkah kegiatan itu hal baru atau kita saja yang baru tahu?

Baca Juga:   Tragedi Lapindo Peringatan Atas Keserakahan Manusia

Begitulah, sekian banyak puisi W.A.A. Ibrahimiy yang menyiratkan hal-ihwal seperti itu. Salah satunya seperti dalam “Taman Rusaifah”: mari disimak: Di taman Rusaifah / setiap orang berpakaian putih / datang dan pergi / datang mencari sahabat sejati / pergi membawa kekasih // Di taman Rusaifah / setiap napas menjadi berarti / seperti kata dalam puisi. Begitu pula dalam puisi lainnya, “Engkau, Dengarkanlah!”: Engkau, lihatlah / burung-burung terbang tanpa sayap / tanpa bulu tanpa kepak yang mengibas / ke angkasa menembus cakrawala / aku titipkan kata kata pada mereka. Bukankah penggunaan simbol ‘kekasih’ dan ‘burung’ (Simurgh) adalah hal yang lazim dalam puisi sufi?

Hanya saja, kalau harus ada yang disayangkan, adalah adanya ketidakberimbangan antar-masing-masing ulasan (interpretasi), misalnya interpretasi dari Bapak Taufiq Ismail yang terlalu pendek. Memang, pendek tidak berarti wadag dan demikian pula sebaliknya: panjang tidak berarti dalam. Masalahnya, yang demikian itu hanyalah perkecualian. Biasanya, jika kita lihat berbagai rujukan interpretasi dan tafsir, kecenderungannya adalah lebih banyak/panjang daripada yang ditafsiri sebab tugas interpreter adalah “menjabarkan”, yaitu membantu pembaca memberikan sudut baru dalam memahami teks meskipun tidak harus selalu sama dengan perspektif dan pemahaman pembaca. Coba perhatikan interpretasi Taufiq Ismail untuk puisi “Bayan Alif” yang hanya terdiri dari satu kalimat saja: “Kehidupan sebagai rentetan aksara diselami oleh sang penyair dengan teliti dan sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan semesta harus dibaca terus tak henti-henti”.

Tokoh-tokoh sufi dan pendiri tarekat banyak yang menulis puisi (sebut saja Maulana Rumi). Imam-imam mazhab pun begitu, seperti Imam Syafii dan Imam Malik dengan diwan-nya). Ilmuwan Islam bahkan nyaris semuanya saintis cum penyair, seperti Umar Al-Khayyam dan Syihabuddin Ahmad bin Majid dan banyak lagi. Dan yang perlu dicatat, puisi-puisi yang ditulis itu bukanlah puisi perihal kegusaran cinta atau lirik tentang kegalauan dan kesendirian, melainkan mengantung tema  profetik. Bahkan, Ibnu Malik yang menyusun Alfiyah, nazam tentang ilmu tatabahasa itu, sempat-sempatnya menyelipkan unsur sufisme untuk contoh-contoh gramatikanya.

فَارفَعْ بِضَم وَانْصِبَنْ فَتْحَا وَجُرْ#كَسْرا كَذِكْرُ اللَّهِ عَبْدَهُ يَسُر

Jadi, mengapa masih ragu menempuh jalan pencarian jatidiri lewat puisi?

BERIKAN KOMENTAR

M Faizi

Blogger, penulis biasa, jarang menerbitkan karyanya di koran.

Jalan Ini, Jalan Puisi Seorang Kiai

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF