Gerak Zaman dan Upaya Menjadi “Bodoh”

Konsep dan imajinasi kebangsaan diakui atau tidak belum dapat mengikat sepenuhnya di antara para pemeluk agama untuk menganggit keragaman kebudayaan.


Sejarah bukanlah benda mati. Ia selalu diwarnai dengan  dinamika dan perubahan besar di tiap gulir zamannya. Pada pemahaman  historiografis klasik, perubahan-perubahan yang tak dapat dihindari itu  selalu menampilkan seorang aktor dengan kesadaran lintas batas agama dan  kebudayaan serta kemampuan multi dimensi yang membangkitkan ghirah dan partisipasi publik.

Aktor semacam ini—sebagaimana pernah disitir oleh Abdul  Munir Mulkhan—bisa dikatakan sebagai sosok yang melampaui ambisi pribadi  bahkan nyaris tak memiliki sama sekali kepentingan personal ketika ia  meleburkan diri di tengah-tengah publik dan menyatukan diri dengan suara  zamannya. Kehadirannya kerapkali berada dalam suatu ukuran kategorisasi  diluar publik, Helap (Baca: Bahasa Madura) dan aneh pada  mulanya. Dalam bahasa Abdul Munir Mulkhan adalah sosok yang melampaui  publik, yakni super publik.

Personifikasi semacam ini tentu tidak asing bagi literatur kita, dalam bahasa lain ia dapat disebut sebagai “Insan Kamil”dalam term sufistik dan Übermensch dalam konsep filsafat Nietzche. Meski baik keduanya, Insan Kamil maupunÜbermensch memiliki perbedaan konsepsi yang cukup mendasar.

Sosok semacam ini, meminjam bahasa Gus Abbas Katandur (kiai dan budayawan Pamekasan) merupakan sosok “lentera yang mencari kegelapan”. Sosok yang pada umumnya dilahirkan dalam suasana chaos.  Ketika publik mengalami suatu kesenjangan eksistensial dan kecemasan  akut akan zaman yang berpusing dalam pusaran konflik dan problematika  yang tak menemu ujung; yang mampu menembus batas gelap dan  bayang-bayang.

Agama-agama samawi memberikan kita cerminan yang sangat  besar dalam hal ini. Sebagaimana pernah disitir Kiai Musleh Adnan (Ulama  dan Muballigh Pamekasan) dalam suatu gelaran tabligh budaya “Ngasango: Ngaji Sambil Ngopi” di Pamekasan, Madura, bahwa sosok-sosok para nabi merupakan sosok tauladan yang dapat menjadi cerminan sosok yang“jumeneng” dalam  waktu dan kondisi perubahan zaman yang tak ramah. Laksana ikan di  lautan yang bertahan dalam gelombang tanpa tercemari asin lautan,  kualitas keberimanan yang meliputi kesadaran dan keteguhan batin yang  dimiliki para Nabi justru merubah orbit perubahan pada suatu pembebasan  spiritual yang total.

Seiring berkembang dan meluasnya kesadaran dan partisipasi  publik terhadap laju politik lokal, regional bahkan nasional, konteks  kebangsaan kita belakangan ini cukup mencemaskan. Era pasca-reformasi  yang merupakan era keterbukaan dan demokrasi, negeri yang dikenal  sebagai Jamrud Khatulistiwa dan memiliki keanekaragaman budaya  dan negeri sejuta masjid, terancam oleh suatu disentegrasi multi  sektoral. Negeri yang dikenal dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, rupanya  merupakan sarang teroris, negeri korup, pabrik pil setan dan kerap  diwarnai dengan aksi-aksi persekusi bahkan berujung pada kekerasan atas  nama agama.

Konsep dan imajinasi kebangsaan diakui atau tidak belum  dapat mengikat sepenuhnya di antara para pemeluk agama untuk menganggit  keragaman kebudayaan. Berkembangnya laju informasi dan media sosial yang  pesat, kelimpahruahan kekayaan material, kesalehan ritual dan  reproduksi intelektual rupanya bukanlah suatu jaminan semangat  kebangsaan dan penghayatan keagamaan dapat menyemai kesadaran  kemanusiaan dan keakraban antar warga negara.

Kita memang tak dapat melakukan simplifikasi atas  persoalan-persoalan di atas sebagai murni persoalan agama. Setiap  peristiwa memiliki latar dan motif yang beragam, bahkan kepentingan  pendek semacam politik praktis dapat menjadi hulu soal yang paling laten  dan rentan. Sayangnya, katakanlah sebagai misal, pihak penguasa lebih  mudah melihat hal ini sebagai suatu gejala agama dengan melontarkan  himbauan-himbauan yang justru meyudutkan posisi para pemeluk agama.

Ketika aksi persekusi bahkan kekerasan terhadap para pemuka  agama dan ulama yang terjadi belakangan ini, sangat jarang sekali kita  dapati suatu penjelasan konfrehensif kecuali bahwa ini merupakan soal  antar penganut agama, bukan soal sosial-ekonomi sebagai titik dasar  sebagai permisalan. Bahkan, hal ini justru diterangkan dalam suatu  konsepsi absurd di mana para pelaku kekerasan terhadap pemuka agama yang  terjadi merupakan ulah “orang gila.

Terdapat suatu peperangan interpretasi di antara para  pemuka dan pemeluk agama yang tak pernah mencapai titik klimaks,  benturan ini mengerucut menjadi suatu pertarungan ormas keagamaan yang  meresahkan. Menciptakan suatu atmosfir ketegangan yang mudah  diselewengkan oleh para pihak pemilik kepentingan yang ingin  memanfaatkan chaos publik sebagai batu loncatan pemenangan.  Parahnya, para pemilik kepentingan ini juga pandai memainkan  interpretasi agama dengan mencuatkan konflik dan persinggungan agama ke  permukaan.

Dibutuhkan suatu upaya peletupan kesadaran keagaamaan yang  lebih pejal dan cukup luas untuk menampung keberagaman sekaligus  mengkerdilkan kepentingan praktis sesaat. Agama (katakanlah agama  samawi) tak satu pun di antaranya yang membenarkan aksi-aksi persekusi  dan kekerasan, ini tentu kita sadari.

Hanya saja persoalan menjadi lain ketika kita gemar  menggunakan tafsir-tafsir skriptural agama untuk membangun suatu ego  komunal yang hendak melindas interpretasi lain yang lebih lunak terhadap  kebudayaan. Tema-tema kebudayaan dalam khasanah diskursus Islam bukan  hanya tema yang tidak populer, namun juga kerap disalahpahami. Fenomena  semacam ini, ditegaskan oleh Abdul Munir Mulkhan sebagai suatu implikasi  dari sistem teologis yang “ragu” memberi kepercayaan pada daya kreatif  manusia sebagai pencipta kebudayaan.

Tiap-tiap itikad kebudayaan sebagai suatu proses ijtihad  kemanusiaan dalam melakukan penghayatan atas keberadaanNya dianggap  berakhir seiring usainya risalah kenabian. Bahkan dianggap sebagai suatu  hal yang menggerus dari kesempurnaan Islam itu sendiri. Ketakutan—jika  tak dikatakan sebagai kekerdilan mental—menghadapi arus  liberalisasi-kapitalis Barat membuat sebagian kelompok amat protektif  bahkan cenderung memaksakan kehendak interpretatifnya.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan historis  bagaimana Islam masuk ke Indonesia salah satunya melalui jalur  kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dari jejak-jejak dakwah Sunan Bonang,  Sunan Kalijaga dan para kaum sufi tarekat. Kesenjangan ini banyak  diakibatkan oleh suatu anggapan bahwa Interpretasi nyaris disamakan  dengan kemutlakan kebenaran setara wahyu, ini mengakibatkan  pengkristalan Ilmu Fiqih dan Kalam pada suatu tafsir skriptural yang  kaku dan mengenyahkan sama sekali wahyu kontekstual; yakni jagad raya  dan fakta dari alur sejarah itu sendiri yang telah dipaksa mati.

Sebuah angin kecil yang segar telah lahir ketika “Ngaji Sambil Ngopi: Nganggit Jiwa, Ngolah Pikir” dengan semangat “Belajar Sampai Bodoh” digelar  baru-baru ini di Pamekasan, Madura. Sebuah forum yang digagas oleh para  kiai muda dengan melibatkan banyak tokoh mulai dari pemuka agama,  aparat dan masyarakat umum, dengan mengedepankan solidaritas dan  keguyuban, penghadiran kembali nilai-nilai kebudayaan dan sufisme. Ini  diharap menjadi suatu katalisator antara problematika di tataran bawah  terhadap konteks dan isu-isu nasional—terutama berkenaaan dengan laku  dan penghayatan agama.

Hal ini dianggap penting untuk menjembatani suatu arus  deras pembangunan ekonomi-budaya dan sosial masyarakat berjalan seiring  dengan kesadaran dan pembentukan spritual maupun intelektual. Pada suatu  era keterbukaan informasi ini “Butterfly Effect” bukanlah hal yang mudah kita hindari, namun mesti direspon dengan suatu daya adaptasi maupun improvisasi yang “khusyu’”untuk mengolah potensi chaos justru sebagai persemaian kerukunan dan lentera dari pencerahan kebudayaan.

Sebagaimana dalam terma Hujjatul Islam,Imam Ghazali: Kebenaran laksana seekor gajah yang dipegang oleh beberapa orang buta. Tentu  setiap kelompok memiliki interpretasinya sendiri dan kebenaran  persepsinya, hal ini merupakan suatu keinsyafan bahwa tak ada kebenaran  mutlak selain datang daripadaNya. Setiap interpretasi pada akhirnya  dilihat sebagai suatu kenisbian, sebatas itikad manusia mencapai  ridhaNya.

Kita telah tiba pada suatu gerak zaman, meminjam istilah Cak Nun “ketika kebenaran justru dipertentangkan dengan kebenaran”.  Ketika kita sibuk mencari pembenaran interpretatif terhadap penghayatan  agama untuk saling mencegal dan menjatuhkan kelompok lain. Itu  sebabnya, pemilihan tasawuf sebagai suatu kajian pokok dalam acara rutin  bulanan “Ngaji Sambil Ngopi”  diharap dapat mendadarkan  pemahaman dan laku asketik di mana “kebenaran interpretatif” dapat  terlebih dahulu diimplementasikan dalam akhlak personal ditimbang  dipertentangkan menjadi konflik horisontal yang memecah persatuan.

Sebagaimana diwartakan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, sebab “Perang terbesar adalah perang melawan (nafsu dan ego) kita sendiri”. Sehingga  lepas dari kenyataan persoalan horisontal yang terjadi belakangan ini,  setidaknya kita tidak menjadi generasi yang menunggu “godot” dalam upaya  menciptakan perdamaian yang dimulai dari diri pribadi, saat ini dan  detik ini juga. 

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Pegiat budaya. Menulis esai dan catatan lepas serta semacam puisi. Sesekali juga melukis. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Gerak Zaman dan Upaya Menjadi “Bodoh”

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF