Evolusi Dakwah: Era Rasulullah hingga Teknologi Informasi

Hemat penulis, metode dakwah itu tidak kaku dan stagnan, ia dapat terus berkembang mengikuti perkembangan zaman...


Dakwah (Arab: دعوة‎, da‘wah; “ajakan”) adalah setiap kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Dr Fawaizul Umam, M.Ag (dosen pasca sarjana di IAIN jember) dakwah sejatinya adalah praksis komunikasi, melaluinya islam dikomunikasikan.

Secara sederhana, dapat kita pahami bahwa dakwah merupakan media komunikasi penting bagi da’i (penyeru) sebagai pelanjut Nabi dalam menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam kepada seluruh lapisan masyarakat sebagai mad’u (obyek dakwah). Dakwah merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad Saw dalam firman Nya :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS An Nahl : 125).

Dari masa ke masa dakwah mengalami transformasi dan dinamika yang tak linear. Pada masa Nabi dan Sahabat sebelum Tadwinul Qur’an dan hadits (kodifikasi qur’an dan hadits) dakwah lebih terkonsentrasikan dengan metode dakwah bi al-lisan (ceramah dan orasi) dan bi al-haal (suri tauladan).

Pada masa tersebut dakwah digalakkan dengan mengirim juru dakwah ke luar daerah, misalnya Nabi pernah mengutus Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin jabal ke Yaman. Namun ketika masa Tabiin terutama masa kejayaan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, ekspansi ke daerah tetap dilanjutkan, namun pada masa tersebut dakwah mulai merambah ke dalam bentuk tulisan. Lahirnya metodologi fiqh yang awalnya digagas oleh Abu Hanifah (80 H-150) di Irak dan Imam Malik bin Anas (96 H-179 H) di Madinah, bisa dijadikan permisalan.

Imam Malik menulis kitab Muwattha’ yang sampai hari ini tetap menjadi rujukan dalam bidang hadist dan fikih. Setelah itu bermunculan penulis-penulis kitab yang karyanya sampai sekarang menjadi rujukan penting khazanah pemikiran islam sehingga muncul sebuah ungkapan bahwa “tinta para ulama” lebih berharga daripada darah para syuhada.

Baca Juga:   Surga dan Neraka, Siapa yang Paling Berhak ?

Saat ini kita hidup di era yang berbeda dari sebelumnya, maka setiap individu maupun institusi bahkan organisasi sosial keagamaan harus memiliki banyak strategi agar dapat berkiprah. Tanpa melakukan adaptasi dan strategi yang sesuai dengan jamannya,  bisa jadi akan ditinggal ummat.

Generasi saat ini seringkali disebut generasi milenial  menurut hasil riset yang dirilis PEW Researh Center. Generasi kini memiliki keunikan dibandingkan generasi sebelumnya, di antara yang paling mencolok adalah soal penggunaan teknologi informasi. Kedekatan mereka dengan budaya populer dalam hal musik, misalnya.

Lebih spesifik dalam konteks keindonesiaan hal yang sama juga terjadi. Hasil survei yang dilakukan Alvara Research Center tahun 2014 menunjukkan generasi yg lebih muda, 15-24 tahun lebih menyukai topik pembicaraan yg terkait music serta film, olahraga dan teknologi. Sementara generasi yang berusia 25-34 tahun lebih variatif dalam menyukai topik yang mereka perbincangkan, termasuk di dalamnya sosial politik, ekonomi dan keagamaan.

Konsumsi internet penduduk kelompok usia 15 – 34 tahun juga jauh lebih tinggi dibanding dengan kelompok penduduk yg usianya lebih tua. (Hasil wawancara wartawan AULA dengan HASANUDDIN ALI, beliau adalah CEO and Founder Alvara Research Center, Ketua Litbang PP GP Anshor 2015-2019).

Dengan demikian, dakwah di era ini kian memiliki tantangan tersendiri. Tidak hanya dalam materi dakwah yang akan disampaikan tapi juga menuntut seorang Da’i agar luwes dan tidak gagap dalam menggunakan sarana dakwah, terutama sekali potensi positif teknologi. Para Da’i seakan dituntut harus bisa masuk dan berselancar ke dunia maya yaitu dunia ghaib tapi nyata semisal media sosial; facebook, instagram, youtube, twitter dan media sosial lainnya seperti televisi.

Baca Juga:   Revolusi Media (Sosial) dan Legitimasi Keulamaan

Namun, hal ini bukan berarti tanpa resiko. Setiap gelanggang dakwah memiliki tantangan dan hambatan-hambatan yang mesti diamini dan dilampaui. Tak sedikit kalangan bisa dikatakan sangat mudah nyinyir dalam melihat upaya dakwah di media sosial. Hal ini bisa setidaknya dapat disebabkan beberapa faktor.

Pertama, kredibilitas keilmuan dan kesalehan.  

Dakwah di media sosial merupakan dakwah yang tak mengenal batas struktur sosial dan semua nilai dapat dengan mudahnya bercampur-baur. Hal ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan yang dimilikinya. Kondisi ini, di sisi lain memang tak dapat dipungkiri lahir ustaz dadakan yang hanya bermodalkan copy-paste dan kutap-kutip sana-sini.

Masih lekat dalam ingatan kita peristiwa salah tulis salah satu Ustazah dalam siaran dakwah di Metro TV yang kemudian menjadi viral. Banyak kalangan menyayangkan hal ini, baik dari kalangan santri, akademisi bahkan ulama.

Kini seorang da’i mesti memiliki banyak prasyarat dan keluwesan berpikir. Tak hanya kesalihan dalam dunia nyata, keluasan wawasan agama yang mumpuni sebagai prasyarat utama namun juga sebagai pelengkap adalah kemampuannya untuk beradaptasi dalam memahami tuntutan dan pola masyarakat yang terus bergeser.

Syaratnya mudah, ada yang mengundang! Itu saja. Syarat ini tidak sembarangan, dengan artian ada suatu bentuk kepercayaan dari publik dan dai, dari dai untuk publik, melengkapi. Itu sebabnya pada umumnya dai pada dasarnya melewati suatu bentuk tataran yang tak hanya keilmuan namun lebih penting juga, kredibilitas di tengah publik masyarakatnya.

Kedua, motif dan disangsikannya keikhlasan.

Kekhawatiran tersebut tidak bisa dibantahkan karena memang kenyataannya saat ini banyak sekali para dai dadakan, siapapun dapat semerta-merta menjadi juru dakwah. Terutama sekali di sosial media, hal ini menciptakan kebingungan yang tak terbendung di masyarakat.

Menurut KH. M Chalil Nafis, Lc, Ph.D (Ketua komisi dakwah MUI Pusat) standar dasar seorang dai itu setidaknya menguasai ilmu agama, seperti tafsir dan fiqh. Karena menurut beliau dai yg tidak paham fiqh khilafiyah dan tafsir-tafsir Qur’an akan membuat gaduh dan kesmrawutan. Dikarenakan pemahaman yang kurang, kaku dan harfiah, miskin refrensi akan menimbulkan sikap sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit kafir.

Baca Juga:   Hantu Kegetiran dalam Kebudayaan Kita Kontemporer

Patut direfleksikan, bahwa keikhlasan tak mudah diukur dan kita sematkan kepada seseorang. Keihlasan memiliki tiga tingkatan:

1. Melakukan ibadah semata-mata berharap ridha Allah karena melaksanakan perintahNya dan mengabdi kepadaNya (derajat tertinggi).

2. Melakukan ibadah karena ingin balasan di akhirat (derajat tengah)

3. Melakukan ibadah karena ingin kemuliaan di dunia dan selamat di dunia (derajat yang paling bawah).

Untuk meyakinkan pembaca saya tulis teks aslinya yang dinukil dari kitab “Siraj at-Thalibiin” Juz 2 hal 359:
ومراتبه ثلاث : علياه وهي أن يعمل لله وحده إمتثالا لأمره وقياما بحق عبوديته ووسطى وهي أن يعمل لثواب الأخرة ودنيا وهي أن يعمل للإكرام في الدنيا والسلامة من أفاتها وما عدا ذلك رياء (سراج الطالبين ص ٣٥٩ الجزء الثاني).

Hemat penulis, metode dakwah itu tidak kaku dan stagnan, ia dapat terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, agar materi dakwah (ajaran islam) bisa tersampaikan kepada semua lapisan masyarakat. Itu sebabnya, media sosial, teknologi dan alat lainnya hanyalah sarana, layaknya pisau ia sangat bergantung dari cara kita menggunakannya.

Maka penulis sangat berbahagia kini ada Ustaz Abdul Shomad dan KH. Mustofa Bisri, untuk menyebut beberapa misal yang aktif merambah media untuk menyapa, dekat dan menyampaikan ajaran-ajaran islam yang tentunya berpijak kepada ajaran Ahlussunnah wa al- jama’ah.

Karena setidaknya, bila orang yang mumpuni dalam agama (faqih) hanya mencukupkan diri berdakwah di dunia nyata saja maka dunia maya akan diisi oleh orang-orang yang minim pengetahuan agama, akhirnya banyak orang terutama generasi milenial ini bingung menangkap fakta dan kebenaran yang hanif. Wallahu A’lam.

BERIKAN KOMENTAR

M Musleh Adnan
Muballigh Madura yang kini menetap di Pamekasan. Disayang dan menyayangi masyarakatnya.

Evolusi Dakwah: Era Rasulullah hingga Teknologi Informasi

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF