Ekspresi Musikal, Spiritualitas dan Anasir Keindahan

Jalan terbaik adalah jalan beragama dengan cara mengintegrasikan dan mensinergikan antara "lirik syariat" dan "musikalitas hakikat".


“Andaikan agama warisan Nabi ini diterjemahkan menjadi alunan nada,

mestilah ia seperti pagelaran musik yang indah nan akbar” (anonim)

Ide tulisan ini muncul di saat mendengarkan lagu Slank berjudul “Terlalu Manis”. Saya lalu menulis seadanya berbekal perangkat smartphone dengan spec sederhana keluaran China. Untung ada aplikasi “keep“, jadi lebih mudah ngetiknya. Tak masalah bagi saya biarpun hp ini produk asing; produk yang suka dilaknat oleh kalangan anti-kapitalis yang rajin demonstrasi sambil nge-share aksi mereka lewat Twitter. Jelek-jelek gini, ia menyimpan banyak amunisi penting berformat pdf.

“Terlalu Manis” usai kemudian disusul “Tut Wuri Handayani”, lagu Slank yang lain. Melalui headset, alunan bas terdengar kuat menyemprot lubang telinga. Ngomong-ngomong, ada banyak lagu yang enak didengar. Liriknya juga menggugah. Aransemen instrumental-nya mengajak kepala bergerak ekspresif. Ritme-nya manthuk-manthuk, bisa juga geleng-geleng tergantung selera pendengarnya. 

Tak sedikit lagu yang memiliki lirik yang “serius”, mudah dipahami, namun “mendidik”. Inspiratif juga. Betapa lagu, meski sekilas remeh, sering menjadi pengantar yang baik menuju dimensi lain yang mencerahkan. Bukankah Gusti Allah maha memberi-petunjuk, termasuk melalui wasilah lagu?
 
Di belantika musik Indonesia, lagu-lagu yang liriknya serius kebanyakan merupakan produk lama. Konten liriknya beragam. Yang paling signifikan bagi saya adalah lirik lagu yang menyuarakan kritik sosial. Biarpun terdengar cadas,  idealisme bisa cukup kentara mengucur deras di sela-sela lengkingan gitar elektrik dan dentuman bas serta drum-nya.

Coba simak lirik “Tut Wuri Handayani” berikut: 

“Anak muda harus sekolah, gak boleh menganggur.

Untuk bekal di masa depan, biar tua gak jadi preman”

Baca Juga:   Kisah Khaulah Binti Tsa’labah dan Turunnya Surah Al-Mujaadilah

Moralis ‘kan liriknya? Ditambah musik yang “heroik” dan penuh semangat. 

Lirik mendadak nylethas saat lagu dengan pedas mengritik kahanan realitas:

“Loncat pager bolos.

Kantin tempat nongkrong.

Di kelas ngerokok, no no no!

Sahabat di-klepto.

Patungan nge-DO. Di WC kepergok, no no no!” 

Cukup. Lirik-lirik lagu yang “realis” seperti di atas bisa dipahami dengan baik dan inspiratif, sekaligus empatik dan memprihatinkan. Akan tetapi, lirik tetaplah lirik. Ia tak lebih dari sebaris kalimat “moralis” yang menyampaikan suatu pesan tertentu. Lirik menjadi menarik, mempengaruhi kejiwaan, menyentuh akar psikis, dan bahkan mendorong orang berekspresi hingga goyang-goyang karena satu hal: iringan musik. 

Maka, sebuah lagu menjadi asyik dan menarik ketika ia merupakan integrasi dan kombinasi antara lirik dan iringan instrumen musik. Hal ini mirip dengan aspek lahiriah dan aspek batiniah dalam ajaran agama kita. Ada level syariat yang berdimensi lahiriah, ada juga level yang lebih ruhaniah dengan dimensinya yang berupa kedalaman batin.

Syariat merupakan sebentuk kebijaksanaan pada satu aspek, yakni lahiriah. Sementara pada aspek yang lain, agama memiliki inti batin yang menghuni kesadaran spiritual seseorang. Oleh karena itu, keberagamaan seseorang dipengaruhi oleh bagaimana ia meletakkan dua aspek kebijaksanaan yang berbeda tersebut sesuai takarannya masing-masing.

Seperti halnya juga lagu. Suatu lirik memang cukup mudah dipahami dan diterima pesan moralnya oleh akal sehat. Namun demikian, ia akan kurang menyentuh aspek psikis, apalagi dimensi batin, serta nyaris tak melibatkan kesadaran terdalam ketika ia hadir tanpa iringan musik. Padahal, jika kita jujur, iringan musiklah yang membuat hati kita tersentuh hingga tersenyum sendiri, atau bahkan berkaca-kaca. 

Baca Juga:   LGBT: Ketika Seruan Nabi Luth Tak Lagi Didengar!

Agama mirip alunan lagu. Tanpa “lirik” syariat, ia tidak bisa dipahami oleh akal sehat. Tanpa laku syariat yang jelas alurnya, kebijaksanaan ajaran Nabi sangat mungkin mati dan gagal berdialektika dengan nalar manusia. Beruntung, berkat interpretasi para ulama, “lirik” syariat menjadi klop dengan tuntutan ke-masuk-akal-an manusia. Sementara tanpa “iringan spiritual”, agama seperti halnya lirik kaku nan garing tanpa irama yang kosong alias tanpa makna. Seperti tubuh tanpa ruh; bangkai belaka. 

Saat dipadukan dengan dimensi spiritual, agama menjadi bersifat estetis dan mengandung anasir keindahan. Ajaran lahiriah tentang “ibadah sebagai cara meraih surga dan menghindari neraka” menjadi merdu dan indah saat dilekatkan pada dimensi spiritual. Di sinilah para sufi memainkan peran layaknya musisi. “Aku menyembah-Mu karena cinta, bukan karena kepengen surga atau takut neraka”, kata sufi perempuan Rabi’ah al-Adawiyyah serta Jalaluddin Rumi “

Di tengah bisingnya keberagamaan formalis yang tanpa ruh, kita seperti hidup dalam kehampaan makna. Begitu dangkalnya agama direkayasa oleh oknum pemeluknya hingga sedemikian mudah ia dipolitisir. Inilah ambivalensi sisi lahiriah “lirik” agama: ia membuka dialektika dengan nalar, tapi di saat yang bersamaan membuka kemungkinan pada intervensi kepentingan dan kuasa. Hasilnya, agama tak cukup kebal dari upaya dimanfaatkan hanya untuk membenarkan nafsu angkara sebagian pihak. Bahkan, ajarannya dijerumuskan dalam rangka melegitimasi penindasan.   Fenomena itu tak ubahnya orang yang gagal menyanyikan-kembali “lagu” gubahan Tuhan.

Padahal, pada skala universal, Tuhan menggelar simphoni “musik kosmik” maha besar ini menggunakan “kaidah-kaidah musikal” yang tak main-main. “Tidaklah Aku ciptakan alam semesta ini sebagai kesia-siaan”. Ya, “musik besar” kosmik ini ibarat lagu yang aransemen-nya jauh dari sembarangan.  

Begitu juga saat Dia mewahyukan kebijaksanaan-Nya kepada Nabi yang diawali dengan alunan intro amat merdu; “Bacalah! dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan”. Hingga “Lagu Merdu” ini selesai digubah sempurna, sejarah umat manusia menjadi pagelaran orkestra besar di mana kita “menari dan menyanyi” mengagungkan nama ilahi. 

Sayangnya, tak semua manusia mampu memahami “not dan nada” ilahi. Kebanyakan kita masih meraba “alat-alat musik” pemberian Tuhan. Pun juga, kita cenderung gagal memahami komposisi dan liriknya. Itu masih ditambah betapa sumbangnya suara sebagian kita dalam menyanyikan-kembali “lagu sakral” ajaran kenabian. Salah-tafsir terhadap teks wahyu dan salah-paham antar sesama terjadi di mana-mana. Akhirnya, bukannya pagelaran musik, agama dan keberagamaan justeru menjadi arena tawuran. 

Oke. Kita perlu menarik diri dari kebisingan dan kembali kepada simphoni indah-Nya. Tak hanya syariat, kita perlu juga mengikatkan diri kepada hakikat. Hanya dengan kembali mengintegrasikan dua aspek lahir-batin itulah, kita menemukan kembali merdunya “nyanyian” keberagamaan. Lalu, kitapun sadar bahwa selama ini, kita tak ubahnya sekadar berjoget di tengah ruwetnya kebisingan; awur-awuran, sumbang dan sembarangan. 

Jalan terbaik adalah jalan beragama dengan cara mengintegrasikan dan mensinergikan antara “lirik syariat” dan “musikalitas hakikat”. Pada titik integratif inilah, ajaran kebijaksanaan ilahiah menjadi rasional bagi akal sehat, praktikal dalam perbuatan nyata, sekaligus ekspresif secara ritmik dan dinamis dalam kesadaran batin spiritual kita.

Baca Juga:   Bâu Santri dan Santri Bâu

Pertanyaannya: bagaimana dan di mana titik bermula-nya?

Sumber: Ilustrasi

BERIKAN KOMENTAR

Ekspresi Musikal, Spiritualitas dan Anasir Keindahan

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF