“Dzikir Aqli dan Dzikir Qalbi” Mendidik dan Membentuk Akhlak Mulia

Dengan prinsip "faidza faraghta fanshab" bila kamu telah selesai menyempurnakan suatu urusan maka buatlah dan sempurnakan hal yang lain.


Sebagai orang tua, kita sangat merasa puas saat anak kita meraih prestasi akademik yang cemerlang. Hal tersebut mendorong kita untuk mendidik anak-anak agar mendapatkan nilai sempurna atau sangat baik saat ujian.

Walhasil, tidak cukup di sekolah, anak-anak dikutkankan latihan tambahan seperti kursus atau les agar mampu menjawab ujian dengan baik. Kini, pendidikan  lebih diarahkan  bagaimana menjadi anak pintar pelajaran daripada berakhlak mulia. 

Saat anak tak pandai matematika kita galau, tak pintar teknologi kita  gusar. Tapi anak kita suka berbohong kita santai, suka mengejek kita tak  risau bahkan suka mengambil hak orang lain kita juga tak mau tau.  Sungguh raport dengan nilai tinggi telah menjadi tujuan, dan akhlak pun dikesampingkan. 

Fenomena di atas tak lepas karena pergeseran  orientasi pendidikan. Orientasi pendidikan yang berkata bahwa sukses  bagi mereka yang menempuh pendidikan formal dengan baik tak peduli bagaimanapun akhlak mereka. Belakangan ini pun kita mudah menjumpai  mereka yang pandai berorasi juga pandai mencaci, pandai strategi politik  juga pandai mencuri dan seterusnya.

Pertanyaannya, Bagaimana  mendidik anak agar berprestasi akamedik cemerlang dan juga berakhlak mulia? Adakah lembaga pendidikan yang menerapkan cara tersebut?

Menanamkan Akhlak Dengan Akal Yang Berfikir Dan Hati Yang Berdzikir

Baca Juga:   KH. Hasyim Zaini: Meneladani Kasih Sayang Nabi

Mendidik tak sebatas bagaimana anak menjadi pintar dan berprestasi  secara akademik. Mendidik adalah mengisi setiap sisi anak sebagai  manusia, akal diisi dengan pengetahuan, hati diisi dengan dzikir begitu  juga fisik dilatih dengan berbagai kegiatan olahraga. 

Jadi,  pandai dalam berbagai pelajaran di sekolah hanyalah salah satu jalan  menuju tujuan pendidikan anak. Maka, salah jika mendidik hanya  berorientasi melahirkan anak pintar dengan berbagai pengetahuan yang  diajar di sekolah. 

Ingatlah bahwa tujuan mendidik ialah  bagaimana anak menjadi manusia yang baik. Baik bagi diri sendiri, bagi  keluarga, tetangga, lingkungan dan seluruh manusia. Membentuk  manusia yang baik seperti dijelaskan di atas haruslah melalui pendidikan  yang menyeluruh. Tidak hanyak otak yang didik, tapi juga akhlak  diperbaiki. 

Akhlak terpuji sendiri merupakan hasil dari akal  yang senantiasa berfikir dan hati yang berdzikir. Sebagaimana dijelaskan  oleh Kiai Muhamad Aunul Abied Shah seorang pakar filsafat islam dan  ilmu tasawwuf, ia menjelaskan bahwa dzikir itu dua macam dzikir aqli dan  dzikir qalbi. Buah dari pengamalan dzikir aqli dan dzikir qalbi adalah  amal kebaikan baik dalam bentuk akhlak terpuji ataupun ibadah yang  sempurna.

Dzikir aqli yakni akal yang selalu berdzikir dengan  bertafakkur akan keagungan Allah SWT dan maslahat manusia. Dzikir qalbi  adalah hati yang tak pernah lepas dari mengingat Allah SWT. Benar, bila  keduanya sebab lahirnya amal kebaikan. Karena akal dan hati yang selalu  diisi dengan keagungan Allah SWT akan selalu menampilkan perbuatan  terpuji. 

Baca Juga:   Mengutamakan Teladan: Memposisikan Anak sebagai Anak

Artinya, pendidikan dengan orientasi akal yang  cemerlang dan akhlak yang mulia harus diawali dengan keseimbangan dalam  mendidik. Dari awal, akal dan hati harus selalu bersamaan diisi dengan keagungan Allah SWT. Penyakit-penyakit akal dan penyakit hati tidak akan  pernah menghinggapi akal dan hati yang selalu berdzikir dengan  keagunganNya.

Kemudian, adakah lembaga pendidikan dengan sistem  pendidikan yang menerapkan hal di atas bagi para pelajarnya. Tentu ada  bahkan banyak, diantaranya adalah Pondok-Pondok Pesantren. 

Pondok Pesantren Membentuk Santri Berfikir Cerdas dan Berakhlak Mulia

Pondok Pesantren adalah tempat para santri dididik oleh para ustadz dan  kiai. Sistem pendidikan yang diterapkan dimulai dari tidur hingga tidur  kembali, para santri dididik dengan berbagai aktifitas yang beragam.  Setiap detik yang dilalui oleh santri haruslah bernilai belajar,  beribadah dan berlatih. 

Beragam kegiatan tersebut seperti shalat  jamaah, dzikir jamaie, tahlilan, shalawatan, mengaji kitab,   musyawarah, sekolah formal, bela diri, sepak bola,  basket, bulu  tangkis, pecinta alam, pramuka, palang merah, teater, kelompok bahasa,  redaksi Majalah dan kajian-kajian ilmiah.

Baca Juga:   Mengenang Guru Kita: KH. Abd. Mannan Fadholi (PP. Miftahul Qulub, Galis, Pamekasan)

Demikianlah Pondok  mendidik para santri. Mendidik santri tidak saja untuk pandai mengaji  dan pandai pelajaran sekolah tapi juga pandai mengisi seluruh elemen  raga dan jiwa.

Dari itu, ramai para santri saat sibuk mengasah  akal, hati mereka tetap berdzikir. Ya, karena amalan-amalan pengisi hati  dan aktifitas ilmiah pengisi akal selalu diterapkan secara seimbang  bahkan secara bersamaan. Demikianlah pondok pesantren membangun karakter  santri yang berpikir cerdas dan berakhlak mulia.

Dengan prinsip  “faidza faraghta fanshab” bila kamu telah selesai menyempurnakan suatu  urusan maka buatlah dan sempurnakan hal yang lain. Santri selalu  bergerak penuh semangat dan dinamis. Walau demikian, santri dengan hati  yang telah terdidik dan selalu tertaut dengan dzikrullah akan tetap  mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.

Sebagaimana Dr Wahbah  Al-Zuhaili dalam tafsir Al-Muniir menjelaskan maksud ayat yang dijadikan prinsip di atas “ketika kita selesai dengan berbagai urusan dunia maka  bersunguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa kepada Allah SWT”.

Demikianlah pendidikan pondok pesantren yang selalu menerapkan dzikir  aqli dan dzikir qalbi. Dengan harapan, akan lahir banyak generasi yang  berilmu luas dan berakhlak mulia.

BERIKAN KOMENTAR

Muwafik Maulana
Alumni Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Pendidikan lainnya di tempuhnya di Universitas Al-Azhar, Mesir dan INCEIF, The Global University of Islamic Finance. Kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Economic and Muamalat di Universiti Sains Islam Malaysia - USIM.

“Dzikir Aqli dan Dzikir Qalbi” Mendidik dan Membentuk Akhlak Mulia

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF