Donald Trump, Preman di atas Preman

Trump sepertinya sudah tidak punya rasa takut. Jika diibaratkan preman, Trump patut disebut sebagai preman di atas preman.


Sudah tahu akan membuat ribut orang sejagad, Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih saja memindahkan Kedutaan Besarnya untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerussalem. Kota kuno yang dianggap suci bagi tiga agama abrahamik yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.

Trump sepertinya sudah tidak punya rasa takut. Jika diibaratkan preman, Trump patut disebut sebagai preman di atas preman. Karena Trump tidak hanya akan dimusuhi orang se pasar jika ia sebagai preman pasar, tapi Trump akan digebuk oleh orang sejagad. Maka dari itu, saya akui Trump punya nyali dan keberanian tinggi ketika terus maju dengan kebijakannya. Trump gila.

Pada Rabu (6/12) di Gedung Putih, Trump secara resmi mengumumkan kebijakan pemerintahannya yang mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel. AS juga sedang menyiapakan kepindahan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerussalem.

“Sudah waktunya mengakui Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel,” kata Trump, dikutip dari CNN.

Trump jemawa atas kebijakannya itu karena dianggapnya sebagai pemenuhan janji kampanyenya yang tak pernah diwujudkan oleh presiden-presiden sebelumnya.

Alih-alih mendapat dukungan, Kecaman justru mengalir dari berbagai pemimpin negara  setelah Trump mengumumkan kebijakannya secara resmi. Berikut pemimpin-pemimpin negara yang mengecam kebijakan Trump ada Presiden Indonesia Joko Widodo, Perdana Menteri Inggris Theresa May, Raja Yordania Abdullah II, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Baca Juga:   Ekspresi Keberagamaan Muslim Kelas Menengah

Masih banyak lagi ada Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi, Presiden Prancis Emmanuel Marcon, Pemimpin Besar Iran Ali Khamenei dan yang jelas menentangnya ada Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Tak lupa lupa pemimpin tertinggi umat Katolik Paus Fransiskus juga ikut mengecam Trump.

Kecaman-kecaman itu jelas bukan tanpa alasan. Ada pertimbangan yang sangat penting mengapa kebijakan Trump harus ditolak. Pada umumnya mereka menginginkan terciptanya perdamaian. Sebab kebijakan Trump itu dinilai akan melahirkan konflik besar dan tak berkesudahan.

Pemimpin-pemimpin negara di atas bukan orang asing lho bagi AS. Sebut saja Jerman dan Inggris, dua negara yang selama ini dikenal sebagai sahabat dekat negeri Paman Sam itu. Tapi dengan terbuka kedua negara itu mengecam keras Trump.

Gerakan di akar rumput juga bereaksi keras atas kebijakan Trump. Berbagai organisasi masyarakat di Indonesia kompak menolak Trump dan mengutuk keras. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kamis (7/12) mengeluarkan pernyataan resmi mengecam keras kebijakan Trump. Organisasi masyarakat terbesar di Indonesia ini menilai kebijakan Trump akan membuat situasi dunia menjadi semakin panas dan mengarah pada konflik yang tak berkesudahan.

Baca Juga:   Tuhan, Agama dan Tragedi: Bagian I

“Sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerussalem merupakan ibu kota Israel merupakan suatu tindakan yang akan mengacaukan dan merusak perdamaian dunia,” kata Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini dalam pernyataannya.

PBNU berpendapat Yerussalem bukanlah ibu kota Israel melainkan ibu kota Palestina. Kebijakan Trump disebut berpotensi meluasnya pelanggaran terhadap prinsip hukum humaniter. PBNU akan melakukan berbagai langkah ke depan untuk menekan kebijakan Trump tersebut seperti konsolidasi dengan organisasi-organisasi Internasional. PBNU juga mendesak pemerintah Indonesia dan OKI agar proaktif memberikan tekanan kepada Trump.

Selain PBNU, Muhammadiyah, Al Irsyad, Syarekat Islam dan organisasi masyarakat lainnya juga mengecam Trump. Mari kita doakan semoga Trump hilang keberaniannya, kegilaannya. Dan mencabut kembali kebijakan yang membuat geger sejagad raya ini.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menolak keputusan Trump. Menurutnya kebijakan tersebut adalah bentuk agresi provokasi dan radikalisme yang nyata.

Baca Juga:   Ekspresi Keberagamaan Muslim Kelas Menengah

Ketua Umum Syarikat Islam dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva berpandangan bahwa kebijakan Trump bertentangan dengan hukum Internasional dan berbagai resolusi Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hamdan menyebut kebijakan Trump provokatif yang dapat menimbulkan ancaman bagi perdamaian dunia.

Tapi jujur saya kurang begitu yakin Trump akan mencabut kebijakannya itu jika tidak ada langkah kongkrit dari dunia Internasional. Misalnya mengembargo politik ataupun ekonomi  kepada Amerika Serikat. Kalau hanya lobi-lobi rasanya saya kurang yakin Trump akan melunak. Kecuali sekali lagi Trump hilang keberanian dan kegilaannya.

Bukan Trump rasanya jika tidak kontroversial. Sejak mencalonkan diri sebagai presiden AS ke-45, pria kelahiran 14 Juni 1946 di New York itu banyak pernyataan-pernyataannya yang menyulut api kebencian. Seperti janji kampenyenya yang akan membangun pagar untuk membatasi imigran masuk ke AS jika terpilih.

Menang sebagai calon presiden, Trump seperti mendapatkan legitimasi bahwa kontroversialnya diamini oleh banyak orang. Itu sebabnya dia terpilih sebagai presiden mengalahkan Hillary Clinton. Itu mungkin yang membuat Trump hingga kini merasa nyaman-nyaman saja, seenak jidatnya mengumumkan kebijakan kontroversialnya.

BERIKAN KOMENTAR

Donald Trump, Preman di atas Preman

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF