Dibegal, Diklitih atau Diklitik-klitik?

Klitih kini juga identik dengan perbuatan melukai incarannya dengan benda-benda tajam seperti pisau, gir, pedang, dan sebagainya.


Kosa kata klitih atau klithih akhir-akhir ini sedang naik daun di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kata klitih telah diidentikkan dengan aktivitas segerombolan orang atau remaja yang melukai atau melumpuhkan orang dengan kekerasan.

Ironisnya, kata Klitih kini juga identik dengan perbuatan melukai incarannya dengan benda-benda tajam seperti pisau, gir, pedang, dan sebagainya. Bahkan, bukan hanya melukai, baru-baru ini didapati juga korban yang mengalami kematian.

Perbuatan klitih atau ngelitih ini sangat meresahkan warga Yogyakarta, terutama di malam hari. Polisi pun gencar memburu para pelaku klitih. Biasanya, klitih tidak bermotif merampas barang dan uang dari korban atau incarannya, namun lebih bermotif dendam dan bahkan wujud penegasan eksistensi diri.

Klitih sering menyasar orang yang tidak dikenal yang kebetulan saja sedang mengendarai sepeda motor di jalan yang relatif sepi. Pelaku klitih layaknya seperti gerombolan remaja psikopat yang haus darah, sehingga merasa puas ketika membuat orang lain terluka, bahkan menghilangkan nyawa.

Baca Juga:   Jalan Ini, Jalan Puisi Seorang Kiai

Menurut para orang tua atau sesepuh yang paham bahasa Jawa/Yogyakarta, sebenarnya kata klitih awalnya tidak bermakna negatif seperti yang ditemukan saat ini di media-media. Klitih merupakan sebuah kosa kata dari bahasa Jawa yang mempunyai arti sebuah kegiatan seseorang yang keluar rumah di malam hari, sekedar mencari angin segar yang tanpa tujuan.

Ada juga yang mengartikan, kegiatan orang yang keluar atau jalan-jalan pada malam hari mencari makan di suatu tempat karena lapar. Jika dialihbahasakan ke kosa kata bahasa Indonesia bisa disamaartikan dengan kata keluyuran pada malam hari.

Keluyuran tanpa alasan jelas atau mencari makan itu merupakan bukan kegiatan yang negatif. Bila keluar malam itu sudah merugikan orang lain seperti melakukan kekerasan, melukai, mencuri, dan merampok, maka itu merupakan memasuki makna yang negatif.

Berbeda dengan suku kata begal, meskipun sama melukai incarannya, namun lebih bermotif ekonomi. Begal dalam kamus KBBI berarti penyamun. Membegal dapat diartikan juga dengan merampas atau menyamun di jalan.

Baca Juga:   Ashtiname, Prasasti Perdamaian Rasulullah (Bagian 1)

Beberapa waktu lalu perbuatan begal banyak bermunculan di Ibukota Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), sehingga warganya dihantui rasa was-was. Para begal kebanyakan muncul pada malam hari dan merampas barang seperti motor, tas, dompet, perhiasan, dan sebagainya.

Begal dan klitih sama-sama melakukan kekerasan dan melukai korbannya, hanya saja motif atau tujuannya yang berbeda. Pelaku klithih identik dengan remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA, pemuda labil yang sedang mencari dan mengukuh jati diri, sementara pelaku begal bukan hanya remaja namun juga orang dewasa.

Cukup menarik bila melihat fenomena di Yogyakarta dan di Jabodetabek tersebut. Sama-sama melakukan kriminalitas dengan melukai korbannya, tetapi tujuannya berbeda.

Jakarta dan sekitarnya yang menjadi pusat pemerintahan ditakuti-takuti oleh segerombolan penyamun di jalanan, sedangkan di Yogyakarta yang terkenal sebagai kota budaya dan pendidikan ditakut-takuti oleh segerombolan remaja berdarah dingin yang siap melukai siapa saja.

Baca Juga:   Adakah Seni Preeet? Karena Preeet adalah Preeet itu sendiri!

Semacam ada pergeseran makna serta penyelewengan ramai-ramai kata klitih. Media-media di Yogyakarta pada khususnya, sudah terlanjur memakai kata klitih untuk perbuatan kriminal yang masuk dalam katagori penganiayaan berat (Anirat) tersebut.

Sehingga, kepala kepolisian Kota Yogyakarta sempat menyarankan agar kata klithih hendaknya dikembalikan ke makna asalnya kemudian diganti dengan suku kata Anirat. Namun, nasi sudah menjadi bubur, media-media lokal di Yogyakarta maupun nasional tetap memakai kata klitih terkait tindak kriminal yang banyak terjadi akhir-akhir ini.

Entah siapa atau media mana yang memunculkan penegatifan kata klitih untuk pertama kali. Pada kenyataannya, kata klitih merupakan suatu fenomena bahasa yang seiring sekaligus menjadi korban keganasan maupun tumbal dari tindakan remaja yang haus eksistensi, menegaskan kedudukan di atas lawan, dan tentu saja balas dendam antar remaja.

BERIKAN KOMENTAR

Arif K. Fadholy
Jurnalis kelahiran Lombok Timur (NTB), yang saat ini tinggal di Bantul (DIY).

Dibegal, Diklitih atau Diklitik-klitik?

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF