Betapa (Tidak) Spelenya Soal Membuang Sampah

Meski malas untuk percaya, sebagian besar kita barangkali harus mengakui bahwa membuang sampah pada tempatnya memang masih mahal dan langka.


Sejak kecil, masing-masing kita barangkali telah mendapat pelajaran seputar membuang sampah. Buanglah sampah pada tempatnya, kebersihan sebagian dari iman, bersih itu cantik, bersih pangkal sehat dan semacamnya yang jamak ditemui di berbagai tempat umum, dinding kelas, kemasan produk, pelajaran PPKN, akhlaq, kampanye cinta lingkungan dan media lain.

Sayang, mungkin saja karena terlalu umum dan sering ditemui, imbauan mulya nan luhur tersebut jadi seperti angin lalu; sekadar mampir, terbaca, lalu jauh hilang tak ada. Sekian detik kemudian, tangan, kaki, bahkan mulut kita justru melakukan yang sebaliknya.

Ada beberapa alasan atau apologi untuk membuang sampah seenaknya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, kita cenderung berpikir sudah ada petugas atau piket yang mengurusi sampah. Jika sampah dibuang pada tempatnya, katakanlah tong sampah terdekat, maka yang bersangkutan terancam kehilangan jatah ‘pekerjaan’.

Kedua, sampah yang dibuang tidak seberapa sehingga tidak akan menyebabkan banjir apalagi kerusakan lingkungan. Ketiga, di area pribadi, sampah yang dibiarkan sembarangan akan diberesin ketika jadwal bersih-bersih tiba.

Keempat, toh orang lain di sekitar melakukan hal serupa, jadi membuang sampah seperti seharusnya, kalau akhirnya dilakukan, tidak akan banyak mengubah apa-apa.

Kelima, urusan sampah adalah hal spele dan masih banyak hal lain yang lebih penting dan berhak mendapat perhatian, porsi tenaga, waktu dan prioritas.

 Tentu saya berharap agar pikiran dan alasan nakal tersebut di atas hanya ada di kepala saya. Semoga pembaca tidak membenarkan apalagi memiliki item tambahan untuk melakukan—bahkan membenarkan—aksi buah sampah seenaknya.

Baca Juga:   Ketika Kita Masih di Zaman di Mana Sosial Menentukan Apa Pekerjaan Laki-laki dan Perempuan

Akan tetapi, tidakkah kita terbiasa dengan pemandangan sungai di bawah jembatan yang seakan menjadi Tempat Pembuangan sampah Akhir, puntung rokok yang dihempas begitu saja setelah menyuplai asap ke mana-mana, penumpang atau pengendara yang melempar botol air kemasan atau kulit jeruk sementara kendaraannya melaju, dan adegan-adengan serupa yang seakan menggambarkan betapa kita tak memiliki rasa bersalah setelah membuang sampah sesukanya?

Meski malas untuk percaya, sebagian besar kita barangkali harus mengakui bahwa membuang sampah pada tempatnya memang masih mahal dan langka. Kita menjadi sangat tidak selo untuk mencari tong sampah terdekat setelah menghabiskan sebungkus roti untuk mengganjal perut yang lapar.

Kita juga terlalu resik untuk menyimpan bungkus permen ke saku celana atau tas manakala belum menemukan tempat sampah. Kita terlalu tidak peduli dan nyaris tak memiliki rasa malu ketika membuang sampah sesukanya demi efisiensi waktu dan tenaga ketika diburu pekerjaan dan jadwal lain.

Padahal, kita bukan tak tahu bahwa kesudian meluangkan sedikit waktu untuk mencari tong sampah di tengah kesibukan dan rutinitas atau menyimpan terlebih dahulu sampah yang belum menemukan ‘rumah’-nya tak hanya menjanjikan reward berupa pemandangan yang indah, akan tetapi juga untuk kesehatan jiwa-raga bahkan pahala. Tapi, mengapa aktivitas ini tetap tampak mahal, eksklusif dan tak terjangkau bagi sebagian—besar—kita?

Sungguh, saya pribadi bukan tak ingin berhenti dan menghentikan kebiasaan atau semacam reflek tangan dan anggota tubuh lain untuk membuang sampah sembarangan. Meski sudah ada tempat sampah di mana-mana, entah mengapa membuang gelas bekas air mineral, bekas cotton buds, tissue yang sudah terpakai atau bungkus deterjen yang isinya sudah habis ke tempat sampah jadi tampak membuang-buang waktu dan ngoyoni sekali.

Baca Juga:   Mewujudkan Islam Ramah Bukan Marah-Marah

Saking mentog-nya, saya sempat berpikir bahwa membudayakan hidup bersih dengan membuang sampah—selalu—pada tempatnya adalah semacam mission impossible dan problem demikian ada di mana-mana; tidak hanya di tempat saya. Ternyata, baru mengunjungi satu negara tetangga saja, saya tahu bahwa asumsi itu bukan hanya salah dan keliru, akan tetapi juga konyol.

Saya begitu takjub melihat pemandangan yang—sejauh mata memandang—tak ada satupun sampah berserakan. Kalaupun petugas kebersihan tampak di beberapa titik, pekerjaan yang mereka lakukan tak jauh-jauh dari megepel lantai, menyapu abu dan debu atau menghimpun dedaunan yang gugur. Sampah plastik dan sampah rumah tangga tak tampak sama sekali dalam ‘garapan’ yang harus mereka selesaikan.

Berada di tengah-tengah mereka, meski tak lebih dari dua pekan, membuat saya mau tak mau ekstra berhati-hati dengan sampah yang saya punya. Bagaimana tidak, celingak-celinguk kanan kiri di manapun dan kapanpun, di tempat umum, area pribadi, bahkan di kendaraan, tak ada sampah yang terlihat. Ajaibnya lagi, setelah tak perhatikan, jumlah tempat sampah yang available tidak sebanyak yang saya temui di tempat saya berasal. Imbauan untuk menjaga kebersihan, membuang sampah seperti seharusnya dan yang semacamnya juga nyaris tidak saya temukan. Tapi, bagaimana mereka bisa setaat dan sedisiplin itu memperlakukan sampah?

Saya lalu mereka-reka dan memerkirakan, apa saja yang pantas, wajar dan mungkin menjadi alasan untuk mereka yang telah terbiasa atau saya yang akan membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya:

Baca Juga:   Pertanyaan (Teror) Ibu-Ibu Sebelum dan Sesudah Menikah

Pertama, seperti yang saya singgung di bagian sebelumnya, membuang sampah pada tempatnya adalah pesan otomatis dari otak yang mengirimkan perintah kepada tangan dan anggota tubuh lain untuk melakukan aktivitas tertentu. To be short, itu aktivitas reflek yang bermula dari kebiasaan dan latihan dalam waktu yang lama.

Kedua, kesadaran bahwa persoalan membuang sampah ini matters dan tidak patut dispelekan sehingga betapapun kecilnya tindakan diri sendiri, s/he stays on the right track. Ketiga adalah pengaruh lingkungan sekitar dan atau hukum sosial yang tak membolehkan urusan buang sampah dilakukan sembarangan.

Alasan-alasan lain yang mampir di kepala saya bermuara pada satu hal, yakni mental, mindset atau pandangan dunia yang mau tak mau berpengaruh terhadap tindakan. Barangkali tidak berlebihan jika kita tidak hanya bertanggungjawab terhadap pekerjaan, tugas kuliah, hutang janji maupun uang, jabatan atau komitmen dengan sahabat, keluarga dan pasangan. Sampah yang setiap hari kita produksi juga membutuhkan tanggungjawab kita untuk diperlakukan sebagaimana mestinya.

Sudah saatnya anak-anak kita dididik tak hanya untuk bisa membaca, menulis, berhitung atau mengaji Al-Qur’an, akan tetapi juga untuk membuang bungkus kudapan yang baru mereka tandaskan isinya ke tempat sampah, bukan ke udara. Sebab, selain persoalan membuang, memperlakukan dan memproduksi, yang tak kalah penting dari ‘interaksi’ kita dengan sampah adalah bagaimana dan sebagai apa kita memandangnya.

Sumenep-Pamekasan, in between 2017-2018.

Ilustrasi

BERIKAN KOMENTAR

Betapa (Tidak) Spelenya Soal Membuang Sampah

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF