Bersatulah Para Kreator Meme Sedunia, Selamatkan Tiang Listrik!

Jika Kau temukan hikmah di mana pun, maka ambillah, karena itu merupakan hak seorang mukmin. Bahkan jika hikmah itu datang dari tiang listrik?


Sudah lama saya menaruh curiga pada tiang listrik yang tegak di pertigaan jalan kampung saya. Dingin dan angkuh berdiri, ia tahan diterpa angin dan hujan, sendiri dalam kesunyian seperti makhluk yang tabah dan sedang merenung. Menatapnya lama-lama, apalagi di saat hujan turun, mengingatkan saya pada kesubtilan puisi (bukan istri), lembut sekaligus angker. 

Jika kau temukan hikmah di mana pun, maka ambillah, karena itu merupakan hak seorang mukmin! Bahkan jika hikmah itu datang dari tiang listrik? Ya! Silakan pura-puralah bertanya, hikmah macam apa yang bisa kita ambil dari tiang listrik, Saudara-saudara?

Pertama, tak ada yang lebih tabah dari tiang listrik. Sapardi saya pikir keliru, ketika dalam puisinya mengatakan; tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Oke, mungkin hujan memang tabah, tapi tetap tiang listriklah yang tetap berdiri hingga hujan mereda dan bumi kembali terik. Tak hanya tabah, ia juga tegar. 

Kedua, tiang listrik merupakan sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Tak percaya? Coba Saudara-saudara lihat kembali film Doraemon, Ultraman, Power Rangers, bahkan sampai ke melodrama Korea. Betapa banyaknya peran tiang listrik yang kita abaikan! 

Di film-film tersebut, kehadiran tiang listrik hampir selalu tak kita sadari. Pemuda-pemudi yang suka terjatuh dari cinta banyak-banyaklah berterima kasih pada tiang listrik sebab adegan sepasang kekasih yang kehujanan di bawah tiang listrik begitu banyak kita temukan di film-film romantis. Sayangnya, ia sekadar dan selalu dijadikan obat nyamuk dan pelengkap keromantisan yang hanya diabaikan. Tapi, apakah tiang listrik mengeluh? Tentu tidak, bahkan ketika ia tak dibayar oleh sang sutradara. 

Baca Juga:   Togog dan Wayangan Politik Era Jokowi

Tak ingatkah Saudara-saudara, betapa sangat mudahnya tiang listrik disalahpahami dan diperdaya? Banyak sekali adegan ceroboh dalam film dan komik kita yang memperlakukan tiang listrik secara semena-mena. Manusia-manusia super, para robot, monster bahkan dinosaurus, seenaknya saja mencerabut tiang listrik untuk menimpuk lawan! Dalam hal ini, tiang listrik beralih fungsi menjelma alat pembunuh dadakan dan jelas-jelas bukan sebagai alat membuat Bakpao. 

Itu sebabnya, saya tak terkejut amat ketika pertama kali mendengar bahwa sebuah tiang listrik tetap tegar berdiri setelah ditabrak-cium mobil Fortuner B-1732-ZLO yang secara kebetulan ditumpangi Papa Setnov di perjalanan silaturrahmi menuju kantor KPK. 

Ini tampaknya memang salah Fortuner. Mestinya ia tak membuat  Setnov tersesat arah hinga hampir seharian rakyat Indonesia resah karena khawatir kehilangan Bapak Ketua DPR RI tersebut. KPK pun heboh layaknya aksi MIB yang menggeruduk alien dari planet asing. Bahkan, layaknya film-film cowboy, sayembara berhadiahpun digelar. Upaya KPK menampilkan Setnov sebagai yang tersudut benar-benar ciamik.

Sumber: suara.com

Episode selanjutnya kemudian bisa ditebak. Meme-meme satir baru perihal Setnov dan tiang listrik tumbuh subur tak terbendung. Saya hanya khawatir jika semua drama ini selesai, tiang listrik yang tak punya salah pada NKRI dan Pancasila itu bakal menjadi tersangka percobaan pembunuhan. Wahai para kreator meme tiang listrik, please, kasihanilah tiang listrik!

Kita juga mestilah sadar, betapa besar jasa tiang listrik dalam melahirkan dan atau menyukseskan para pemimpin. Bagaimana tidak, tanpa ijin al-Mukarrom tiang listrik, dengan mudahnya kita menempel baliho-baliho  caleg, cabup cawabup, bahkan capres. Jika saja tak ada tiang listrik, barangkali para tim sukses akan memilih jidat kita semua sebagai cantolan. 

Baca Juga:   Pamor Pesantren Jombang (Bagian 1 dan 2)

Wahai segenap kreator meme yang jenius dan budiman…

Saudara-saudara mungkin sakit hati pada Papa karena sempat (sempatnya) melaporkan para pembuat meme dan memperlakukan kalian layaknya pelaku kriminal. Karya kalian dianggap dangkal, hanya bertujuan mencaci maki serta bukan bagian dari “seni”. Memang, banyak dari kita yang berpikir bahwa “gambar” adalah hal semelekete yang tak penting. Meski, mestinya kita tahu, meme atau kreasi gambar kritik lainnya bukanlah sekadar lelucon dan humor, akan tetapi merupakan bagian dari satire cerdas nan merakyat.

Sejarah tukang gambar memanglah cukup pahit dan itu dapat dipahami. Sudah sejak jaman bercokolnya Orde Baru, cergam (cerita bergambar), komik (strip) atau karikatur dianggap sebagai produk yang merusak generasi. Penerbitannya kerap dilarang dan tak boleh diajarkan atau dikonsumsi kalangan berpendidikan. Kemampuan gambar dalam menjelaskan hal rumit dalam sekali pandang dianggap hal berbahaya yang merusak tatanan. Akhirnya, komik Jepanglah yang diimpor. Adik, ponaan dan anak-anak kita lebih mengenal Doraemon, Dragon Ball, Sinchan, Naruto dan Monkey D Luffy daripada tokoh lokal semacam Si Buta dari Gua Hantu, Gundala Putra Petir, Panji Tengkorak, Jaka Sembung, atau Sawung Kampret.

Maka, mati surilah dunia kalian. Dan kini pula, siapa anak-anak atau adik-adik kita yang tak mengenal Upil (baca: Upin) dan Ipin, karakter animasi dari negeri tetangga? Siapa yang tak mengenal Kak Ros, kakak Upil dan Ipin yang cantik dan suka marah itu?

Baca Juga:   Bâu Santri dan Santri Bâu

Sejarah memang mencatat jelas bahwa mulai dari karikatur sampai komik (strip), kalian digusur. Karya kalian dianggap tabu, tak penting bahkan merusak (mental) generasi bangsa sehingga ia tak akan pernah menjadi materi kajian kesenian apalagi pendidikan. Ironisnya, itu semua terjadi karena karya kalian (dianggap) berpotensi membuat kita dicerabut dari mental budak menjadi mental bebas, dari otak butek menjadi otak para peragu dan pemimpi.

Meski demikian, berbanggalah, Saudara-saudaraku para kreator meme, makhluk jenius yang bekerja untuk bangsa ini. Melalui meme kalianlah politik zaman kini ditatar ketika puisi-puisi pamflet kehilangan Wiji Thukul dan Rendra, sedang Iwan Fals lebih banyak menulis lagu cinta. Di tangan kreatif kalian yang satire itulah, animo masyarakat terus dibangun untuk kritis dan waras. Mari move-on dari tiang listrik untuk menyasar objek-objek baru. Biarkan tiang listrik kembali tenang dengan kesendiriannya. 

Akhirnya, jikalau Papa bersalah, mari kita doakan untuk kesembuhannya agar ia segera dapat mempertanggungjawabkan apa yang mesti dipertanggungjawabkan. Sebagaiman kata Zulfikar (alias Bang Haji Roma), tak seorang pun dalam dunia, yang tak pernah berdosa

Dan yang tak kalah penting, sebagaimana diajarkan oleh Son Go Ku, Naruto, Ninja Hatori dan Ranger Merah, seorang patriot dan pahlawan sejati tak akan pernah menyerang musuh yang jelas-jelas telah kalah dan babak belur, bahkan ketika ia berpura-pura!

BERIKAN KOMENTAR

Hamdani

Selain melukis, menulis puisi dan esai. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Bersatulah Para Kreator Meme Sedunia, Selamatkan Tiang Listrik!

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF