Ashtiname, Prasasti Perdamaian Rasulullah (Bagian 1)

Hanya saja, sayangnya, Ashtiname belum sepopuler perjanjian-perjanjian tersebut sehingga masih banyak yang merasa asing begitu mendengar namanya.


Hal utama yang dijanjikan sejarah barangkali adalah ziarah ke masa lalu dan menikmati tiap jengkal bagiannya. Melewati dimensi waktu yang berbeda, seorang pembaca bisa mendapatkan tak hanya informasi, akan tetapi juga refleksi dan ‘bekal-bekal’ lain untuk kehidupan saat ini dan masa mendatang.

Sayangnya, yang kita nikmati dari sejarah cenderung parsial karena terbiasa mengonsumsi bagian-bagian  yang populer saja. Bagian lain yang belum banyak dibahas di literatur-literatur ‘umum’ menjadi tak tersentuh dan semakin jauh dari jangkauan.

Tulisan ini ingin menghadirkan tema yang belum banyak dikupas dalam literatur sejarah, utamanya di lingkungan pendidikan formal dan karya-karya Sirah Nabawiyyah Populer. Tema dimaksud adalah mengenai apa yang dikenal dengan sebutan Ashtiname, kata dari Bahasa Persia yang berarti buku perdamaian.

Kata ini bertalian erat dengan pernyataan formal resmi dari Rasulullah yang menegaskan perlindungan terhadap Umat Nasrani (Kristen) serta menyiratkan pola ideal hubungan antaragama. Menariknya, pernyataan tersebut disampaikan dengan bahasa yang tak hanya tegas berwibawa, akan tetapi juga begitu menyentuh dan menyejukkan empati kemanusiaan kita.

Baca Juga:   Tragedi Lapindo Peringatan Atas Keserakahan Manusia

Ashtiname¸ dalam beberapa hal, tidaklah berbeda dengan Perjanjian Hudaibiyah, Piagam Madinah dan peristiwa-peristiwa serupa yang mencatat bagaimana sikap dan perlakuan Islam terhadap kaum non-Muslim. Hanya saja, sayangnya, Ashtiname belum sepopuler perjanjian-perjanjian tersebut sehingga masih banyak yang merasa asing begitu mendengar namanya. Padahal, poin-poin perjanjian dalam Ashtiname memuat hal-hal detail yang sarat makna dan nilai serta amat kontekstual dengan kehidupan multikultur dewasa ini.

Sejarah dan Latar Belakang Ashtiname

Ashtiname yang dalam Bahasa Inggris kerap disebut dengan istilah Charter of Privilege dan ‘Piagam Anugerah’ dalam Bahasa Indonesia adalah peninggalan sejarah sekitar 625 M atau 4 H (sumber lain mencatat 628 M dan 2 H). Ia berisi beberapa point yang menegaskan perlindungan Rasulullah terhadap umat Kristiani serta imbauan agar umat Muslim menghormati serta memelihara hak-hak mereka.

Hal pertama yang menarik dari dokumen kuno ini adalah mata rantai transmisinya yang tidak hanya melibatkan Muslim seperti halnya hadis atau sunnah, akan tetapi juga melibatkan non-Muslim, utamanya Umat Kristiani. Sebuah sumber bahkan menyebut bahwa keasliannya begitu dijaga tidak hanya oleh para biarawan di St. Catherine—tempat yang men-display teks bersejarah tersebut pertama kali—, akan tetapi juga oleh Bangsa Arab di semenanjung Sinai. Biara St. Chaterine sendiri merupakan biara kuno di Gunung Sinai yang dibangun pada abad-abad awal Kristen (sebuah sumber bahkan menyebut biara ini sudah berdiri sejak zaman Nabi Musa).

Baca Juga:   Surat Terbuka untuk Alissa Wahid, Ketua Gusdurian Nasional

Sementara itu, latar berlakang ‘terbitnya’ dokumen tersebut, sejauh ini, diduga kuat berawal dari permintaan (para) biarawan di biara St. Catherine yang kemudian dikabulkan oleh Rasulullah. Kemungkinan tersebut masuk di akal dengan memertimbangkan data sejarah bahwa Ashtiname ditulis sekitar tahun keempat H ketika Rasulullah menjadi pimpinan agama sekaligus negara di Madinah. Sebuah sumber mengemukakan bahwa dalam salah satu perjalanan ekspansi ke semenanjung Arab dan Syria, Rasulullah singgah di Gunung Sinai dan bertemu salah seorang teman lamanya yang menjabat sebagai biarawan St. Catherine.

Konon, sebelum masa kenabian, sang biarawan pernah meramalkan bahwa Muhammad, kenalan barunya ketika itu, akan menjadi pemimpin besar. Karena itu, ia diminta berjanji untuk memberi ‘perlindungan’ terhadap kaum Kristiani, khususnya ‘jama’ah’ biara tersebut. Muhammad mengiyakan permintaan tersebut dan ketika kembali bertemu dengan sang biarawan beberapa tahun kemudian, ia mebayar janjinya. Ia meminta bantuan Ali dan mendiktekan isi Ashtiname dan membubuhkan cap tangannya (lima jari) setelah menyelupkannya ke dalam tinta. Alipun menulisnya dengan aksara Arab style Khufi di atas kulit rusa.

Baca Juga:   Tuhan, Agama dan Tragedi: Bagian I

Meski demikian, ada juga yang meragukan atau menemukan ‘kejanggalan’ dalam proses rekonstruksi sejarah di balik dokumen ini mengingat pada tahun-tahun pertama Hijriyah, wilayah kekuasaan Islam belumlah terlalu luas dan belum menjangkau Mesir. Pada waktu yang sama, Mesir berada di bawah kekuasaan Heraclius. Dugaan demikian patut dikaji ulang dengan memertimbangkan bahwa apa yang dilakukan Rasulullah adalah sebuah pemenuhan janji, sedang permintaan dari pihak biarawan berkait dengan ramalan akan kejayaan Islam di masa mendatang.

Sumber ilustrasi: dhakatribune.com

BERIKAN KOMENTAR

Ashtiname, Prasasti Perdamaian Rasulullah (Bagian 1)

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF