Akar Rumput

Yang seharusnya diperintah justru memerintah, yang seharusnya memerintah justru diperintah!


“Di kota Timika, Papua, saat ini situasinya sangat tegang. Situasi  ini terjadi setelah masyarakat akar rumput melakukan aksi tutup Freeport  tanggal 20 Maret 2017, yang kemudian dilanjutkan dengan dilakukannya  konsolidasi basis masyarakat akar rumput untuk rencananya akan lakukan  aksi 7 April 2017. Ancaman kepada aktivis di Timika meningkat pasca  mencuatnya aksi tutup Freeport kedua mencuat di publik Timika dan Papua  secara umum.”

Paragraf di atas merupakan paragraf pertama dari  sehampar tulisan bertajuk “Info Terkini dari Papua”, yang diunggah tujuh  bulan lalu oleh seorang kawan di Facebook. Tak lama kemudian, kawan  saya yang lain, menyambar lalu menyebarkan tulisan tersebut di akun  Facebook dan di beberapa grup WhatsApp.

Dalam paragraf tersebut, frasa idiomatis akar rumput tertulis dua kali. Tentu saja, penyebutan akar rumput tidak hanya  pada tulisan itu saja, tapi seringkali dan mungkin akan terus kita  lihat atau kita dengar pada narasi atau informasi apa pun yang berkaitan  dengan rakyat maupun masyarakat. Entah siapa yang memulai  penyebutannya, entah siapa yang menciptakannya pertama kali. Frasa  idiomatis ini telah menjadi kesalahan yang kaprah atau kekaprahan yang  salah dalam cara berbahasa kita. Begitulah, frasa idiomatis sekaligus  problematis ini sangat familiar dan dengan mudah diucapkan siapa saja,  terutama apabila berkaitan dengan nasib rakyat.

Baca Juga:   Al-Muhibbun Al-Buasa': Jalan Seni ataukah Jalan Sufi?

Kemafhuman yang miris ini membuat saya semakin geram ketika frasa idiomatis akar rumput  terlontar dari seorang pemegang kebijakan atau pejabat negara;  lebih-lebih media massa, peneliti, atau—mereka yang menyebut dirinya  sebagai—kaum intelektual. Untuk pemegang kebijakan atau pejabat negara:  dengan mengucap atau menulis akar rumput, mereka tampak  semakin mengamini tindakan atau kebijakan-kebijakannya, yang lebih  sering menyepelekan kepentingan rakyat serta merebut hak-haknya dengan  cara korupsi atau melakukan skandal-skandal lain yang sangat merugikan  rakyat dan negara. Sedangkan media massa, peneliti, atau kaum  intelektual: dengan mengucapkan atau menulis akar rumput, menandakan hilangnya sikap kritis (dan semoga bukan empati!) dari diri mereka.

Kesalahan yang kaprah atau kekaprahan yang salah semacam ini pun, misalnya, terdapat pada kata pemerintah. Secara pribadi, saya lebih setuju apabila sebutan pemerintah diganti pada pelayan rakyat atau pelayan masyarakat.
Pemerintah bermakna  tukang perintah, atau minimal berkonotasi sebagai seseorang atau  sekelompok orang yang status sosio-kultural sekaligus mentalnya berada  di atas. Ini ambigu. Bukankah mereka adalah pelayan masyarakat? Bukankan  para pemimpin, baik di sektor eksekutif, legislatif maupun yudikatif di  negeri ini diangkat atau dipilih untuk menjadi pelayan atau pembantu  rakyat? Sesungguhnya, siapa yang atasan dan siapa yang bawahan? Siapa  sebenarnya yang berhak memerintah: mereka atau rakyat?

Baca Juga:   Revolusi Media (Sosial) dan Legitimasi Keulamaan

Ketidakjelian  dalam berbahasa atau kecerobohan dalam menggunakan kata(-kata) ini  membuat kita akhirnya rabun dalam memandang tugas masing-masing: yang  seharusnya diperintah justru memerintah, yang seharusnya memerintah  justru diperintah. Dan pada akhirnya, ketidakamanahan atau  kesewenang-wenangan dalam menggunakan jabatan pun terus berlangsung.

Setiap kata, frasa, atau idiom punya konsep, punya “ideologi”. Saat  kita mengucapkan satu kata, satu frasa, atau satu idiom, saat itu pula  kita sedang melepas sebuah konsep tertentu pada objek tertentu yang  sedang kita bahasakan. Rakyat, atau masyarakat, akan terus diinjak-injak  apabila frasa idiomatis akar rumput ini masih disematkan padanya.

Dengan ikut-ikutan mengucapkan frasa idiomatis akar rumput,  pada dasarnya, secara langsung kita sedang merelakan rakyat atau  masyarakat untuk terus diinjak-injak; baik haknya sebagai warga negara,  lebih-lebih harga dirinya sebagai manusia.

Baca Juga:   Evolusi Dakwah: Era Rasulullah hingga Teknologi Informasi

Oh, betapa alangkahnya!

BERIKAN KOMENTAR

Akar Rumput

Choose A Format
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Image
Photo or GIF